Laman

Senin, 28 Desember 2015

Entahlah Laila

Suatu hari Majnun bosan di rumah. Dia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke luar. Namun tidak sengaja hasratnya membawa dirinya untuk pergi ke taman dekat rumah Laila. Dalam imajinasinya Majnun bercakap-cakap dengan Laila.

“Laila, aku mencintaimu, tapi aku masih belum yakin aku benar benar mencintaimu atau tidak. Aku tahu kau pernah berkata bahwa sedari dulu kau tidak pernah mencintaiku”

“Kau masih belum mengerti Qais.” , Jawab Laila dalam imajinasi Majnun. Qais adalah nama sebenernya dari Majnun.

“Mengerti tentang apa Qais?”, heran Majnun

“Apakah kau belum mengerti bahwa wanita tidak mampu sejujur laki-laki, Qais?”, jawab Laila

“Maksudmu?”

“Aku pun mencintaimu, tapi harusnya kau telah memahami.”

“Tentang apa?”

“Aku mencintaimu. Tapi sikapmu yang terlalu berkorban untukku membuatku takut.”

“Takut akan apa?”

“Aku takut jika cintamu padaku adalah sebuah pedang terhunus, yang sewaktu-waktu dia akan membunuhmu.”

“Maksudmu”

“Aku tahu kau berkorban banyak padaku. Dan aku yakin kau tidak pernah merasa berkorban padaku. Tapi . . .”

“Kenapa?”

“Tapi . . . Andai kau mencintaiku, kau pun akan memahami bahwa kau tidak ingin juga aku berkorban padamu kan? Seperti itulah Qais, mengapa dahulu aku menolakmu. Aku takut kau akan terlalu berlebihan dalam cintamu padaku, walaupun aku sada bahwa tidak ada sesuatu yang berlebihan dalam cinta. Aku takut tuhan cemburu pada cintamu, dan dia memasukkanmu dalam kesakitan yang dahsyat. Walaupun aku tahu kau takkan merasakan sakit saat kau mencinta. ”

“Bukankah Tuhan juga yang membuatku mencintai dirimu Laila?”'

“Iyah, tapi kau mungkin harus belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu tentang dirimu maupun diriku.”

“Lalu apa?”

“Itu akan melenyapkanmu dalam kemabukan sehingga kau akan sirna dalam cinta itu. Kau mencintaiku, dan aku mencintaimu. Lalu jika kita saling mensirnakan diri kita lalu siapa yang akan menjadi pecinta dan mencintai?”

“Entahlah Laila”