Laman

Rabu, 25 November 2015

Lelaki Lemah#1 : Lelaki yang Merengek

Melihat teman temanku yang begitu akrab, saya begitu iri, ha ha ha. Seperti dosa besar yang telah aku perbuat padanya namun inilah seperti balas dendam dari dalam dirinya. Tuhan seperti kehilangan konsistensi, karena apa yang aku perjuangkan sekarang adalah apa yang aku istikhorohkan sebelumnya bertahun-tahun, dan aku memperjuangkannya dengan tetesan tangis, mencoba melawan keinginan dan lainnya, tapi sekarang Tuhan seperti kehilangan rahman dan konsistensinya. Apa yang aku istikhorohkan dahulu kini membuatku nyaris kehilangan keimanan dan keislaman yang aku miliki. Usaha yang saya lakukan seperti di bantai oleh tangan Tuhan yang katanya pengasih lagi penyayang itu.

Aku sudah dalam kondisi kritisnya, doa “la haula wala kuawata ilabilah maupun hasbunallah,” hingga shalawat aku panjatkan, hanya untuk menekan hasrat untuk mengakhiri kehidupan yang absurd ini. Dan dalam pemikiran ini, saya berfikir, bahwa saya lebih pantas menjadi Tuhan ketimbang Tuhan yang saya yakini sekarang. Tulisan-tulisan semakin banyak saya lantunkan untuk mengobati depresi dan kecemasan ini, itulah yang disarankan teman-teman saya untuk membantu saya menanggulangi rasa depresi ini.

Hari kian hari terasa memburuk, namun dengan meningkatkan sholat, setidaknya Tuhan masih memberikan belas kasihannya dengan memberikan keikhlasan dan kesabaran. Ayat al-Qur’an yang dipelajari dan dilantunkan tak membuatku untuk menahan diri untuk tidak membantingnya. Yah, benar jika memang Tuhan itu baik namun mengapa dia memberikan ketidak jelasan pada saya.
Dalam hikayat ini, kegelisahan ini mengantarkan saya berhubungan dengan buku filsafat, tasawuf dan sebagainya. Yang awalnya untuk mengobati diri dari depresi sekarang menjadi topik kajian untuk lari dari masalah. Iya, saya memang laki-laki yang gagal. Bukan hanya tidak bisa menepati janji maupun tidak mampu membahagiakan orang yang mencintai saya, seperti orang tua dan yang lainya. Maupun terhadap negara ini yang saya sebenarnya tak pantas untuk menyandang kata “Mahasiswa”,


Mana aku tahu obatnya. Sakit ini Tuhanlah yang berkehendak, segala pengobatan jiwa ini saya lakukan. Namun konsistensi dari hati lagi-lagi berbicara. Iyah, inilah seri lemah, seri yang menceritakan bahwa saya mencoba mengobati kegelisahan saya dengan belajar dan menulis untuk menafikkan kebenaran bahwa saya memang orang yang gagal. Tapi apa salahnya?