Laman

Jumat, 11 Desember 2015

Kezuhudan, Ubermensch, dan Voidness

Ubermensch
Sebelumnya saya pernah menulis artikel tentang kezuhudan, Jangan Tinggalkan Syariat. Saya akan membahas tentang konsep kezuhudan yang dikonsepkan  oleh Ibnu Araby dengan menggunakan analisis Fredrich Niecthze, dan Voidness.

Ubermensch

Tulisan ini dimulai dengan artikel Jangan Tinggalkan Syariat tentang kezuhudan. Ibnu Araby menjelaskan bahwa yang dinamakan zuhud bukan berarti miskin namun sikap untuk tidak bergantung pada keduniawian. Selanjutnya konsep yang diajukan oleh Fredrich Niechtze. Niechtze menuliskan dalam bukunya bahwa manusia dibagi menjadi 3 golongan, yang pertama Golongan Unta, yang kedua golongan   singa, yang ketiga adalah golongan bayi.

Golongan unta, pada golongan ini manusia dianggap sebagai manusia yang apabila dia diberi beban maka dia akan menjadi semakin bahagia, seperti halnya seorang yang patuh akan peraturan, semakin peraturan kehidupanitu jelas, maka semakin orang tersebut menikmati kehidupannya.
Golongan Singa, adalah golongan yang selalu menentang apa yang diaturkan, semakin aturan itu jelas, maka dia akan semakin tersiksa, maksudnya akan semakin menentang dengan aturan. Jiwanya akan selalu dibawa untuk menolak sesuatu, berbeda dengan yang pertama yang selalu menerima sesuatu.

Dari kedua golongan tersebut, keputusan yang diambil oleh manusia merupakan pengaruh dari external. Nah, berbeda dengan golongan manusia yang ketiga, yaitu golongan bayi. Pada golongan ini manusia bergerah sesuai dengan keinginannya, dia mengikuti aturan karena dia ingin mengikuti aturan, dan dia menginggalkan aturan ketika dia ingin menginggalkan aturan. Dia tidak pernah terpaksa karena sesuatu, seperti layaknya bayi, jika dia ingin boker, maka dia akan boker, jika dia ingin nangis dia akan nangis. Menurut Nietchze, mental golongan pertama dan kedua merupakan mental cacat, karena itu terkontaminasi oleh pengaruh dari luar. Dan mental golongan ketiga disebut mental Ubermanch (bahasa inggrisnya Superman). 

Dengan analisa yang diusulkan oleh Fredrich Niethcze, kita akan menganalisis makna kezuhudan yang ingin disampaikan Ibnu Arabi. Kezuhudan sering diartikan sebagai hidup miskin, hidup tanpa nikah dan sebagainya. Namun, dengan konsep yang disampaikan oleh Fredrich Nietchze kita akan memahami bahwa kezuhudan merupakan sikap ketidakbergantungan kepada keduniaan, seperti itulah yang ingin disampaikan oleh Ibnu Arabi, walau dia kaya, dia bahkan mengatakan kepada muridnya yang mensodaqohkan semua hartanya sebagai orang yang terlalu ke-ndunnyan(terlalu bergantung kepada dunia), karena muridnya menginginkan kepala ikan.

Voidness

Selanjutnya, tentang kekosongan (Voidness) yang disampaikan oleh Zenisme, budhisme. Dalam Seishin Teki Kyoyo (Teknik Penyucian Jiwa), ada salah satu hal yang mendasar untuk bisa menjadi budhisme yang baik yaitu Voidness(kekosongan).  Jika anda sering menonton film Kera Sakti. Anda pasti sering mendengar kalimat "Isi adalah kosong, kosong adalah isi.". Kalimat Tong San Cong itu merupakan salah satu hal yang menarik, dan akan diperbincangkan kali ini.

Dalam cerita, Budha Sidharta Gautama, adalah seorang anak raja yang selalu hidup mewah. Dia selalu dikelilingi wanita cantik, anggur, emas, makanan enak dan sebagainya. Suatu hari dia melakukan kontemplasi, dan bertanya pada dirinya, "Benarkah kehidupan hanya sebegini saja?". Budha memutuskan keluar, dan akhirnya dia menemui banyak rakyat yang mengemis dan memohon uang. Dia memberikan uang dan semua orang mengerumuninya seolah tidak pernah memiliki uang.

Suatu hari dia mencoba hidup seperti pengemis dan meninggalkan kerajaan beserta kemewahannaya. Dia bertemu dengan orang yang selalu menyiksa dirinya, dan mereka berargument bahwa kehidupan memang seharusnya seperti ini. Budha mengikuti mereka dan merasakan penderitaan, serta menyiksa dirinya dengan tidak makan dan minum. Suatu hari, datang seorang pemusik yang berkata pada kawannya, "Kalau mau menyetel Kecapi, jangan terlalu kencang nanti putus, dan jangan terlalu kendor nanti suaranya tidak bagus. Dengan itu suara yang dihasilkan akan indah". Hal itu terdengar oleh Budha, dan Budha melakukan kontemplasi lagi, hingga kehidupan yang estetis bisa dia dapatkan dengan melalui keseimbangan.

Seperti itu juga yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali, bahwa dalam kehidupan untuk mencapai kenikmatan, dibutuhkan komposisi pas. Dengan mengkomposisikan ruh malaikat, ruh setan, dan ruh ilahiah secara tepat. Namun untuk bisa mengkomposisikan itu seseorang harus melihat nihil segala sesuatu hingga dirinya menampakan dirinya melalui dirinya dari dirinya sendiri. Inilah konsep kekosongan Budha dan persepsi komoposisi untuk mengestetiskan kehidupan.