Halo Teman,
Aku menonton film filosofi kopi tadi malam. El seolah ingin berkata pada Ban, "Pak Seno membuat kopi dengan cinta, sementara kau membuat kopi dengan ambisi." Aku mulai mengerti apa yang di katakan El waktu itu dalam film filosofi kopi itu, itu sebenernya analog dengan sikapku padamu waktu itu. Satu setengah tahun yang lalu Buya berkata padaku, nggak usah mikirin cewek, mungkin dia bukan jodohmu. Tapi sebenernya memang siapa yang ingin memperistri dirimu. Sebuah penyesalan dalam diriku mungkin disalah tafsirkan oleh Buya.
Sejujurnya, aku sudah membuang hasrat untuk bisa bertemu dengan mu sejak lama. Aku tidak tahu, kau akan membaca surat ini atau tidak. Saya telah bepergian cukup jauh untuk menghilangkan trauma di kepala ini. Aku sebenernya tak mampu untuk menempuh jalan ini terlalu lama. Tapi, setidaknya tanggung jawab akan janjiku pada banyak orang memaksaku untuk mempertahankan nyawa ini untuk tetap dalam raga ini.
Iya, sejujurnya aku cukup kelelahan. Ketika semua telah hilang dari diriku, hanya tinggal jiwa ini yang belum kunjung pergi. Jiwa ini mengganjalku, tapi ganjalan itu memang Tuhan sengajai untuk menghukum aku karena dosaku yang aku lakukan padamu di masa lalu. Mungkin sudah bertahun-tahun aku meminta Tuhan memisahkan antara Jiwa dan Ragaku dalam kelelahan ini. Aku berdoa seperti itu, hanya agar semoga neraka maupun siksa kubur mampu menyibukanku dan melupakan traumaku waktu itu.
Aku, memang lemah. Tapi, sayangnya Tuhan masih belum berkehendak untuk memberiku kekuatan yang cukup untuk menyelesaikan ini. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Ilusi dan realitas semakin terlihat sama bagiku. Semoga Tuhan mengampuni kita, Astaghfirullah lil Mu'mini wal Mu'minat