Laman

Minggu, 27 Desember 2015

Project Argasoka#1 : Negara Instanisme

Kelinci
Tak disangka akhirnya setelah berkontemplasi lama, Project Argasoka dilanjutkan. Kali ini ada yang menarik, bibit cabai yang saya bawa dari Wonosobo niatnya akan saya bagikan kepada masyarakat di desa saya. Harapannya sederhana, semoga saja ini membantu mengurangi beban mereka untuk bisa membeli cabai. Tapi sebenarnya yang saya lawan dari ini adalah sikap apatisme terhadap teman sekitar desa.

Iyah, saya kembali ke desa saya dan dalam keadaan lumayan lelah. Ilmu yang saya bawa dari Wonosobo, coba saya terapkan di sini. Teringat tentang kisah Ustadz Yasin yang mencoba untuk melayani seluruh warga santri seorang diri. Namun hal itu memberikan pelajaran kepada saya tentang makna keikhlasan. Lagi pula dalam tulisan yang dibuat oleh Muhaji Fikriono, dia menyatakan bahwa keikhlasan adalah kebebasan tertinggi. Lah, karena saya pecinta kebebasan saya mencoba mengkombinasikan pemikiran Muhaji Fikriono dan Ustadz Yasin, sehingga munculah Project Argasoka ini.

Namun hal aneh memang sering terjadi, kali ini orang yang saya kasih bibit dan polybaag tidak mau menanam bibit cabainya. Padahal tinggal masukkin tanah sama pupuk. Namun hal yang menarik saya temukan sebelum itu, saya punya tetangga yang rajin bekerja namun hidupnya pas-pasan, dan ada yang malas bekerja namun hidupnya berkecukupan. Keterlemparan ini membuat saya tertarik untuk mengkontemplasikannya pada tulisan kali ini.

Banyak orang yang bekerja, asal dia bekerja, asal menggugurkan kewajibannya. Ada yang bekerja asal ada uang yang dia dapatkan. Namun ada bekerja yang penuh dengan antusias dan keistiqomahan. Pemikiran diatas, dalam dugaan saya adalah sebuah pemikiran yang muncul dari sifat instanisme terhadap hasrat yang muncul. Yang ditampilkan dalam benak mereka munkin bagaimana cara untuk mendapatkan kekayaan secepat-cepatnya sehingga dia menilai hasil akhir itu terlalu berlebihan, dan melupakan proses yang dilalui. Seperti tetangga tadi, seandainya saja dia melihat bahwa jika dia memanfaatkan bibit yang saya kasih dan menanamnya dengan istikomah mungkin itu bisa berbuah dengan manis. Lumayan jika harga 1 kg cabai minimal 15 ribu, yang jika itu dipanen tiap hari bisa menutup pengeluarannya untuk makan keluarga.

Tapi dari kejadian itu saya menemukan permasalahan sosial yang melanda masyarakat Indonesia, yaitu sikap instanisme. Sifat itu membuat orang melakukan apapun untuk hasil yang baik, dan melupakan prosesnya. Maka dari itu masyarakat Indonesia kurang terlatih untuk bisa menghadapi situasi secara berseni.