Laman

Minggu, 13 Desember 2015

Kezuhudan dalam Perspetif Yunani

Athena

Kezuhudan merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan. Konteks yang akan kita bahas kali ini merupakan perspektif kezuhudan dalam konteks yang di bawa oleh kaum Helenisme. Dalam dasar filsafat eropa. Helenisme dimulai ketika penaklukan dilakukan oleh Alexander Agung. Filsafat Helenisme masih dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang diajukan oleh Aristoteles, Socrates, maupun Plato.

Sinisme 

Pemikiran ini di mulai dari pemikiran Anthisthenes, Antisthenes merupakan seorang yang pernah berguru pada Socrates. Pemikiran ini dimula ketika Socrates pergi ke sebuah toko, kemudian Socrates berkata, "Banyak sekali barang yang tidak aku butuhkan di dunia ini.",

Kaum sinisme menekankan bahwa dalam memperoleh kebahagiaan sejati tidak terdapat pada kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati terletak pada ketergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Dan karena kebahagiaan didapat dari hal semacam ini maka semua orang bisa memperoleh kebahagiaan.
Kisah menarik muncul ketika Anthisthenes, sedang tiduran di dalam tong kosong. Dia hanya memiliki tong untuk hidupnya, kemudian datang Alexander Agung dan menawarkan sesuatu untuk dirinya. Anthithenes menjawab, "Tolong minggir dari sini kau menghalangi cahaya matahari ku.". Itu sesuatu yang menarik mengingat Alexander Agung merupakan raja. Dan dia cukup bahagia dengan tong itu.

Epicurean 

Pemikiran ini dimunculkan oleh Epicurus, Epicurus menjelaskan bahwa "Kebahagiaan tertinggi adalah kenikmatan." Epicurus menjelaskan lagi bahwa kebahagiaan tertinggi terletak pada kemampuan pada menahan kebahagiaan yang sementara. Analoginya seperti ini, kita menginginkan coklat, kemudian semua uang yang kita miliki digunakan untuk membeli coklat, apakah coklat itu akan tetap terasa nikmat. 

Epicurus menjelaskan bahwa dalam kehidupan, kebahagiaan itu terletak pada saat kita mampu menahan kebahagiaan sesaat dan memperoleh kebahagiaan yang lebih tinggi. Namun sering salah ditafsirkan sehingga pemikiran Epicurus ini di definisikan sebagai, "Dapatkanlah kebahagiaan sesaat."  Padahal kebahagiaan itu muncul dari kesabaran untuk menahan kebahagiaan yang sesaat.