![]() |
| Pembukaan Futuhat al Makkiyat karya Ibnu Arabi |
Pada tulisan kali ini saya akan mencoba menelaah lagi tentang kesucian. Tulisan ini dilatar belakangi oleh banyak dosa yang saya buat. Iya, semacam pembenaran atas dosa-dosa yang telas saya lakukan. Pasalnya, semakin saya menyadari bahwa dosa yang saya lakukan semakin besar, membuat saya semakin malas untuk menjalani kehidupan.
Tulisan ini dimulai dari kisah Ibnu Arabi, pada waktu Ibnu Arabi masih belajar dari gurunya, gurunya berpesan pada Ibnu Arabi untuk menganggap dirinya adalah manusia paling kotor di muka bumi. Suatu hari Ibnu Arabi pergi ke rumah makan di sebelah sungai, disana dia melihat seorang yang minum-minuman keras dan bersama dengan seorang wanita yang telanjang. Kemudian dalam benak Ibnu Arabi, dia berfikiran bahwa dirinya tidak mungkin lebih kotor dari orang tadi. Kemundian ombak besar datang menyelusuri sungai. Di dalam sungai tersebut ada ibu dan anak yang sedang menyeberang, tiba-tiba laki-laki itu datang menolong ibu dan anak tadi. Setelah menolong ibu dan anak itu, laki-laki tersebut berpesan kepada Ibnu Arabi, "Jika kau merasa lebih suci dari saya mengapa engkau tidak mencoba menolong ibu dan anak tadi?". Ibnu Arabi kaget dan langsung bertaubat. Itulah kisah wali besar yang bahkan saat melakukan ujian kewalian tidak boleh merasa lebih suci dari orang lain.
\
Cerita selanjutnya dari wali besar, Bayazid Al Busthami, kisah ini dimulai ketika beliau dahulu adalah seorang Gubernur yang ternama. Beliau merasakan kegelisahan dalam kehidupannya walaupun dia menjadi gubernur yang baik, sepertinya rakyatnya tentram. Suatu hari karena kegelisahannya terhadap kehidupan dia mencoba meninggalkan kehidupannya sebagai seorang gubernur untuk belajar Tassawuf dengan seorang wali. Wali tersebut menyarankan kepada Bayazid Al Busthami untuk membawa kotak yang dikalungkan dengan menggunkan tali lalu diisi dengang menggunkanan kenari. Lalu kenari itu dibagikan kepada anak-anak yang dia temui di jalan. Anak itu disuruh untuk melempari Bayazid Al Busthomi dengan menggunakan kenari yang diberikan, jika anak itu melemparinya maka iya harus memberinya uang. Selain itu Bayazid Busthami juga diminta untuk mengemis dan mensodaqohkan semua uang yang dia dapatkan. Setelah setahun berlangsung Bayazid belum memperoleh jawaban dari kegelisahannya. Lalu Bayazid memulai lagi tahun berikutnya. Hingga akhirnya dia menyadari sesuatu. Lalu gurunya datang pada Bayazid, "Bagaimana menurutmu?",
Bayazid lalu menjawab, "Setelah saya sadari ternyata saya ini bukanlah apa-apa di dunia ini. Bahkan debupun tidak."
Setelah itu Bayazid menjadi wali agung, dan banyak diakui oleh dunia.
Dari sini saya ingin berpesan bahwa saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Athailah as Sakandari dalam kitab Al Hikam. "Bahwa barang siapa yang merasa dirinya telah suci maka sebenarnya itu adalah tanda dari ketidak sucian dari dirinya.".
Sebenarnya itu hanya pembenaran saja karena saya merasa terlalu banyak dosa. Ambil saja yang cocok dengan anda.
