Melihat teman temanku yang begitu akrab, saya begitu iri, ha
ha ha. Seperti dosa besar yang telah aku perbuat padanya namun inilah seperti
balas dendam dari dalam dirinya. Tuhan seperti kehilangan konsistensi, karena
apa yang aku perjuangkan sekarang adalah apa yang aku istikhorohkan sebelumnya
bertahun-tahun, dan aku memperjuangkannya dengan tetesan tangis, mencoba
melawan keinginan dan lainnya, tapi sekarang Tuhan seperti kehilangan rahman
dan konsistensinya. Apa yang aku istikhorohkan dahulu kini membuatku nyaris
kehilangan keimanan dan keislaman yang aku miliki. Usaha yang saya lakukan
seperti di bantai oleh tangan Tuhan yang katanya pengasih lagi penyayang itu.
Aku sudah dalam kondisi kritisnya, doa “la haula wala kuawata ilabilah maupun hasbunallah,” hingga
shalawat aku panjatkan, hanya untuk menekan hasrat untuk mengakhiri kehidupan
yang absurd ini. Dan dalam pemikiran ini, saya berfikir, bahwa saya lebih
pantas menjadi Tuhan ketimbang Tuhan yang saya yakini sekarang. Tulisan-tulisan
semakin banyak saya lantunkan untuk mengobati depresi dan kecemasan ini, itulah
yang disarankan teman-teman saya untuk membantu saya menanggulangi rasa depresi
ini.
Hari kian hari terasa memburuk, namun dengan meningkatkan
sholat, setidaknya Tuhan masih memberikan belas kasihannya dengan memberikan
keikhlasan dan kesabaran. Ayat al-Qur’an yang dipelajari dan dilantunkan tak
membuatku untuk menahan diri untuk tidak membantingnya. Yah, benar jika memang
Tuhan itu baik namun mengapa dia memberikan ketidak jelasan pada saya.
Dalam hikayat ini, kegelisahan ini mengantarkan saya
berhubungan dengan buku filsafat, tasawuf dan sebagainya. Yang awalnya untuk
mengobati diri dari depresi sekarang menjadi topik kajian untuk lari dari
masalah. Iya, saya memang laki-laki yang gagal. Bukan hanya tidak bisa menepati
janji maupun tidak mampu membahagiakan orang yang mencintai saya, seperti orang
tua dan yang lainya. Maupun terhadap negara ini yang saya sebenarnya tak pantas
untuk menyandang kata “Mahasiswa”,
Mana aku tahu obatnya. Sakit ini Tuhanlah yang berkehendak,
segala pengobatan jiwa ini saya lakukan. Namun konsistensi dari hati lagi-lagi
berbicara. Iyah, inilah seri lemah, seri yang menceritakan bahwa saya mencoba
mengobati kegelisahan saya dengan belajar dan menulis untuk menafikkan
kebenaran bahwa saya memang orang yang gagal. Tapi apa salahnya?