![]() |
| Pesan Pak Kiai |
Gambar diatas adalah larangan pak kiyai untuk membahas takdir, mungkin bahasa jelasnya adalah menahan diri untuk tidak membahas takdir. Namun kali ini saya akan membahas WA pak kiayi tersebut dalam konteks Filsafat Jerman maupun konsep dalam ranah tassawuf.
Seperti yang sudah saya tuliskan dalam artikel
sebelumnya tentang tulisan Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi. Dalam
tulisan Jalaludin Rumi tersebut, beliau menuliskan bahwa yang namanya tempat
terbaik itu adalah “Kalau kita di Persia
maka tempat terbaik adalah Persia, kalau kita di dalam sumur maka tempat
terbaik adalah di dalam sumur. Kalau di surga maka tempat terbaik adah surga,
kalau kita di neraka maka tempat terbaik adalah neraka.” Statment Jalaludin Rumi ini cukup beralasan, yah, karena Tuhan pasti
menciptakan sesuatu dengan takdir terbaiknya. Namun, hal ini bisa menjadi
boomerang ketika kita tidak mampu menafsirkannya dengan matang.
Kalau menurut Heiddeger, hidup kita di dunia
adalah sebuah keterlemparan. Dan kita cenderung mengatakan adaa tentang sesuatu
yang muncul akibat dari kecemasan. Jadi “Ada” dalam definisi kita tentang
sesuatu merupakan hasil dari adanya pengada dalam diri kita. Jadi belum tentu
apa yang kita lihat sebagai kebenaran merupakan sebuah kebenaran yang sejati
yang muncul karena dirinya, lah inilah yang melatar belakangi saya untuk
menganjurkan kepada anda bahwa “Jadilah manusia pemula”, itu kata Heiddeger.
Maksudnya adalah biarkan kebenaran yang kita assumsikan itu menampakan dirinya
melalui dirinya sendiri, alias kita mengamati sebuah fenomena dengan hati yang
suci (mengamati tanpa intensi).
Dua penjelasan oleh ahli di atas akan
mengantarkan kita untuk, “Bagaimana cara
kita menyikapi takdir dengan metode filsafat Jerman atau metode Kesufian.”
Kita sering meletakkan intensi saat kita
beraktifitisan, namun sebenarnya hal itu bisa merusak pandangan kita tentang
indahnya dunia. Maksudnya adalah untuk bisa mencapai pemahaman seni kehidupan,
sebaiknya kita melihat sesuatu tanpa intensi, maksudnya biarkan dirinya
menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Dengan itu maka kehidupan akan
terasa dingin karena kita melihatnya tanpa intensi. Namun kedinginan kehidupan
itu akan membuat kita bergairah. “Dingin
dan bergairah” itulah seni. Dengan
menyikapi kehidupan dengan dingin dan bergairah akan membuat kehidupan kita
menjadi lebih berseni, bukan hanya seorang penyembah berhala. “Berhala ”
yang saya maksudkan adalah mencoba menyikapi kehidupan dengan intensi. Intensi
kita terhadap uang, akan menjadikan uang sebagai Berhala kita, intensi kita
terhadap cewek cantik yang montok akan memjadikan cewek cantik yang montok itu
sebagai berhala kita. “Bagaimana sebuah
berhala bisa membuat kita menjadi bahagia dalam seni kehidupan? “, untuk
itu hadapilah fenomena di dunia ini tanpa intensi(hasrat). Biarkan dirinya
menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.
Kesimpulannya :
Siapapun jodohmu, apapun rejekimu, kapanpun kau mati, akan jadi apa diri kamu.
Itaquloh Haesuma kunta. Itulah kata Pak Kiyai, artinya tetap bertakwalah kepada
Allah siapapun dimanapun kapanpun kamu berada. Intinya sih hadapi dunia dengan
tanpa intensi, sikapi dengan dingin supaya menggairahkan
