Laman

Rabu, 09 Desember 2015

Lelaki Lemah#3 : Doesn't Make Sense

Arah kegelisahan

Ketika kita mengalami kejadian yang tidak mengenakan dalam kehidupan seperti kepedihan atau kesedihan yang mendalam, sebenernya Tuhan mencoba untuk berbicara kepada kita, itu kata Ustadz Yusuf Mansur. Namun kesedihan atau kepedihan mendalam sering membuat kita gagal dalam menjalani kehidupan. 

Jarak adalah sesuatu yang memisahkan kita dengan sesuatu yang lain. Jarak sendiri ada dalam 3 jenis. Pertama jarak yang diukur dengan satuan meter. Kedua jarak yang diukur dalam satuan waktu. Yang ketiga jarak karena dengan kesadaran. Jarak yang diukur dalam satuan meter bisa dengan mudah kita pahami, hal ini bisa kita definisikan mudah dengan contoh : jarak antara aku dengan kamu 10 km, jarak kamu dengan dia 100 km, maka kesimpulannya jarakku padamu lebih dekat dari jarakmu padanya. Kalau jarak menurut waktu, kita akan bertemu lagi dalam 1 tahun, itu lebih dekat dari pada kita akan bertemu dalam waktu 10 tahun. Jarak secara kesadaran, bisa kita contohkan semisal kita dalam satu ruangan dalam waktu yang sama, namun kita tidak saling menyadari akan keberadaan kita satu sama lain, dan walau jarak memisahkan jauh diantara kita namun kita tetap bisa saling menyadari satu sama lain, maka kita tidak mengalami jarak dalam konteks satuan meter maupun satuan waktu.Inilah pemahaman yang saya ajukan agar lebih memahami isi tulisan ini selanjutnya.

Kita sering sedih saat hal-hal yang subtil bermasalah dalam diri kita, seperti halnya kegagalan dalam menjalin percintaan dengan si dia. Kesedihan muncul secara mendalam akibat masalah yang biasa. Ditolak cewe, dapat nilai jelek, orang tua meninggal dan lainnya sering membuat kita mengalami chaotic dalam kehidupan. Padahal kejadian itu merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan ini. Iyah, mana ada yang orang tuanya bisa hidup selamanya. Masalah biasa bisa menjadi masalah yang subtil(mendalam).

Kesedihan yang berlarut terkadang membuat kita mengalami ketimpangan dalam kehidupan, mulai kegelisahan yang berdampak pada sering bolos kuliah, dan mungkin hingga memperkosa orang, membunuh dan merampok. Saat kita mengalami kegelisahan kita sering melihat orang memojokan kita bahwa itu adalah salah kita. Maupun mencoba menyalahkan orang lain untuk melakukan pembenaran terhadap diri kita. Atau membenarkan orang lain hingga kita menganggap diri kita lah yang paling salah. Hingga kita akan semakin jatuh dalam ke-putusasa-an. Kalau kata Ustadz Yusuf Mansur, putus asa itu dosa besar sih.

Kita sering tidak memahami bahwa baik dan buruk dalam kehidupan ini merupakan sesuatu yang saling berpasangan, keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dan jika kita ingin menghilangkan yang satu frasa (baik misalnya) kita harus menghilangkan frasa yang lainnya (buruk). Orang bijak pernah berkata, "Kalau merasa benar merupakan penyebab dari berbagai macam konflik." Merasa dirinya benar merupak sumber dari beragam konflik. Namun merasa dirinya salah akan berpadanan bahwa merasa orang lain benar. Dan ketika merasa diri orang lain benar maka akan timbul konflik dalam diri kita yang akan menyalahkan diri kita sendiri. Kita seolah tidak menyadari hal ini namun hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Menyalahkan diri sendiri berarti membenarkan orang lain, dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan diri sendiri. Kedua hal tersebut akan tetap berujung kepada konflik, karena memang baik dan buruk adalah sesuatu yang sengaja didefinisikan untuk saling bertentangan.

Untuk mengatasi konflik pandangan baik dan buruk, Jalaludin Rumi menyarankan untuk meleburkan kedua frasa (baik dan buruk) menjadi satu kesatuan. Sehingga kedua frasa baik dan buruk adalah sesuatu yang tidak ada. Atau dalam istilah Syech Siti Jenar disebut sebagai Manunggal. Dengan pemanunggalan tersebut kita bisa menghindarkan konflik dalam diri kita sehingga kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih damai.

Krisis itu tidaklah baik, namun juga tidaklah buruk. Ini adalah contoh dari kemanunggalan makna dari krisis. Dengan pemaknaan ini kita tidak akan menimbulkan konflik dalam diri kita. Krisis memang terkadang membuat kita merasakan keputusasaan namun krisis juga perlu untuk kita bisa memahami sesuatu dengan lebih subtil.

Kegagalan cinta, ditinggal orang tua, maupun mendapat nilai jelek, merupakan tasbih dalam kehidupan. Seperti halnya ayat ayat cinta biarkan kegeliasahan itu berdenyut merdu, dan jangan sampai kegelisahan itu membuat konflik dalam batin kita, karena kegelisahanlah yang membuat Nabi Muhammad SAW, bersuzlah ke gua hiro. Dan karena kegelisahanlah, Nabi Ibrahim menghancurkan beragam berhala. Dengan kegelisahan itu seseorang akan memahami sesuatu yang lebih subtil.

Doesn't make sense, merupakan frasa yang sering dijumpai dalam konteks filosofi, doesn't make sense terjadi ketika sesuatu yang nampak pada kita tidak mampu kita terjemahkan. Seperti halnya kita mencoba untuk mengaji tassawuf tanpa suluk. Hal ini akan memberikan doesn't make sense, karena banyak kalimat kalimat dalam tassawuf yang ditulis secara mendalam. Namun jika kita mencoba menafsirkannya tanpa suluk, maka kita akan susah memaknai kalimat kalimat dari para sufi. Kesedihan, krisis itulah yang membuat kita kan bisa memaknai kalimat sufis tersebut.