![]() |
| Kelinci |
Tak disangka
akhirnya setelah berkontemplasi lama, Project Argasoka dilanjutkan.
Kali ini ada yang menarik, bibit cabai yang saya bawa dari Wonosobo
niatnya akan saya bagikan kepada masyarakat di desa saya. Harapannya
sederhana, semoga saja ini membantu mengurangi beban mereka untuk
bisa membeli cabai. Tapi sebenarnya yang saya lawan dari ini adalah
sikap apatisme terhadap teman sekitar desa.
Iyah, saya kembali
ke desa saya dan dalam keadaan lumayan lelah. Ilmu yang saya bawa
dari Wonosobo, coba saya terapkan di sini. Teringat tentang kisah
Ustadz Yasin yang mencoba untuk melayani seluruh warga santri seorang
diri. Namun hal itu memberikan pelajaran kepada saya tentang makna
keikhlasan. Lagi pula dalam tulisan yang dibuat oleh Muhaji Fikriono,
dia menyatakan bahwa keikhlasan adalah kebebasan tertinggi. Lah,
karena saya pecinta kebebasan saya mencoba mengkombinasikan pemikiran
Muhaji Fikriono dan Ustadz Yasin, sehingga munculah Project Argasoka
ini.
Namun hal aneh
memang sering terjadi, kali ini orang yang saya kasih bibit dan
polybaag tidak mau menanam bibit cabainya. Padahal tinggal masukkin
tanah sama pupuk. Namun hal yang menarik saya temukan sebelum itu,
saya punya tetangga yang rajin bekerja namun hidupnya pas-pasan, dan
ada yang malas bekerja namun hidupnya berkecukupan. Keterlemparan ini
membuat saya tertarik untuk mengkontemplasikannya pada tulisan kali
ini.
Banyak orang yang
bekerja, asal dia bekerja, asal menggugurkan kewajibannya. Ada yang
bekerja asal ada uang yang dia dapatkan. Namun ada bekerja yang penuh
dengan antusias dan keistiqomahan. Pemikiran diatas, dalam dugaan
saya adalah sebuah pemikiran yang muncul dari sifat instanisme
terhadap hasrat yang muncul. Yang ditampilkan dalam benak mereka
munkin bagaimana cara untuk mendapatkan kekayaan secepat-cepatnya
sehingga dia menilai hasil akhir itu terlalu berlebihan, dan
melupakan proses yang dilalui. Seperti tetangga tadi, seandainya saja
dia melihat bahwa jika dia memanfaatkan bibit yang saya kasih dan
menanamnya dengan istikomah mungkin itu bisa berbuah dengan manis.
Lumayan jika harga 1 kg cabai minimal 15 ribu, yang jika itu dipanen
tiap hari bisa menutup pengeluarannya untuk makan keluarga.
Tapi dari kejadian
itu saya menemukan permasalahan sosial yang melanda masyarakat
Indonesia, yaitu sikap instanisme. Sifat itu membuat orang melakukan
apapun untuk hasil yang baik, dan melupakan prosesnya. Maka dari itu
masyarakat Indonesia kurang terlatih untuk bisa menghadapi situasi
secara berseni.
