Laman

Kamis, 31 Desember 2015

Menyerang untuk Melindungi Diri

A photo posted by Aziz Amerul Faozi (@azizfaozi) on

Mungkin judul ini sesuatu yang tepat untuk diri saya. Aku tidak terlalu paham tentang apa yang paling baik atau apa yang paling benar di sini. Mungkin inilah kenapa surat Al-Fatihah itu jadi surat yang wajib saat kita mencoba melakukan sholat. Bukan, mungkin ketika kita mencoba membangkitkan sholat yang tertidur.

Aku tak begitu tahu maknanya itu apa? Tapi sepertinya itulah yang ingin disampaikan oleh bang Tarjo dalam diskusi waktu itu. Itu aneh mengapa seorang yang mengaku diriya ateis memahami al-Qur'an lebih baik dari pada aku yang mengakui dirinya Islam.

Tentang islam yah, sebenernya agama itu apa, aku tidak begitu peduli. Mungkin aku beragamupun sebenernya hanya ikut ikutan orang tua, atau pun yang lainya. Aku mencoba untuk seperti layaknya orang lain yang mencoba untuk mengimani sesuatu hanya berdasarkan pada keyakinan. Aku pun tidak mengerti tentang pemaknaan ini. Namun aku hanya menjalaninya saja, mungkin saya sedang cari aman. Kalaupun agama itu tidak mengantarkan pada kebahagiaan aku pun tak rugi mengikutinya.

Sepertinya tulisan saya kali ini mulai menyimpang dari apa yang aku judulkan kali ini. Iyah, tulisan ini memang hanya sekedar pengobat atas kegelisahan saya saja. Memang tulisan yang saya tulis lebih berkesan tidak penting ketimbang penting. Tapi aku menulis untuk diri saya sendiri saja.

Oke lanjut ke topik kita kali ini. Keponakanku hari ini marah padaku karena aku menyalahkannya akan sesuatu, tapi dia malah menyerangku seakan dia tidak melakukan kesalahan. Dia mencoba meyakinkanku bahwa dia tidak bersalah. Dan aku mencoba iseng untuk meyakinkan dia bahwa dia bersalah. Dan bisa ditebak bahwa dia sekarang menangis tersedu-sedu dengan keras. Wah alay sekali apa yang aku tulis kali ini yah. 
  
Itu mebuatku merenungi sesuatu, mungkin tak hanya keponakanku yang seperti itu, tapi akupun seperti itu. Terkadang aku menyerang orang lain, hanya sekadar untuk melindungi diri bahwa aku bersalah waktu itu. Itulah, kenapa sebaiknya aku mencoba untuk melatih kerendahan hati, yang mungkin sebenernya aku terlalu sombong untuk bisa mengakui bahwa aku memang seorang yang kotor.