![]() | ||
| Kekosongan |
Sebelumnya saya mungkin pernah menuliskan tentang aforisme cinta. Namun ini adalah kontemplasi lanjutan. Inspirasi ini muncul dari Muhaji Fikriono, seorang kontemplator ulung yang mencetak beragam buku tentang tassawuf dan sebagiannya. Muhaji Fikriono pernah berargumen bahwa Keikhlasan adalah sebuah kebebasan tertinggi yang dimiliki manusia. Hasrat akan sesuatu membuatn manusia terpenjara.
Dalam artikel saya sebelumnya saya pernah menulis bahwa cinta adalah sebuah jenjang spiritual, seperti yang dikatakan oleh achmad Chodim. Untuk sampai pada jenjang ini seseorang harus mendalami dahulu ikhlas dan zuhud. Bukan hal gampang memang. Namun sebenernya perasaan seperti apa itu cinta?
Cinta merupakan sebuah fase kekosongan tertinggi dari umat manusia. Jika ikhlas adalah kebebasan tertinggi. Maka cinta adalah kosong yang paling kosong di dalam manusia, bahkan ungkapan "Aku cinta kamu." ini merupakan sebuah pertentangan dalam konsep cinta. Hal ini didasari oleh kita melihat kamu sebagai entitas lain dari aku. Dengan ini kita akan melihat dua existensi, dan ini menentang konsep ini.
Hasrat akan existensi diri biasanya sering mengaburkan makna cinta yang sebenernya. Menurut Jalaludin Rumi dalam Kitab Fihi ma Fihi, cinta adalah bentuk kefanaan. Ini sesuai dengan makna mengosongkan diri. Jadi kalau menurut Jalaludin Rumi, cinta tidaklah melahirkan kerinduan. Kerinduan muncul pada jiwa seorang pencari, bukan jiwa seorang pecinta. Dalam cinta, segalanya terasa kosong, namun hal ini bermakna segalanya memang isi. Isi dan kosong kan melebur menjadi makna satu, tunggal. Itulah yang membuat cinta itu agung, karena akan mampu menggabungkan sesuatu yang bertentangan. Atau sebuah kondisi yang akan memanunggalkan. Kalau dalam bahasa ustadznya itu mentauhidkan, atau dalam bahasa Indonesia adalah pengesaan.
