Laman

Selasa, 01 Desember 2015

Lelaki Lemah#2 : Kontemplasi di Wonosobo

Batu akik dikasih Buya

Interlude

Sebelum nya saya berharap tulisan ini bisa bermanfaat buat anda yang tengah depresi menghadapi takdir dan kehidupan yang terlihat absurd ini. Cerita ini saya buat untuk membantu anda mengurangi kesedihan yang berkaitan dengan takdir dan kehidupan. Ambil hikmahnya jika dikira tidak cocok dengan anda tidak usah dipaksakan. 

Kemarin saya telah kehilangan harapan atau dalam konteks yang lebih ilmiah disebut sebagai putus asa. Saya pernah mendengar ceramah dari Ustadz Yusuf mansur bahwa jika kita putus asa dan berniat untuk bunuh diri, hendaknya perbanyak amal ibadah seperti sholat, puasa, sodaqoh, maupun berdo'a. Karena saya mulai menyerah dengan keputus asaan saya, akhirnya saya coba anjuran dari ustadz Yusuf Manshur tersebut, saya membeli racun babi dan kemudian menshodaqohkan sebagian uang saya. Rencana saya hanya untuk formalitas terhadap apa yang dikatakan oleh Yusuf Manshur, sekalian mencoba cara bunuh diri terbaik, jadi seengganya saya bunuh diri akibat ilmu Tauhid. Itulah pembenaran saya.

Saya berpuasa hari itu. Rencana nya saya akan mengkonsumsi racun babi itu pada saat buka puasa. Namun beberapa menit sebelum buka puasa. Buya (panggilan Pak Kiyai) mengirim pesan untuk meminta saya datang ke Wonosobo. Dalam benak saya, saya masih memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk memberikan takdir beberapa hari lagi.

Main

Iya, saya sampai di Wonosobo, namun susana lain terlihat, rasa depresi saya menghilang. Saya tidak tahu mengapa. Tapi memang pembawaan Kabupaten Wonosobo yang tenag dan sejuk meredakan kesedihan dikepala saya. Akhirnya saya menyadari bahwa saya kurang hiburan, alias terlalu stres di kota karena saya melihat banyak ketidak jujuran orang. Dengan sering menampakan kebaikkan-kebaikkan mereka namun mereka sering menafikan diri mereka yang sebenernya terjadi. Itulah yang mengakibatkan saya merasa gerah di kota. 

Setelah berbincang-bincang dengan Buya saya mencoba untuk pulang, namun saya meluapakan dompet yang saya letakan di kamar tamu. Saya mengingat hal tersebut setelah sampai di alun alun, dengan tidak membawa uang sedikitpun. Saya putuskan kembali ke pesantren, namun setelah saya sholat ashar di jalan. Hujan deras turun dan saya belum bisa pulang. Sambil merengek saya menghujat takdir saya.

Hujanpun mulai reda. Saya terus melakukan perjalanan ke pesantren dengan jalan kaki sekitar 2 km. Di jalan tiba-tiba hujan deras, dan saya terpaksa berteduh di dalam masjid. Ternyata masjid tersebut adalah masjid yang pernah aku singgahi dan aku sholat disana setahun yang lalu saat aku masih di pesantren. Sambil berteduh saya merenungi apa yang terjadi, dalam benak saya "Jika Tuhan menyayangi saya, mengapa Tuhan memberikan keinginan kepada saya tentang sesuatu yang tidak aku dapatkan." hal tersebut merujuk pada takdir yang aku alami. Namun itu juga dipicu aku yang ingin pulang, namun Tuhan membuatku lupa sehingga aku harus berjalan kaki dan kehujanan pada jarak lebih dari 2 km. Sambil jalan aku terus memaki takdir ini, namun saat ditengah perjalanan aku memahami kata-kata Buya yang tadi disampaikan. "Hidup hanyalah menunggu mati, santai saja lah. Syukur yang diinginnin terwujud kalau tidak juga ndak papa.", pada tulisan sebelumnya aku menulisakan bahwa "Kehidupan memang harusnya begitu.". Hidup memang sudah indah dengan takdirnya. 

Tentang Eksistensi 

"Kak Aziz sering mikirin hal-hal yang tidak penting", itulah kata si Dudu. Memang benar sih, arah kontemplasiku terkadang tidak penting. Namun ketidakpentingan itulah sebenernya hal yang menggaggu aku. Namun itulah yang membuatku semakin memerulakan kedalaman dalam memahami kehidupan ini. Mungkin dahulu Isaac Newton dianggap tidak penting memikirkan buah apel yang jatuh. Einstein dianggap tidak penting memikirkan tentang konsep dilatasi. Namun sekaran menjadi konsep yang sering diperbincangkan oleh para Physician. Itulah mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Athailah, "Barang siapa yang menanam tidak pada ditanah yang dalam, maka buanyapun tidak akan sempurna." maknanya barang siapa yang tidak melakukan kontemplasi yang mendalam, seseorang tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Tapi, saya semakin mendalami bahwa yang hidup itu hanyalah Tuhan, hal ini saya argumentasikan dari tulisan di atas bahwa dunia memang seharusnya seperti ini. Ini sebenarnya adalah dialektika Tuhan, yang mencoba berdialektika ke saya bahwa dialah satu-satunya yang ada. Dan mencoba memaksa saya menyerahkan segala yang aku miliki kepada dirinya. Dialektika ini sering diterjemahkan oleh orang sebagai bentuk keputus asaan total. Tapi inilah yang menunjukan bahwa "La haula wala kuwata ila billah" itu benar, jadi terkadang kesulitan yang besar membuat kita semakin mendalami hakikat Tuhan dengan lebih mendalam.