| Naik Gunung Bersama Teman Teman |
Prolog
Dalam kegelisahanku terhadap kehidupan yang adsurb ini aku mencoba untuk mencoba menyikapi dengan cara yang terbaik, belajar dari kitab tassawuf hingga buku filsafat saya pelajari, dari belajar di pesantren hingga belajar di diskusi filsafat aku datangi. Kata Opik, "Kuat Jiz, kuat, bisa Jiz, bisa" itu yang sering dia, katakan. Lumayan lah untuk menghibur diri dikehidupan yang absurd ini.
Aku melihat Khoirul hari ini, saya merasa heran atas kedatangan si Choirul di Sunkencourt, aku kira dia pergi ke Lumajang dengan bang Tarjo hari ini. Namun ternyata Choirul tidak jadi berangkat ke Lumajang untuk berziarah ke makam kancil yang dibunuh saat menjadi aktifis di daerah pertambangan
Seperti biasanya kita membahas sesuatu tentang kehidupan ini, dan seperti biasanya dia sibuk memainkan Dota yang ada di dalam laptop yang dia mainkan.
Tiba tiba di Sunkencourt (tempat mangkal anak unit di ITB), seseorang datang mengajakku untuk naik Gunung, dengan sangat aneh aku menerima ajakan itu karena mungkin itu bisa mengobati sakitku terhadap keabsurbdan kehidupan ini.
Eits, aku mulai dulu dengan siapa itu Bang Tarjo (Senartogok) dan Choirul Mutaqin, mereka berdua adalah seorang filsuf di sunkencourt. Iyah, apa itu filsuf sebenernya akupun sebenernya aku masih belum mengerti namun kata mereka berdua aku merasakan kecewa karena aku belum begitu menyelami kehidupan ini, iya makanya aku kelihatan stres. Dari pernyataanya Bang Choirul dan Bang Tarjo aku memahami bahwa pernyataan mereka itu mirip dengan pernyataan Ibnu Atha'ilah As Sakandari dalam kitab nya Al-Hikam,
Artinya :
Tanamlah wujudmu didalam tanah yang dalam karena tanpa ditanam buahnya tidaklah sempurna ketika dipanen.
Kalimat itulah yang membuat saya sedikit terhibur dengan kehidupan yang adsurb ini. Menurut tafsiran saya tentang kalimat Ibnu Athailah dalam kitab Al Hikam tersebut adalah kita harus mendalami diri kita hingga yang terdalam sebelum kita bisa menuai kebahagiaan.
Tiba tiba di Sunkencourt (tempat mangkal anak unit di ITB), seseorang datang mengajakku untuk naik Gunung, dengan sangat aneh aku menerima ajakan itu karena mungkin itu bisa mengobati sakitku terhadap keabsurbdan kehidupan ini.
Takdir
Sebelum berangkat aku dan Choirul mendiskusikan beberapa hal yang menarik tentang kehidupan ini. Karena aku gelisah aku membaca banyak banyak kitab tassawuf yang pernah aku singgung dalam tulisan tulisan sebelumnya. Hingga aku menemukan kalimat yang membuatku agak menerima keabsurbdan takdir ini yaitu kalimat yang dilontarkan oleh @Hikam_Athai di twitter. "Bahwa kehidupan ini merupakan ketentuan yang terbaik."Eits, aku mulai dulu dengan siapa itu Bang Tarjo (Senartogok) dan Choirul Mutaqin, mereka berdua adalah seorang filsuf di sunkencourt. Iyah, apa itu filsuf sebenernya akupun sebenernya aku masih belum mengerti namun kata mereka berdua aku merasakan kecewa karena aku belum begitu menyelami kehidupan ini, iya makanya aku kelihatan stres. Dari pernyataanya Bang Choirul dan Bang Tarjo aku memahami bahwa pernyataan mereka itu mirip dengan pernyataan Ibnu Atha'ilah As Sakandari dalam kitab nya Al-Hikam,
![]() |
Tanamlah wujudmu didalam tanah yang dalam karena tanpa ditanam buahnya tidaklah sempurna ketika dipanen.
Kalimat itulah yang membuat saya sedikit terhibur dengan kehidupan yang adsurb ini. Menurut tafsiran saya tentang kalimat Ibnu Athailah dalam kitab Al Hikam tersebut adalah kita harus mendalami diri kita hingga yang terdalam sebelum kita bisa menuai kebahagiaan.
