Laman

Minggu, 26 Maret 2017

Aku Menyerah

Aku benar benar menyerah, untuk segala kelakuan ku yang tidak tahu diri ini. Sebagai bentuk kelelahan diriku untuk mampu untuk jujur pada diriku sendiri, aku harap segenap usaha yang aku curahkan dari yang paling tidak berguna ini aku hanya berfikir untuk bisa menerima diriku saja. Aku memiliki terlalu banyak hal yang membuat ikatan ini terlalu susah untuk aku lepaskan, kehidupan memang seperti ini, dan aku memang tidak pernah mampu untuk bisa mengerti. Aku memang salah, atau denting waktu yang tidak mungkin bisa kembali, andaikan waktu diulang sebagai bentuk permintaan terakhirku, aku harap aku memang tidak pernah memilki hal yang terlalu mengikat dengan kenangan yang tidak aku mengerti, aku tidak dalam kondisi yang baik, seperti yang engkau sadari bahwa aku memang tidak memiliki permitaan selain kuserahkan diri ini secara utuh sebagai bentuk keputusasan yang tidak mampu aku tanggung ini, sebagai cara untuk menerima diriku yang tidak mampu menerima diriku, maaf.

Minggu, 19 Maret 2017

Aku

Aku ini binatang ternak,
dari kumpulan yang diternakan.
Jika kau menginginkanku,
maka mintalah pada tuanku.
Tak perlu kau tunjukan manisnya madu.
Kambing tidak menghisap madu.
Kambing menjadi penjagalan,
untuk menjadi bagian sang Tuan.

Kerinduan

Kerinduan adalah sebuah proses menuju yang lebih tersingkap. Ketersingkapan menurut Heidegger adalah sebuah kebenaran. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ikhya Ulumudin bahwa tajali, merupakan salah satu proses menuju kebenaran. Hati yang kotor akan menutupi kebenaran, seperti cermin yang berdebu kita tak akan mampu melihat dengan sempurna wajah diri kita yang sebenarnya, jika debu dalam hati masih menutupi cermin jiwa itu.
Tuhan ada dalam diri kita, seperti kata Nietzsche ataupun al Halaj, tapi tidak semua orang melihatnya. Tuhan begitu dekat dengan dirikita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Tapi substansi kita berasal dari Tuhan, bagaimana tidak? Kita dipaksa oleh kesombongan kita, bahkan dalam agama sekalipun bahwa Tuhan adalah entitas yang terpisah. Layak sebuah tangan, apakah tangan terpisah dari tubuh manusia, kesadaran tangan akan mencoba menguggulkan egonya hingga dia merasa terpisah dari tubuhnya.
Tapi Tuhan lebih tahu, bahwa manusia adalah bagian dari dirinya. Tak ada orang yang ingin menyakiti dirinya sendiri, begitu mungkin dengan Tuhan, apakah dia tidak sakit ketika menyakiti dirinya sendiri. Andaikata kesakitan bagian tubuh itu, apakah tubuh yang substantif tidak pernah peduli. Untuk itu mengapa engkau berfikir bahwa Tuhan tidak penyayang.

Sabtu, 18 Maret 2017

Mudah adalah Kutukan

Mudah adalah kutukan. Sesuatu yang mudah didapatkan akan membuat kehilangan hal tersebut dengan mudah, Pramudya Anantha Noer. Tuhan menjadikan sesuatu menjadi mudah untuk memberikan kutukannya. Dia ingin berbicara bahwa diri-Nya tidak bisa dicintai dengan mudah. Beragam cara seseorang yang mencintainya tidak akan pernah sampai pada kesadaran mencintai-Nya. Tidak ada yang mudah untuk sampai pada sisinya, mungkin Tuhan ingin berkata bahwa "Emang aku ini mie instan yang bisa di buat dengan mudah."
Kesadaran menjadi sebuah nilai yang tidak ternilai. Karena kesadaran itulah penyingkapan dari makna Ada dan tidak semua orang bisa menyingkapkan makna ada tersebut. Penyingkapan ada memang menjadi sesuatu yang berharga. Karena kebahagiaan yang dielukan oleh manusia juga berasal dari makna ada tersebut. Lalu bagaimana seseorang menempuh makna Ada.
Perjalanan menuju Ada memang begitu penuh dengan rasa sakit. Karena dalam hadis kudsi tersebut seseorang harus disucikan untuk makna ada. Tubuh bisa disucikan dengan air dan sabun, lalu bagaimana dengan hati. Hati hanya bisa disucikan dengna penderitaan. Lalu orang sakitlah yang menganggap dirinya dan orang gilalah yang menganggap dirinya bahagia. 

