![]() |
| Ubermensch |
Sebelumnya saya pernah menulis artikel tentang kezuhudan, Jangan Tinggalkan Syariat. Saya akan membahas tentang konsep kezuhudan yang dikonsepkan oleh Ibnu Araby dengan menggunakan analisis
Fredrich Niecthze, dan Voidness.
Ubermensch
Tulisan ini dimulai dengan artikel Jangan Tinggalkan Syariat tentang
kezuhudan. Ibnu Araby menjelaskan bahwa yang dinamakan zuhud bukan berarti
miskin namun sikap untuk tidak bergantung pada keduniawian. Selanjutnya konsep
yang diajukan oleh Fredrich Niechtze. Niechtze menuliskan dalam bukunya bahwa
manusia dibagi menjadi 3 golongan, yang pertama Golongan Unta, yang kedua
golongan singa, yang ketiga adalah
golongan bayi.
Golongan unta, pada golongan ini manusia dianggap sebagai
manusia yang apabila dia diberi beban maka dia akan menjadi semakin bahagia,
seperti halnya seorang yang patuh akan peraturan, semakin peraturan
kehidupanitu jelas, maka semakin orang tersebut menikmati kehidupannya.
Golongan Singa, adalah golongan yang selalu menentang apa
yang diaturkan, semakin aturan itu jelas, maka dia akan semakin tersiksa,
maksudnya akan semakin menentang dengan aturan. Jiwanya akan selalu dibawa
untuk menolak sesuatu, berbeda dengan yang pertama yang selalu menerima
sesuatu.
Dari kedua golongan tersebut, keputusan yang diambil oleh
manusia merupakan pengaruh dari external. Nah, berbeda dengan golongan manusia
yang ketiga, yaitu golongan bayi. Pada golongan ini manusia bergerah sesuai
dengan keinginannya, dia mengikuti aturan karena dia ingin mengikuti aturan, dan
dia menginggalkan aturan ketika dia ingin menginggalkan aturan. Dia tidak
pernah terpaksa karena sesuatu, seperti layaknya bayi, jika dia ingin boker,
maka dia akan boker, jika dia ingin nangis dia akan nangis. Menurut Nietchze,
mental golongan pertama dan kedua merupakan mental cacat, karena itu
terkontaminasi oleh pengaruh dari luar. Dan mental golongan ketiga disebut
mental Ubermanch (bahasa inggrisnya Superman).
Dengan analisa yang diusulkan oleh Fredrich Niethcze, kita
akan menganalisis makna kezuhudan yang ingin disampaikan Ibnu Arabi. Kezuhudan sering diartikan sebagai hidup
miskin, hidup tanpa nikah dan sebagainya. Namun, dengan konsep yang disampaikan
oleh Fredrich Nietchze kita akan memahami bahwa kezuhudan merupakan sikap
ketidakbergantungan kepada keduniaan, seperti itulah yang ingin disampaikan
oleh Ibnu Arabi, walau dia kaya, dia bahkan mengatakan kepada muridnya yang
mensodaqohkan semua hartanya sebagai orang yang terlalu ke-ndunnyan(terlalu
bergantung kepada dunia), karena muridnya menginginkan kepala ikan.
Voidness
Selanjutnya, tentang kekosongan (Voidness) yang disampaikan
oleh Zenisme, budhisme. Dalam Seishin Teki Kyoyo (Teknik Penyucian Jiwa), ada
salah satu hal yang mendasar untuk bisa menjadi budhisme yang baik yaitu
Voidness(kekosongan). Jika anda sering
menonton film Kera Sakti. Anda pasti sering mendengar kalimat "Isi adalah
kosong, kosong adalah isi.". Kalimat Tong San Cong itu merupakan salah
satu hal yang menarik, dan akan diperbincangkan kali ini.
Dalam cerita, Budha Sidharta Gautama, adalah seorang anak raja
yang selalu hidup mewah. Dia selalu dikelilingi wanita cantik, anggur, emas,
makanan enak dan sebagainya. Suatu hari dia melakukan kontemplasi, dan bertanya
pada dirinya, "Benarkah kehidupan
hanya sebegini saja?". Budha memutuskan keluar, dan akhirnya dia
menemui banyak rakyat yang mengemis dan memohon uang. Dia memberikan uang dan
semua orang mengerumuninya seolah tidak pernah memiliki uang.
Suatu hari dia mencoba hidup seperti pengemis dan
meninggalkan kerajaan beserta kemewahannaya. Dia bertemu dengan orang yang
selalu menyiksa dirinya, dan mereka berargument bahwa kehidupan memang
seharusnya seperti ini. Budha mengikuti mereka dan merasakan penderitaan, serta
menyiksa dirinya dengan tidak makan dan minum. Suatu hari, datang seorang
pemusik yang berkata pada kawannya, "Kalau
mau menyetel Kecapi, jangan terlalu kencang nanti putus, dan jangan terlalu kendor
nanti suaranya tidak bagus. Dengan itu suara yang dihasilkan akan indah".
Hal itu terdengar oleh Budha, dan Budha melakukan kontemplasi lagi, hingga
kehidupan yang estetis bisa dia dapatkan dengan melalui keseimbangan.
Seperti itu juga yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali, bahwa
dalam kehidupan untuk mencapai kenikmatan, dibutuhkan komposisi pas. Dengan
mengkomposisikan ruh malaikat, ruh setan, dan ruh ilahiah secara tepat. Namun
untuk bisa mengkomposisikan itu seseorang harus melihat nihil segala sesuatu
hingga dirinya menampakan dirinya melalui dirinya dari dirinya sendiri. Inilah
konsep kekosongan Budha dan persepsi komoposisi untuk mengestetiskan kehidupan.
