Aku minta maaf, atas segala yang membuatmu sedih. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Mungkin perasaanku sudah merasa aku telah melakukan yang terbaik. Tapi, aku menyadari bahwa kita sekarang terpisah cukup jauh. Tidak hanya jarak dalam konteks dimensi ruang dan waktu, tapi dalam konteks kesadaran. Jujur, seandainya waktu bisa terulang kembali, aku tidak akan melakukan kesalahan itu. Aku tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Mengenangmu mungkin hanya akan membuatu semakin menyesali kesalahan yang aku lakukan. Tapi, bagiku kau teman selamanya.
Aku tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan takdir serumit ini. Aku mencoba untuk mengatasi kesedihanku dengan melakukan banyak kesibukan. Tapi, setiap kesibukanku selalu mengingatkan kesalahanku padamu waktu itu. Menyesal, jelas lah. Mungkin benar kata seorang guru Ibnu Arabi yang berkata, "Ketika kau menemukan madu, jangan lah kau kembali kepada cuka". Ini aku tafsirkan sebagai, carilah kebahagiaan baru dan lupakan kepedihan di masalalu. Tapi, mengapa dalam fikiranku berkata, "bagaimana denganmu?". Sejujurnya jika kau melupakan aku mungkin itu juga bisa mengurangi rasa sakit hatimu. Tapi, benarkah jembatan yang sudah dibakar tidak mampu untuk diperbaiki lagi.
Aku selalu merenungkan bagaimana cara aku memperbaikkinya, percayalah walau aku nampak selalu berubah-ubah, kau tetap selalu menjadi temanku. Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahanku waktu itu.