Senin, 13 Maret 2017

Seribu Perjalanan

Pada hal yang tidak perlu dituliskan tentang bagaimana kita menyikapi makna ada. Bahkan framework yang kita miliki tentang ada tidak akan membuat kita sampai pada pemahaman makna ada.
Perjalanan ini memang memakan banyak tenaga dan materi, tapi aku tidak bisa kembali karena kunci yang hilang, dan andai saja kunci itu bisa kembali aku temukan mungkin aku bisa kembali ke tempat dimana aku bisa tidur dengan tenang.

Minggu, 26 Februari 2017

Let Her Go

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
Cause you loved her too much and you dived too deep

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go
And you let her go
Well you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Compile Java Servlet di Terminal

Untuk bisa mengedit file servlet anda di server tomcat anda harus mengkompile code anda di terminal dengan perintah berikut.
javac -classpath C:\apache-tomcat-7.0.23\lib\servlet-api.jar MyTestServlet.java

Selasa, 14 Februari 2017

Lampu

Berbentuk  tabung panjang dan putih, layaknya sebuah paralon, begitu putih, seperti payudara yang putih. Ah apakah artinya payudara putih, lalu bagaimana dengan botol, tanpa tutup, buat ditutup toh juga tidak ada yang dimasukkin. Aku masih tidak mengerti tentang tv yang terbalik bertuliskan Mulyono, apakah itu berarti Bambang Mulyono, guru yang diidamkan dan sekarang justru memberikan penyakit, tapi apasalah dengan sakit. Bukankah sakit juga merupakan keindahan, ah persetan dengan Nietzsche, aku ini binatang jalang, kok jadi nyambung Chairil Anwar, aku masih tidak tahu apa kaitan chairil anwar dengan Choirul Muttaqin. Apalagi kasusku yang tidak pernah kelar seperti warkop DKI.
Siapa mau orang hidup dalam masalah, tapi aku mau, asal bisa seneng ajah. Ah mana ada orang seneng dapet masalah? Pasti kau tahu kan bahwa orang memang susah dipahami, diri sendiri ajah masih tidak bisa ngurus, mandi jarang, tidur numpang di adik kelas. Akh itu atraksi doang biar dapet memek. Toh aku tidak pernah ketemu dengan memek.

