Laman

Selasa, 10 November 2015

Nabi Ibrohim dalam Jiwa

Buku cerita Nabi Ibrohim

Sewaktu kita masih SD kita sering mendengar cerita tentang Nabi Ibrohim. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Nabi Ibrohim menghancurkan beragam berhala hingga dia menemukan Tuhan yang sejati. Namun, tulisan saya kali ini akan menceritakan Nabi Ibrohim dalam jiwa kita sendiri.
Dalam jiwa kita banyak sekali berhala-berhala yang sebeneranya perlu untuk dilawan. Lah, ke inginan untuk melawa itulah yang saya namai sebagai mental Ibroh (berarti kebijaksanaan dalam arab, ini mirip dengan nama Nabi Ibrohim), Ibroh dalam diri manusia akan selalu menyarankan kita untuk mencapai kebenaran yang sejati(atau dalam bahasa Tassawuf disebut sebagai Hakikat). Ibroh sendiri bermula dari kegelisaan yang dirasakan oleh diri kita, seperti pertanyaan “Benarkah patung itu sebuah Tuhan” , hanya Ibroh akan selalu mengarahkan kita untuk mencari kebenaran yang sejati. Itu semacam hasrat, namun bukan hasrat yang timbul dari keinginan untuk bahagia (dalam filsuf Jerman), namun hasrat untuk menjadi dirinya sendiri yang pernah “Eksisten”, kalau dalam bahasa sufi dikenal sebagai kembali kepada Hakikat.

Ibroh akan selalu berusaha menghancurkan berhala-berhala dalam jiwa kita layaknya Nabi Ibrohim yang mencoba untuk menghancurkan berhala-berhala buatan ayahnya. Namun yang di hadapi Ibroh lebih berat, karena Ibroh akan mencoba menghancurkan berhala dalam diri manusia yang notabennya mengantarkan manusia pada kesenangan. (Seperti halnya uang, cewek cantik yang montok, atau sifat iri dengki dan lainnya). Dalam konteks ini Ibroh membutuhkan dukungan berupa kesucian jiwa, atau jiwa yang terkendalikan untuk bisa menyeleksi mana berhala dan mana bukan berhala. Kalau kata Jalaludin Rumi dalam kita Fihi ma Fihi, manusia pada dasar nya memiliki berhala dalam diri manusia berupa sifat iri, pamer, riya, ataupun rakus akan harta, kekuasaan, atau istri yang cantik. Ibroh manusia selalu gelisah (atau merasakan Arngs dalam bahasa Jerman) hingga Ibroh itu menemukan jawaban dari apa yang digelisahkan oleh dirinya yaitu sesuatu yang substantif. Namun Ibroh bisa tersesat, maka dari itu cara menyucikan jiwa yang paling baik adalah “Biarkan dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.”


Kesimpulan :


Berikanlah kekuatan pada Nabi Ibrohim dalam jiwamu dengan menjaga nafs-mu dengan mem-“Biarkan dirinya sendiri menampakan dirinya melalui dirinya sendiri.