Laman

Jumat, 25 Desember 2015

Tentang Pluralisme

Bhineka Tunggal Ika

Cerita ini bermula dari Sartre yang mengeluarkan statement bahwa “Manusia adalah neraka bagi manusia lainnya”, kalimat ini muncul karena Sartre berargument bahwa manusia yang lain menjadi pembatas kebebasan bagi manusia lainnya. Andaikan tidak ada orang lain seseorang bisa berekspresi bebas. Itulah makna yang sepertinya ingin disampaikan oleh Sartre.

Namun apakah benar kebebasan yang dipahami Sartre tersebut, hal yang menarik sebenarnya muncul dari seorang pemikir dari Indonesia, Muhaji Fikriono namanya. Dia menjabarkan bahwa keikhlasan adalah kebebasan yang tertinggi. Dia menjelaskan lagi bahwa dalam kehidupan ini keinginan merupakan penjerat atau penjara bagi manusia itu sendiri.

Iwan Fals pernah menyairkan lagu dalam judul “Seperti Matahari”, dia pernah menuliskan bait syair seperti ini. Keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya didalam fikiran. Dari sini kita bisa mempelajari makna yang ingin di ajukan oleh Iwan Fals. Dan dilanjutkan lagi, ingin bahagia, derita didapat, karena ingin sumber derita.

Kebebasan merupakan sesuatu yang bisa dikatakan diagungkan oleh bangsa Liberal, khususnya negara-negara barat. Namun sebenarnya mengapa nilai kebebasan itu di hargai lebih oleh bangsa barat tersebut. Iyah, Pluralisme atau kebebasan berfikir. Pemikiran yang terbatas menciptakan pencapaian yang terbatas pula. Walau kisah di barat tidak se tenang di timur. Di barat pernah bermunculan zaman kegelapan, zaman renaisanche, zaman modern, zaman industri, namun mereka menyadari bahwa sikap menolak kebebasan berfikir merupakan salah satu penghambat perkembangan zaman. Kebebasan berfikir (Pluralisme) memang diperlukan, guna mencapai kebijaksanaan yang lebih matang.

Kalau kata Bapak Profesor di Masjid Salman, Kebebasan akan mendatangkan tanggung jawab. Dan tanggung jawab adalah salah satu modal untuk menjadi pemimpin. Untuk itu seorang pemimpin di negeri ini pun harus memiliki jiwa yang merdeka dan dengan jiwa yang merdeka itu akan menjadi insan yang bertanggung jawab. Itulah yang saya sebut sebagai sofokrasi, sebuah negara yang kebikjasaanya diambil dari sebuah hikmah.