Komentar Kajian Valentine MG: Tentang Cinta dan Eksistenasialisme

Cinta merupakan sebuah solusi dari permasalahan eksistensial terbesar dalam kehidupan manusia, itulah yang diungkapkan oleh Soren Kierkegaard dalam The Work of Love. Eksistensialisme membahas tentang bagaimana paradigma yang dikaitkan dengan ada, atau lebih sering dikenal dalam bahasa filsafat, tentang kajian Ontologi. Lalu apakah ada itu mendahului ide atau tidak saling berkorelasi atau sebagainya?
Dalam kajian yang dilakukan oleh Majalah Ganesha pada tanggal 14 Februari 2017, yang bertepatan dengan dua hari sebelum Aziz Amerul Faozi merayakan ulang tahunnya yang ke 23, ada beragam pertanyaan yang masih membenahi diri saya. Pertama, jika cinta merupakan solusi eksistensial terbesar maka mengapa cinta masih bergantung pada entitas selain cinta, bukankah ada atau sesuatu yang eksis itu muncul dari ketiadaan, atau dengan artian cinta merupakan entitas yang independent dan merupakan sebuah entitas yang akan mempengaruhi entitas dependesi yang lain. Dalam kajian tersebut pembicara menjelaskan cinta muncul dengan alasan atau dalam kajian tersebut dinamakan sebagai “apanya”, yang membentuk struktur cinta. Jean Paul Sartre dalam L’Existence et L’Neant, berujar bahwa ada muncul dari ketiadaan, dari tafsiran dia terhadap Martin Heidegger, yang mecoba menafsirkan bahwa ada muncul begitu saja, dan prosesi tersebut dikenal sebagai Angst. 
Pembicara juga secara tersirat bahwa dalam cinta ada maksud dan tujuan yang terepresentasikan dalam hasrat, tapi hal ini akan menjelaskan bahwa hasrat mendahului cinta. Dalam von Der Maningfachen Bedeutung des Seinden nach Aristotle, Heidegger berujar bahwa, kebenaran tidaklah membutuhkan bukti, dia akan menampakan diri dan menginterpretasikannya sendiri, adalah lebih bijak untuk membiarkan kebenaran menampakan dirinya sendiri, dari dirinya melalui dirinya. Dan tidak ada kaitan antara bukti dengan kebenaran menurut Heidegger, dan jika kebenaran membutuhkan bukti maka kebenaran tersebut disebut dekaden terhadap bukti, atau dalam bahasa saya disebut sebagai “mengada-ada”, karena adanya bergantung pada sesuatu.
Tetang teori cinta yang dibahas oleh bapak pembicara, menurut Martin Heidegger, bahwasanya kalaupun kita berusaha untuk mencari beragam framework untuk menjelaskan ada, kita tidak akan sampai memahai ada, lalu mengapa kita tidak membahas tentang ketiadaan. Begitu pula cinta, apakah beragam framework tentang cinta yang telah disampaikan oleh bapak pembicara, telah menyempitkan cinta itu sendiri?
Tentang subjek dan object dalam cinta. Dalam Fihi ma fihi, fathul rabbani, al-hikam yang mencoba bekspresi dalam puisi. Cinta berarti bentuk lenyapnya diri seorang pencinta dalam entitas yang dicintai, dari sini tidak ada subjek dan objek. Dalam hermeneutika Heidegger, proses Dasein “Ada disana” berarti dia berada menyatu disana, jika ada kerangka subjek dan objek berarti kondisi itu dalam ranah prareflektif, dan ini berada dalam domain epistemologi maupun aksiologi, sehingga pembahasan tersebut tidak bisa dijadikan cinta sebagai solusi eksistensial, apalagi terbesar.
Tentang makna aku dan kamu, seperti yang tertulis dalam Cukup karya Voldemort (yang kau tahu namanya tapi tidak boleh disebut : lihat daftar pustaka indeks ke 1). Voldemort menjelaskan bahwa “Hidup ini tentang aku, bukan tentang aku dan kamu”, dari sini kita akan belajar, bahwa dalam cinta, kamu dan aku telah melebur manjadi aku. Dalam kondisi ini tidak ada kerangka, dan tidak ada apa-apa, atau berarti nihil secara mutlak (Tiada secara final), atau seperti yang diungkapkan dalam beragam puisi persia sebagai bentuk kefanaan kamu dalam aku, dimana entitas individu telah lenyap dan menyatu dalam kerangka universal dan ketiadaan sekaligus.

Daftar Pustaka :

  1. Kusumawardhani, Intan. 2016. “Cukup”. Bandung : http://jalanberbunga.tumblr.com/post/142348367043/cukup
  2. Kierkegaard, Soren. -. “The Work of Love.”
  3. Rumi, Jalaludin. -. “Fihi ma Fihi.”
  4. Heidegger Martin. - .”Von Der Maningfachen Bedeutung des Seinden Nach Aristoteles.”
  5. Heidegger Marting. -. “Sein und Zeit”
  6. Sartre, Jean Paul. -.”L’etre et L’ neant”

Senin, 30 Januari 2017

Terus Belajar

Aku terus belajar bahkan hingga semangatku memudar dalam sebuah keputus asaan. Ketika dunia berubah menjadi menyebalkan aku terus berusaha untuk menerimanya. Apa yang telah direncanakan oleh tuhan semoga ini yang terbaik.

Sampai Kapan

Sampai kapan kehidupan ini berahir, ketika segalanya telah sia-sia. Mungkin ini hukuman dari tuhan karena aku berujar bahwa akulah manusia terbaik di dunia ini. Namun segala telah aku sembahkan untuk engkau mengerti apa yang ku lakukan, bukankah engkau tahu aku orang yang seperti apa bahkan melebihi diriku aku hanya berharap bahwa engkau masih memiliki belas kasihan untuk mengahiri hidupku sekarang.

