![]() |
| Rene Descartes |
Kesejatian merupakan hal yang masih menarik untuk diperbincangkan, kali ini saya mencoba pemikiran dari seorang bapak filsuf modern, Rene Descartes. Mungkin tulisan ini kurang mengupas tajam tentang pemikiran Descartes, dan mungkin tidak setajam silet.
Sekarang ini banyak bermunculan orang dengan label Islam KTP, tapi mungkin labelnya yang diproduksi banyak, atau mungkin memang orang dengan Islam KTP memang banyak. Kita sering menerima secara dogmatis bahwa Islam itu adalah ajaran yang paling benar. Begitu pula Nasrani, Yahudi dan lainnya. Padahal kita memiliki agama itu sendiri merupakan sebuah labeling juga dari orang tua (biasanya sih kalo saya amati di Indonesia). Maka dari itu Islamnya, gak beneran. Kristennya gak beneran. Maupun lainnya. Kalau dalam bahasa tassawufnya itu kurang sejati. Pemikiran dari Descartes ini bisa dijadikan metode untuk memperoleh kesejatian dalam beragama.
Seperti halnya kita membangun rumah, maupun membangun rumah tangga, kita sering meragukan bahan bangunan, maupun pasangan yang akan kita nikahi. Iyah, jelas pemikiran itu kita tujukan agar kita tidak salah pilih nantinya. Tapi sudahkah kita melakukan metode itu dalam hal lainnya? misalkan dalam beragama, bertanah air, maupun dalam mempercayai apa yang dosen kita katakan, atau bahkan pandangan pandangan umum, seperti kalimat "Rajin pangkal pandai."
Keraguan merupakan metode awal dalam proses mencari kesejatian, itulah kata Descartes. Argumennya sangat sederhana, dengan ragu maka kita befikir, dengan berfikir maka kita akan menjadi manusia pemikir, dan itu menjadikan bahwa "Aku berfikir maka aku ada." atau istilah kerennya "Cogito, ergo sum."
Dengan keraguan yang diusulkan oleh Deskartes ini hendaknya kita mencoba untuk meragukan segala hal agar kita berfikir.
Tentang Tuhan
Dalam pemikiran yang disampaikan oleh Descartes, pemikiran dan keberadaan adalah sesuatu yang terpisahkan dan tidak saling berkaitan. Tapi saya masih belum memahami kadang pendapatnya juga aku bisa tafsirkan sebagai saling berkaitan.
Menurut Descartes, entitas sempurna muncul dari pemikiran yang sempurna. Dalam benak Descartes, hanya entitas yang sempurna yang mampu memunculkan sesuatu yang sempurna. Kalau kita sering mendengarkan hadis, mungkin kita pernah mendengar kita bisa mengetahui Penciptanya dengan melihat ciptaanya. Sehingga dalam pemikiran Descartes, Tuhan ada hanya dengan pemikiran Tuhan.
Mistisme di Asia
Ajaran keagamaan di asia memang lebih kental dari pada di eropa. Dalam asia banyak sekali sesuatu yang dogmatis. Namun hal ini bukan serta merta tanpa alasan. Walaupun banyak yang menyakini itu hanya sekedar ikut ikutan (dogmatis tanpa kontemplasi). Di asia keberagaman disatukan dalam kehidupan, berbeda dengan eropa yang memisahkan antara gereja dan pemerintahan. Namun yang dimaksud di asia adalah keagamannya, bukan pada kegerejaannya. Mohon dibedakan antara agama dan gereja yah. Ini seperti spiritualitas dalam kehidupan, dan syariat dalam kehidupan. Agama saya sambungkan dengan spiritualitas dan gereja saya kaitkan dengan syariat.
Dalam mistisme di asia, banyak sekali orang yang berkontemplasi hingga dia mencapai pada pemahaman dia adalah setetes air yang sedang bergerak menuju lautan, dan saat sampai pada lautan dia akan menyadari bahwa kehidupan ini adalah satu. (Ini tidak akan saya bahas lebih lanjut).
Inilah yang melatar belakangi Imam Ghozali untuk melakukan kritik yang menerangkan bahwa agama adalah tentang syariat. Menurut Imam Ghozali agama merupakan spiritualitas dari syariat itu sendiri. Atau dalam bahasa sederhanaya, penghayatan tentang syariat. Namun sebagian orang sekarang lebih suka mentah-mentah menerima bahwa agama itu adalah berpakaian seperti arab.
Lah, kita kembali lagi dalam pemikiran Descartes. Untuk sampai pada penjiwaan tentang keberagamaan, hendaknya kita memunculkan sikap keraguan dalam kehidupan untuk mencapai pada kebenaran yang sejati. Tak cuma di kehidupan beragama, namun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan itu kita akan terus berfikir dan belajar.
