Laman

Jumat, 25 Desember 2015

Negeri Apatisme : Mana yang Perlu?

Apatisme

Hari ini saya melihat seorang ibu tua yang membawa dua orang anak. Saya tidak tahu itu cucunya atau apa. Namun dia melihat saya dengan senyuman, saya yang sedang sedih memikirkan masa depan saya. Namun senyuman wanita tua itu sontak memukul saya, dia yang masih mempunyai beban untuk menghidupi dua orang anak masih tersenyum padaku. Padahal aku yang hanya memikirkan diri sendiri tidak mampu bahagia.

Wanita selanjutnya datang membawa makanan untuk kambing dan membawa seorang anak. Saya melihat kelelahan di wajah ibu itu. Nenekku bertanya pada orang itu

“Lah kok nggawa anake ?”

“Iya kiye melu baen.”

Tidak hanya itu aku berjumpa dengan seorang tukang yang dulu dekat dengan saya. Di jalan aku bertemu dengannya dan saat aku berjumpa dengannya saya langsung bersalaman. Dia membawa sekarung rongsokan, dan dalam benakku dia adalah seorang tukang rongsok. Hal ini yang membawa saya pada kontemplasi “Negeri Apatis”.

Cerita di atas bertentangan dengan seorang pegawai negeri di daerahku. Dia tidak terlalu keras bekerja, kalau ada jadwal saja. Namun dengan penghasilannya dia bahkan bisa membelikan laptop yang mahal. Saya tidak mengerti andaikan saja uang yang dia pakai, dia gunakan untuk membeli laptop yang lebih murah saja. Paling tidak operating sistemnya diganti menjadi linux yang gratis, mungkin uang itu bisa membiayai wanita tadi, atau seorang tukang rongsok tadi.

Tapi ada yang lebih menarik lagi adalah kasus tadi pagi. Ibuku bercerita tentang seorang tetangga yang berhutang untuk membeli makanan. Dan berhutang lagi untuk menutup hutang sebelumnya dan untuk membeli makanan berikutnya. Hal ini sangat mengenaskan mengingat bahwa hampir semua orang mencela orang ini. Kata ibuku hampir se RT merasa nek dengan orang ini.

Berseberangan dengan yang lainnya, ada seorang tetanggaku yang suka naik haji. Kemarin puasa dia umroh. Dia merupakan orang terhormat di desa ini. Banyak pegawainya adalah orang sini. Banyak pula yang mendoakannya yang baik-baik.

Namun dari penilaian anda manakah yang lebih membutuhkan doa dan bantuan ? Apakah seorang haji membutuhkan sanjungan? Ataukah seorang penghutang membutuhkan celaan? Negara ini terlalu apatis dan kapitalis untuk bisa menilai sesuatu dengan lebih mendalam.