Jumat, 20 Januari 2017

Update Raspberry Pi

Setelah november 2016 raspberry pi didisable bagian ssh untuk bisa mengaksesnya anda harus membuat file ssh di direktory boot saat melakukan editing di sd cardnya.

Aku Suka Kamu


Aku menyukaimu yang sekarang. Aku lebih suka sikapmu yang memukulku, karena kita teman. Aku selalu ingin berkata padamu bahwa jangan pernah kasihan kepadaku. Aku tidak suka dibelas kasiani, dan bukankah pukulan itu juga membuatmu puas. Aku lebih suka engkau bersikap tegas dan jujur ketimbang belas kasihan yang kau tunjukan. Kau lupa, bukankah kita kita telah berhubungan bertahun-tahun, dan bahwa aku bukanlah orang yang selalu ingin diperlakukan seperti orang terhormat. Aku hanya ingin hubungan kita dibangun atas dasar kejujuran. Tak masalah jika kau mengambil nyawaku, ini adalah resiko. Aku hanyalah orang yang ingin menelanjangi kebenaran, aku hanya ingin melihat sesuatu secara lebih terang, dan ini menggaggumu, sudah akhiri belas kasihanmu dan aku bisa berjalan dengan tenang, dengan kebenaran bahwa ini memang sudah ditakdirkan dalam proses yang lebih transparan.

Sabtu, 14 Januari 2017

Takdir dan Keputusasaan


Takdir merupakan ketentuan dari Tuhan, dalam kitab al Hikam. Namun takdir adalah bentuk finalitas kondisi dari apa yang saya cerna. Ketika takdir menurut Nietzsche ada dalam diri setiap manusia. Lalu bagaimana kita bisa menghubungkan kedua hal dari Ibnu Atha’ilah dan Fredrich Nietzsche itu. Namun perlu ditekankan bahwa takdir akan muncul ketika kita mengalami beragam peristiwa guna mendapatkan finalitas takdir, walaupun Rumi, pernah berargument bahwa peristiwa itu juga memang telah ditentukan, tapi setiap manusia yang mengalami peristiwa akan mencatatkan diri mereka dalam takdir tersebut.
Sebagian besar manusia akan menanyakan takdir dalam fase keputusasaan, kecemasan muncul dalam kondisi ini. Namun Heidegger pernah berargument bahwa takdir ditentukan dari bagaimana kita menyikapi sebuah kecemasan, dan sikap itulah yang kita namai sebuah takdir. Seperti orang yang mengalami kecemasan tentang kehidupan yang begitu melelahkan hingga di melakukan bunuh diri atau mencari kehidupan yang lain, bunuh diri atau melalukan kehidupan yang lain itulah yang disebut sebagai takdir. Sikap yang nampak, walaupun respon begitu beragam dan acak, seakan muncul dari ketiadaan. Namun ada itulah yang akan mengkonstruksi struktur ontis.
Keputusasaan adalah sebuah keadaan dimana kita akan susah untuk bersikap jujur pada diri kita. Hingga kita akan menyerahkan pada kebohongan atau tetap berada pada sikap yang jujur namun dengan resiko yang mungkin akan sangat menyakitkan. Tapi Nietzsche pernah berujar bahwa rasa sakit adalah sebuah pleasure of life. Keputus-asaanlah yang akan menguji setiap individu untuk menghadapi kecemasannya dan menentukan takdirnya.
Keputusasaan juga merupakan sebuah keindahan dari kehidupan, dimana hal-hal akan menjadi sangat berwarna dan berasa dalam kehidupan. Ketika pilihan mati untuk lari dari kenyataan, atau mencoba mengejar sesuatu yang memang sia-sia. Namun sia-siapun juga sebuah keindahan dalam kehidupan karena hal itu akan memeberikan rasa sakit dan melahirkan sebuah keindahan. Kehidupan memang sebuah kesia-siaan, ketika segalanya akan diakhiri dengan fase yang bernama kematian, tapi apa salahnya jujur dan menjadi diri sendiri ketika kesia-siaan itu merupakan sebuah kepastian dalam hidup, dan sikap kitalah yang akan menentukan tentang makna kesia-siaan, apakah akan tetap berujung pada kesia-siaan yang bermakna atau kesia-siaan yang tidak bermakna. Kesia-siaan bermakna berarti memberikan kita kesadaran ontologis tentang makna kecemasan, sedangkan kesia-siaan tanpa makna, adalah bagian yang tidak bisa kita refleksikan. Walaupun dari paragraf ini bisa disimpulkan bahwa kesia-siaan bisa jadi adalah sebuah ke-tidak-sia-sia-an. Entahlah, tapi setiap keputusasaan akan selalu ada pilihan untuk menentukan takdir, dan mungkin keputus-asaan itulah kondisi prafinalitas untuk menentukan takdir.

