Suatu hari Majnun
bosan di rumah. Dia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke luar.
Namun tidak sengaja hasratnya membawa dirinya untuk pergi ke taman
dekat rumah Laila. Dalam imajinasinya Majnun bercakap-cakap dengan
Laila.
“Laila, aku
mencintaimu, tapi aku masih belum yakin aku benar benar mencintaimu
atau tidak. Aku tahu kau pernah berkata bahwa sedari dulu kau tidak
pernah mencintaiku”
“Kau masih belum
mengerti Qais.” , Jawab Laila dalam imajinasi Majnun. Qais adalah
nama sebenernya dari Majnun.
“Mengerti tentang
apa Qais?”, heran Majnun
“Apakah kau belum
mengerti bahwa wanita tidak mampu sejujur laki-laki, Qais?”, jawab
Laila
“Maksudmu?”
“Aku pun
mencintaimu, tapi harusnya kau telah memahami.”
“Tentang apa?”
“Aku mencintaimu.
Tapi sikapmu yang terlalu berkorban untukku membuatku takut.”
“Takut akan apa?”
“Aku takut jika
cintamu padaku adalah sebuah pedang terhunus, yang sewaktu-waktu dia
akan membunuhmu.”
“Maksudmu”
“Aku tahu kau
berkorban banyak padaku. Dan aku yakin kau tidak pernah merasa
berkorban padaku. Tapi . . .”
“Kenapa?”
“Tapi . . . Andai
kau mencintaiku, kau pun akan memahami bahwa kau tidak ingin juga aku
berkorban padamu kan? Seperti itulah Qais, mengapa dahulu aku
menolakmu. Aku takut kau akan terlalu berlebihan dalam cintamu
padaku, walaupun aku sada bahwa tidak ada sesuatu yang berlebihan
dalam cinta. Aku takut tuhan cemburu pada cintamu, dan dia
memasukkanmu dalam kesakitan yang dahsyat. Walaupun aku tahu kau
takkan merasakan sakit saat kau mencinta. ”
“Bukankah Tuhan
juga yang membuatku mencintai dirimu Laila?”'
“Iyah, tapi kau
mungkin harus belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu tentang dirimu
maupun diriku.”
“Lalu apa?”
“Itu akan
melenyapkanmu dalam kemabukan sehingga kau akan sirna dalam cinta
itu. Kau mencintaiku, dan aku mencintaimu. Lalu jika kita saling
mensirnakan diri kita lalu siapa yang akan menjadi pecinta dan
mencintai?”
“Entahlah Laila”