![]() |
| Apatisme |
Hari ini saya melihat seorang ibu tua yang membawa dua orang anak. Saya tidak tahu itu cucunya atau apa. Namun dia melihat saya dengan senyuman, saya yang sedang sedih memikirkan masa depan saya. Namun senyuman wanita tua itu sontak memukul saya, dia yang masih mempunyai beban untuk menghidupi dua orang anak masih tersenyum padaku. Padahal aku yang hanya memikirkan diri sendiri tidak mampu bahagia.
Wanita selanjutnya
datang membawa makanan untuk kambing dan membawa seorang anak. Saya
melihat kelelahan di wajah ibu itu. Nenekku bertanya pada orang itu
“Lah kok nggawa anake ?”
“Iya kiye melu
baen.”
Tidak hanya itu aku
berjumpa dengan seorang tukang yang dulu dekat dengan saya. Di jalan
aku bertemu dengannya dan saat aku berjumpa dengannya saya langsung
bersalaman. Dia membawa sekarung rongsokan, dan dalam benakku dia
adalah seorang tukang rongsok. Hal ini yang membawa saya pada
kontemplasi “Negeri Apatis”.
Cerita di atas
bertentangan dengan seorang pegawai negeri di daerahku. Dia tidak
terlalu keras bekerja, kalau ada jadwal saja. Namun dengan
penghasilannya dia bahkan bisa membelikan laptop yang mahal. Saya
tidak mengerti andaikan saja uang yang dia pakai, dia gunakan untuk
membeli laptop yang lebih murah saja. Paling tidak operating
sistemnya diganti menjadi linux yang gratis, mungkin uang itu bisa
membiayai wanita tadi, atau seorang tukang rongsok tadi.
Tapi ada yang lebih
menarik lagi adalah kasus tadi pagi. Ibuku bercerita tentang seorang
tetangga yang berhutang untuk membeli makanan. Dan berhutang lagi
untuk menutup hutang sebelumnya dan untuk membeli makanan berikutnya.
Hal ini sangat mengenaskan mengingat bahwa hampir semua orang mencela
orang ini. Kata ibuku hampir se RT merasa nek dengan orang ini.
Berseberangan dengan
yang lainnya, ada seorang tetanggaku yang suka naik haji. Kemarin
puasa dia umroh. Dia merupakan orang terhormat di desa ini. Banyak
pegawainya adalah orang sini. Banyak pula yang mendoakannya yang
baik-baik.
Namun dari penilaian
anda manakah yang lebih membutuhkan doa dan bantuan ? Apakah seorang
haji membutuhkan sanjungan? Ataukah seorang penghutang membutuhkan
celaan? Negara ini terlalu apatis dan kapitalis untuk bisa menilai
sesuatu dengan lebih mendalam.