Rasa Metaforis


Pengantar

Pelajar merupakan salah satu manusia terpilih untuk melakukan pekerjaan mereka untuk belajar. Belajar juga merupakan salah satu untuk mengkonstruksi diri melalui konstruksi pola pikir. Tidak semua manusia berstatus pelajar di KTP benar-benar belajar. Ketika pelajar yang sesungguhnya mencoba untuk mencari keterpolaan dari sebuah dialektika kehidupan, baik dari alam fisik maupun dari alam non fisik. Status KTP pelajar dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, layaknya untuk mendapatkan pekerjaan hingga mendapatkan istri yang dinantikan, dalam hal ini status KTP pelajar dijadikan zuhandene untuk mendapatkan keinginan.
Lalu bagaimana pelajar yang sesungguhnya. Pelajar sesungguhnya adalah dia yang belajar. Belajar berarti mengkonstruksi diri dari pola pikir atau lebih terkenal dalam bahasa matematika sebagai konstruksi algoritma. Sebagian pelajar KTP mengolah data dan melakukan inferensi terhadap data tersebut, dan bukan mengolah data tersebut sebagai metode melihat keterpolaan, atau lebih dikenal sebagai konstruksi algoritma, justru hanya sebagai proses reproduksi informasi data belaka.
Dalam Programme International Student Assesment, sebuah kurikulum belajar seharusnya mendidik seorang pelajar untuk bisa mengamati alam (Natural Sains), Membaca (Reading) dan berhitung (Math). Proses konstruksi yang diajukan oleh PISA ini, memang ditujukan untuk memfasilitasi pelajar untuk bisa melakukan hermeneutika kehidupan, baik fisis maupun non fisis.
Dengan jam belajar yang tinggi menurut pemerintah Indonesia, terlihat bahwa kurikulum yang diberikan tidak berdampak efektif pada proses hermenutika para pelajar di Indoneisa. Pendidikan di Indonesia justru memberikan tekanan bagi para pelajar di Indonesia yang masih dituntut akan prestasi yang tentatif hingga para pelajar di Indonesia mengalami Alethia (Sikap tidak mau menerima diri sendiri, atau sikap tidak mampu jujur terhadap diri sendiri, menurut Marx). Siswa akan ditentukan kinerjanya dengan prestasi, namun prestasi yang ada dalam kesadaran pemberi kurikulum tidaklah prestasi yang mampu membuat seorang pelajar atau orang disekitar pelajar mengkonstruksi dirinya atau lingkungan disekitar mereka. Dalam suatu hari kedepan akan menjadi bencana yang cukup mengerikan bagi bangsa ini, karena proses kapitalisasi pendidikan akan menjadi barang dagangan dan tidak memberi kesempatan bagi seorang pelajar berdana pas-pasan. Ini akan sangat berbahaya karena selain akan meningkatkan kesenjangan sosial, harga pendidikan yang tinggi tidak bisa memberi kesempatan bagi orang yang tidak kurang memiliki dana untuk belajar melalui pendidikan formal.
Pendidikan seharusnya menjadikan seorang pelajar menjadi dirinya sendiri dan menjadi sebuah alat untuk mengatasi masalah Alethia (Ketidak mampuan untuk menerima kebenaran). Namun di negara ini justru menjadi sebuah alat untuk meningkatkan alethia, melalui kapitalisme pendidikan di negara ini. Pendidikan yang dijadikan sebagai status sosial terlihat pada KTP di negara ini. Hal yang patut mengherankan pada kondisi ini adalah “Untuk apa KTP dituliskan status seperti mahasiswa, pengusaha, atau pelajar.”, kalaupun dituliskan dalam KTP apakah hal itu akan mampu memberikan konstruksi yang benar dalam proses kinerja melalui status KTP, dan lagi pula profesi merupakan masalah eksistensial yang buat apa orang lain mengetahui itu?

