![]() |
| Ilustrasi Ibnu Araby |
Pagi ini saya berdiskusi dengan Pak Yasin, dia seorang Ustadz di Pondok Pesantren yang saya diami sekarang. Pembahasan ini dimulai dengan pertanyaan saya tentang cerita Ibnu Arabi. Cerita ini dimulai seperti ini
Pada hikayat Ibnu Arabi, Ibnu Araby pernah berjalan jalan dan bertemu seorang nelayan yang ahli sedekah, setiap kali dia pergi melaut dia selalu mensedekahkan semua ikannya dan menyisakan satu untuk dia makan. Dia lalu dianggat murid oleh Ibnu Araby. Suatu ketika nelayan itu memiliki seorang murid. Nelayan itu gelisah karena spiritualitasnya stagnan. Suatu ketika dia menyuruh muridnya untuk menemui Ibnu Araby, agar spiritualitasnya tidak stagnan. Saat mencari Ibnu Araby, dia bertanya pada orang-orang disekitar rumah Ibnu Araby, dimana rumah Ibnu Araby. Orang disekitar rumah tersebut menunjukan bahwa rumah besar di atas gunung itu adalah rumah Ibnu Araby. Murid nelayan itu begitu kaget karena beliau menemui rumah wali yang begitu besar. Hal ini membuatnya merasa sinis, dalam benaknya mengapa seorang wali, memiliki sifat kedunaian seperti Ibnu Araby. Telah sampailah dia di rumah Ibnu Araby, dia bertanya tentang keluahan gurunya kepada Ibnu Araby. Namun dia kaget mendengar jawaban Ibnu Araby, "Gurumu meninggalkan sifat keduniaanya." Bagaimana bisa seorang yang sederhana seperti gurunya, mendapat nasehat dari orang kaya seperti Ibnu Araby untuk meninggalkan sifat keduniaanya, padahal Ibnu Araby sendiri memiliki dunia lebih dari Gurunya. Setelah itu orang itu laporan ke gurunya yang nelayan tadi. Nelayan tadi menjawab, "Iya, benar yang dikatakan oleh Ibnu Araby, aku masih berfikir bagaimana kalau aku menyisakan satu ikan lagi untuk saya makan."
Dari cerita di atas, saya diskusikan dengan Ustadz Yasin, beliau memberikan pemahaman bahwa apa yang terjadi dari cerita tersebut, yaitu keduniaanya. Adalah bermakna bukan memiliki dunia atau tidak. Tapi bagaimana kita untuk tidak bergantung pada dunia. Mungkin saja Ibnu Araby lebih kaya di bandingkan dengan nelayan tadi, tapi itu mungkin nelayan tadi lebih membutuhkan dunia ketimbang Ibnu Araby.
Inilah yang menjadi pelajar bagi kita bahwa jangan menilai sesuatu dari luarnya. Mungkin dia kaya tapi kekayaan yang dia miliki belum tentu dia butuhkan. Dan dunia terkadang menguji manusia dengan kenikmatan yang berlebihan agar dia melupakan Tuhannya.
Dalam pembahasan ini, Pak Yasin berpesan dalam konteks hakikat bahwa seseorang itu tidak bisa di Justifikasi masalah yang hakikat (subtil), seseorang hanya bisa di hukumi masalah yang bersifat syariat.
Gus Dur pernah bernyanyi dalam Syiir Tanpo Waton "Ojo mung ngaji syareat bloko, mung pinter ndongeng nulis lan moco tembe mburine bakal sangsoro.". Konteks yang di ajarkan oleh pengarang lagu ini, bermakna untuk kita jangan hanya mengaji syariaatnya saja tapi juga harus sampai pada hakikat. Namun, saat konteks hakikat melupakan syariaat maka seseorang tidak bisa dihukumi, karena hukum hanya berlaku pada konteks syariat.
Pada hadis pernah diceritakan ada dua orang yang mencoba mengadukan masalah mereka pada Nabi Muhammad SAW, mereka berdua mengadukan masalah pencurian. Orang pertama sangat yakin bahwa orang kedua yang mencuri namun tiada bukti. Dan orang kedua berani bersumpah bahwa dia tidak mencurinya. Malaikat Jibril pun sudah memberi tahukan kepada Nabi Muhammad bahwa orang kedua memang sudah mencuri barang orang pertama. Namun karena tiada bukti Nabi Muhammad tidak bisa menghukum orang kedua dengan syariat. Ini merupakan pembelajaran pada kita untuk mengaji jangan melupakan syariat, walau memang inti dalam pencarian itu adalah hakikat.
