Laman

Selasa, 10 November 2015

Fati

Pesan Pak Kiai

Gambar diatas adalah larangan pak kiyai untuk membahas takdir, mungkin bahasa jelasnya adalah menahan diri untuk tidak membahas takdir. Namun kali ini saya akan membahas WA pak kiayi tersebut dalam konteks Filsafat Jerman maupun konsep dalam ranah tassawuf.

Seperti yang sudah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya tentang tulisan Jalaludin Rumi dalam kitab Fihi ma Fihi. Dalam tulisan Jalaludin Rumi tersebut, beliau menuliskan bahwa yang namanya tempat terbaik itu adalah  “Kalau kita di Persia maka tempat terbaik adalah Persia, kalau kita di dalam sumur maka tempat terbaik adalah di dalam sumur. Kalau di surga maka tempat terbaik adah surga, kalau kita di neraka maka tempat terbaik adalah neraka.”  Statment Jalaludin Rumi ini  cukup beralasan, yah, karena Tuhan pasti menciptakan sesuatu dengan takdir terbaiknya. Namun, hal ini bisa menjadi boomerang ketika kita tidak mampu menafsirkannya dengan matang.

Kalau menurut Heiddeger, hidup kita di dunia adalah sebuah keterlemparan. Dan kita cenderung mengatakan adaa tentang sesuatu yang muncul akibat dari kecemasan. Jadi “Ada” dalam definisi kita tentang sesuatu merupakan hasil dari adanya pengada dalam diri kita. Jadi belum tentu apa yang kita lihat sebagai kebenaran merupakan sebuah kebenaran yang sejati yang muncul karena dirinya, lah inilah yang melatar belakangi saya untuk menganjurkan kepada anda bahwa “Jadilah manusia pemula”, itu kata Heiddeger. Maksudnya adalah biarkan kebenaran yang kita assumsikan itu menampakan dirinya melalui dirinya sendiri, alias kita mengamati sebuah fenomena dengan hati yang suci (mengamati tanpa intensi).

Dua penjelasan oleh ahli di atas akan mengantarkan kita untuk, “Bagaimana cara kita menyikapi takdir dengan metode filsafat Jerman atau metode Kesufian.”

Kita sering meletakkan intensi saat kita beraktifitisan, namun sebenarnya hal itu bisa merusak pandangan kita tentang indahnya dunia. Maksudnya adalah untuk bisa mencapai pemahaman seni kehidupan, sebaiknya kita melihat sesuatu tanpa intensi, maksudnya biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya. Dengan itu maka kehidupan akan terasa dingin karena kita melihatnya tanpa intensi. Namun kedinginan kehidupan itu akan membuat kita bergairah. “Dingin dan bergairah”  itulah seni. Dengan menyikapi kehidupan dengan dingin dan bergairah akan membuat kehidupan kita menjadi lebih berseni, bukan hanya seorang penyembah berhala. “Berhala ” yang saya maksudkan adalah mencoba menyikapi kehidupan dengan intensi. Intensi kita terhadap uang, akan menjadikan uang sebagai Berhala kita, intensi kita terhadap cewek cantik yang montok akan memjadikan cewek cantik yang montok itu sebagai berhala kita. “Bagaimana sebuah berhala bisa membuat kita menjadi bahagia dalam seni kehidupan? “, untuk itu hadapilah fenomena di dunia ini tanpa intensi(hasrat). Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya sendiri.


Kesimpulannya :


Siapapun jodohmu, apapun rejekimu, kapanpun kau mati, akan jadi apa diri kamu. Itaquloh Haesuma kunta. Itulah kata Pak Kiyai, artinya tetap bertakwalah kepada Allah siapapun dimanapun kapanpun kamu berada. Intinya sih hadapi dunia dengan tanpa intensi, sikapi dengan dingin supaya menggairahkan