Rasa Metaforis

Rasa metaforis merupakan salah satu metode berdialektika sejati. Bahasa muncul setelah rasa metaforis. Proses membaca, berhitung, maupun memahami alam, adalah metode kita untuk memahami bahasa metaforis. Bahasa metaforis inilah yang nantinya akan menjadi dialektika sejati entah dengan sesama manusia, maupun makhluk yang bukan manusia, seperti mesin, binatang, pohon atau batu sekalipun. Rasa methaforis ini yang nantinya terejawantahkan dalam bentuk teori, puisi, cerpen maupun berupa ungkapan rasa lain seperti lamaran.
Mengumpulkan rasa metaforis dilakukan oleh negara maju dengan bahasa berupa, arsip buku, diskusi ataupun kuliah dikelas. Namun kurikulum di Indonesia yang hanya sekedar ikutan ini belum mampu memahami tujuan dari pendidikan sebagai olah rasa metaforis ini. Seperti yang dikatakan oleh G. W. F. Hegel, bahwa kuantitas akan menentukan kualitas, tidak semua kuantitas itu mengada dalam diri secara eksistensial, dan walaupun dalam kuantitas yang tinggi sekalipun, ketika hal itu belum mampu eksis dalam Dasein maka hal ini akan tidak make sense. Rasa harus dilatih dengan rasa itu sendiri, dan semakin mengolah rasa maka rasa tersebut akan mejadi semakin berkualitas.

Kritik Kurikulum

Kurikulum diperlukan untuk merencanakan pembentukan pola pikir bagi orang yang ingin belajar. Namun apakah kurikulum itu efektif atau tidak maka tergantung dari pencapaian dari pelajar itu sendiri, walaupun dalam proses pencapaian bersifat eksistensial, tapi mengapa hal ini bisa dilakukan kuantifikasi melalui prestasi, apalagi dengan prestasi yang bersifat lebih tentatif seperti IPK, juara atau yang lainnya. Menurut Syech Ibnu Athailah as Sakandari, dalam kitab al Hikam, bahwa untuk mancapai prestasi yang tinggi maka seseorang harus mampu mendalami hal yang dihadapi, namun prestasi yang tentatif masih lebih diberhalai oleh bangsa ini ketimbang prestasi yang dilalui dari proses-proses yang subtil, dengan hal ini kita akan melihat bangsa ini mudah untuk terombang-ambing dalam berhala-berhala layaknya prestisme, status sosial, uang, atau kelamin. Berhala-berhala tersebut akan membuat bangsa ini lebih mudah menjadi target pasar, hal ini ditunjukan dengan banyaknya barang luar negeri yang masih banyak beredar dan semakin banyak, dan bangsa Indonesia hanya dijadikan sebagai konsumen.
Jam belajar yang tinggi di Indonesia, tidak dibarengi dengan sistem efektif belajar, entah karena pembuat kurikulum belum memahami tentang makna belajar hingga asal-asalan dalam menentuka perencanaan, atau pelaku pendidik yang belum siap, tapi jelas terlihat bahwa tidak ada peraih nobel dari Indonesia, dan ini menunjukan bahwa di Indonesia efektifitas dari pendidikan ini sangat tidak efektif. Apakah menurut pembuat kurikulum, belajar haruslah dari sistem formal. Ketika belajar adalah proses untuk mendekonstruksi Alethia, hal ini justru akan semakin membuat para pelajar di Indonesia belajar tidak dari dalam dirinya, dan tidak menjadi dirinya sendiri.

