![]() |
| Buku cerita Nabi Ibrohim |
Sewaktu kita masih SD kita sering mendengar cerita tentang
Nabi Ibrohim. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Nabi Ibrohim menghancurkan
beragam berhala hingga dia menemukan Tuhan yang sejati. Namun, tulisan saya
kali ini akan menceritakan Nabi Ibrohim dalam jiwa kita sendiri.
Dalam jiwa kita banyak sekali berhala-berhala yang
sebeneranya perlu untuk dilawan. Lah, ke inginan untuk melawa itulah yang saya
namai sebagai mental Ibroh (berarti kebijaksanaan dalam arab, ini mirip dengan
nama Nabi Ibrohim), Ibroh dalam diri manusia akan selalu menyarankan kita untuk
mencapai kebenaran yang sejati(atau dalam bahasa Tassawuf disebut sebagai
Hakikat). Ibroh sendiri bermula dari kegelisaan yang dirasakan oleh diri kita,
seperti pertanyaan “Benarkah patung itu sebuah Tuhan” , hanya Ibroh akan selalu
mengarahkan kita untuk mencari kebenaran yang sejati. Itu semacam hasrat, namun
bukan hasrat yang timbul dari keinginan untuk bahagia (dalam filsuf Jerman),
namun hasrat untuk menjadi dirinya sendiri yang pernah “Eksisten”, kalau dalam
bahasa sufi dikenal sebagai kembali kepada Hakikat.
Ibroh akan selalu berusaha menghancurkan berhala-berhala
dalam jiwa kita layaknya Nabi Ibrohim yang mencoba untuk menghancurkan
berhala-berhala buatan ayahnya. Namun yang di hadapi Ibroh lebih berat, karena
Ibroh akan mencoba menghancurkan berhala dalam diri manusia yang notabennya
mengantarkan manusia pada kesenangan. (Seperti halnya uang, cewek cantik yang
montok, atau sifat iri dengki dan lainnya). Dalam konteks ini Ibroh membutuhkan
dukungan berupa kesucian jiwa, atau jiwa yang terkendalikan untuk bisa
menyeleksi mana berhala dan mana bukan berhala. Kalau kata Jalaludin Rumi dalam
kita Fihi ma Fihi, manusia pada dasar nya memiliki berhala dalam diri manusia
berupa sifat iri, pamer, riya, ataupun rakus akan harta, kekuasaan, atau istri
yang cantik. Ibroh manusia selalu gelisah (atau merasakan Arngs dalam bahasa
Jerman) hingga Ibroh itu menemukan jawaban dari apa yang digelisahkan oleh
dirinya yaitu sesuatu yang substantif. Namun Ibroh bisa tersesat, maka dari itu
cara menyucikan jiwa yang paling baik adalah “Biarkan dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.”
Kesimpulan :
Berikanlah kekuatan pada Nabi Ibrohim dalam jiwamu dengan
menjaga nafs-mu dengan mem-“Biarkan
dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.”
