![]() |
| Zen |
Pernahkah kalian mengenal Zen, di dalam wikipedia Zen merupakan salah satu ajaran yang sampaikan dalam budha. Ada salah satu ajaran dalam Zen yang saya sukai. Yaitu ajaran untuk bisa mengendalikan diri. Ha ha ha, sebenernya aku mencoba melakukan seperti apa yang dicoba oleh Imam Ghozali, dia mencoba untuk menggabungkan konsep filosofis dalam islam dengan fikih dalam islam. Imam Ghozali menjelaskan jika hendak melakukan sholat seharusnya kita menghadirkan jiwa kita dalam sholat itu. Seperti halnya tidak terburu-buru dalam berwudlu sembari menyegerakan untuk menggugurkan kewajiban.
Dalam Zenisme, ada bagian yang membuat saya tertarik, yaitu kekosongan, atau dalam bahasa inggrisnya adalah Voidness. Kekosongon ini sendiri akan berdampak kepada diri kita untuk bisa menyadari dialektika tuhan secara lebih jelas. Iyah, seperti yang wahyu pertama diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa kita diminta untuk membaca kehidupan. Namun, bagaimana cara membacanya?
Seperti halnya kita sebelum membaca al-Qur'an yang tekstualis. Kita diminta untuk mensucikan diri terlebih dahulu dari hadas besar dan hadas kecil. Membaca "Al-Quran qodim wahyu minulyo, tanpo tinulis iso diwoco", Pertama jiwa kita harus dalam keadaan yang suci, maksudnya jiwa kita tidak berisi najis. Najis dalam konteks ini adalah sesuatu yang tidak suci. Dan yang suci itu hanyalah Allah SWT. Maksud saya dalam konteks yang saya sampaikan dalam paragraf ini adalah senantiasa mengosongkan diri dari segala hal, untuk bisa menghadirkan Allah SWT. Kalau dalam analisis Heiddeger namanya adalah membuat Allah SWT terlempar mutlak kepada diri kita. Kalau menurut Syech Siti Jenar maknanhya adalah Manunggaling Kawula Gusti.
Saat kita memahami bahwa kita harus mengosongkan diri kita dari segala sesuatu yang selain Allah, makna tersebut kita bisa tafsirkan sebagai melenyapkan diri atas kehadirat Allah, atau kata Jalaludin Rumi adalah memfanakan diri atas wujud Allah SWT. Dengan menggunakan konsep yang sama kita coba lakukan hal tersebut saat kita mengerjakan persoalan Fisika, caranya sederhana yaitu lenyapkan diri kita atas wujudnya Fisika. Sehingga Fisika bisa kita jalani sebagai cara melatih spiritualitas. dan bukan hanya saat mengerjakan Fisika, dalam bekerja kita bisa membuatnya sebagai ajang melatih spiritualitas yaitu dengan melenyapkan diri kita dalam pekerjaan itu. Kalau
Seperti halnya Zen, Fisika membuat kita mengosongkan diri kita dari hasrat untuk bisa menafsirkan dialektika Tuhan secara lebih jelas.