Kurikulum Asimetris

Mengkritik tanpa memberikan solusi yang jelas justru akan semakin membuat masalah semakin pelik. Kurikulum asimetris bisa dijadikan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Seperti model bisnis asimetris yang berkembang di dunia ini, bahwa untuk menjual sebuah produk kita bisa mengefektifitaskan melalui branding. Tujuan dari proses asimetris ini adalah tetap menjual barang namun tujuan utama dari proses ini adalah menjual produk yang kita coba pasarkan. Namun asimetris ini disalahgunakan dengan menjadikan pendidikan sebagai alat dari tujuan perdangan hingga proses belajar menjadi alat tentatif dan bukan alat sustain untuk perdagangan, tidak salah memang jika digunakan untuk perdaganan tapi jika hanya bersifat tentatif maka kehancuran dari sistem ini hanyalah tinggal menunggu waktu.
Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ghozali bahwa segala yang aksiden akan mengikuti substansinya, jika uang dan hasrat berhala dijadikan sebagai substantif, maka proses ini akan kurang dihayati ketika berhala-berhala yang tentatif terpenuhi. Perlu nilai yang lebih agung untuk mengkonstruksi kurikulum agar pendidikan di Indonesia mencapai prestasi yang tinggi melalui proses yang subtil, bukan sekedar proses tentatif yang cenderung membuat prestasi yang kebetulan.
Pendidikan asimetris yang dikonstruksi untuk nilai yang lebih luhur, seperti membuat dunia yang lebih baik, akan terus berjalan, bahkan dengan jam belajar formal yang tinggi maupun tanpa jam belajar formal sekalipun. Dalam artian disini, bahwa konstruksi diri yang membentuk konstruksi masyarakat melalui konstruktri pola pikir akan terus berjalan walau badai menghadang.

Daftar Pustaka

  1. Heidegger, Martin. 2010. Being and Time. Joan Stambaugh, trans. Translation revised by Dennis J. Schmidt. Albany, NY: State University of New York Press.
  2. Kierkegaard, Soren. 1995. Work of Love. United Kingdom : Princeton University Press.
  3. Gadamer, Hans-Georg. 1976. Philosopical Hermeneutics Translated and Edited by David E. Linge. Berkeley : University of California Press
  4. Sowel Thomas. 1982. Marxism Philosophy and Economics. Routledge Revivals.
  5. Descartes, Rene. 2006. Discourse on the Method of Correctly Conducting One’s Reason and Seeking Truth in the Sciences. Oxford : Oxford University Press.
  6. Sartre, Jean Paul. 1993. Being and Nothingness. Washington : Washington Square Press.

Filsafat Cinta 2 : Stochastic Cinta 1


Dalam statistika dikenal beragam analisa, dari analisa deterministik hingga analisa stokastik. Deterministik akan mudah kita perhitungkan ketika kejadian pasti muncul. Lalu bagaimana dengan yang tidak pasti. Dalam analisa stokastik kita mengenal beragam variable seperti deviasi, auto korelasi, atau distribusi peluang. Lalu mengapa saya mengangkat kasus matematika ini dalam percintaan?
Cinta masih menjadi salah satu penyebab dari beragam konflik? Tapi jika memang benar apa yang dikatakan Kierkegaard bahwa cinta merupakan metode komunikasi methaphoris yang berada pada ranah relijius, dan bukankah dalam relijius kita akan memahami bahwa segala sesuatu memiliki sebuah ruh yang sama, dan dengan kesamaan ini, bukankah mereka tidak akan bisa saling berkonflik.
Ketika selakangan masih dikorelasikan dengan cinta, maka pacaran, gebetan bahkan matrimoni sekalipun tidak akan pernah sampai pada kesadaran ontologis tentang makna cinta. Karena baik pacaran, gebetan bahkan matrimoni sekalipun dibentuk atas intensionalitas kelamin. Ketika kita mengharap cinta melalui jalur pacaran, gebetan bahkan matrimoni, hal ini merupakan kegagalan dalam berfikir. Andai kata anda ingin dicintai secara tulus, jika benar menurut Fyodor Dosto, bahwa cinta adalah metode melihat tuhan melalui yang dicintai, maka apakah tindakan itu menyimpang dari tujuan berkomunikasi dengan Tuhan, tapi menatap selakangan.
Kata Kierkegaard, cinta merupakan eksistensialisme terbesar, dengan cinta seseorang akan melihat emas sebagai debu, dan debu menjadi emas, seperti itulah kata Jalaludin Rumi. Dengan cinta segala hal bisa dinihilkkan, seperti halnya emas dan debu yang berbobot sama bagi pecinta.
Tuhan yang bisa dilihat oleh seorang pecinta, karena memang butuh cinta untuk bisa melihat tuhan. Tapi kenapa masih masalah selakangan, seperti gebetan, pacaran, bahkan matrimoni pernikahan masih dikaitkan dengan cinta.
Dunia ini memang penuh dengan orang yang sok tahu, mungkin saya juga termasuk. Orang akan lebih mendengar dari apa yang dia hormati. Tapi bagaimana tentang makna kejujuran itu sendiri? Cinta adalah kejujuran, sebuah representasi dari isi hati yang terejawantahkan melalui sikap, bisa dengan memberi bunga, atau hubungan seks sekalipun.
Cinta bukanlah pengorbanan, cinta adalah bentuk kefanaan sang pencinta atas eksistensi yang dicintai. Bagaimana Sesuatu yang telah fana’ masih bisa berkorban.

Gratisnya Indonesia


Seperti yang dikatakan oleh Sun Tzu dalam Art of War, andaikata kaita kau memasuki medan pertempuran yang absurb maka diamlah dan berfikir lebih tenang. Segala sumber daya akan diberikan oleh lingkungan kepada Jendral yang Berkepala dingin. Itulah kalimat yang cukup untuk bertahan dalam medan pertemperuan yang absurb ketika segala kebutuhan mengalir tanpa arah dan tujuan.
Indonesia merupakan negara dengan absurdisitas yang cukup tinggi, ketika semua berperang saling memakan layaknya hutan rimba. Tapi dalam chaositas yang tinggi akan melahirkan harmonitas yang tinggi. Lebih susah melawan musuh yang acak ketimbang musuh yang memiliki kemampuan tinggi. Musuh acak akan lebih susah disadari ketimbang musuh dengan kemampuan yang tinggi. Lebih susah diantisipasi berarti harus meningkatkan konsentrasi seorang Jendral untuk memahami lingkungan yang lebih bersifat dinamis.
Semakin absurb sebuah medan berarti distribusi resource terdistribusi secara normal gaussian, dalam kasus ini, kita tidak bisa berharap dari medan yang acak. Namun ada beberapa cara untuk melihat keacakan dari medan, terdesak dalam kondisi acak akan membuat kita lebih mendalami harmonisasi medan acak.
Berikut metodenya :
  1. Biarkan medan berbicara. Medan akan berbicara pada diri kita seperti angin kencang, angin sepoi, hujan, badai, atau gerimis. Tapi walau badai, walau sepoi keduanya merupakan resource yang bisa dimanfaat oleh sang Jendral. Gelap dan terang, Jujur maupun kebohongan merupakan resource yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk posisi yang baik untuk sang Jendral. Mendengar lebih banyak dari makian, maupun pujian adalah menambah resource kepada sang Jendral untuk membentuk pola serangan yang tidak bisa dibendung oleh pengganggu. Sintesa dari resource ini bisa dijadikan sebuah harta berharga tanpa disadari oleh pengganggu, dari sini pengganggu akan menjadi pendukung kesuksesan sang Jendral, dan Jendral harus berterima kasih atas kejayaan kekuatan ini. Dan segala menjadi resource yang berharga, baik gelap atau terang, baik pujian atau makian, baik kejujuran atau kebohongan, baik kesetiaan ataupun penghianatan. Be Quite You are and the more able hear.
  2. Bersabarlah, karena medan yang bergerak dinamis tidak bisa menjamin keberhasilan sang Jendral, tempo dan posisi yang matang serta kesadaran akan kondisi lapangan menjadi alat pengambil resource yang paling bagus, tidak ada kondisi yang buruk bagi seorang jendral yang telah melampaui, karena semuanya akan di afirmasi dan dijadikan kekuatan untuk pertempuran yang tidak terduga maupun tidak terduga.

Melamar Diri Sendiri


Hai Kau, Aziz Amerul Faozi. Mengapa engkau masih pada pendirianmu? Ketika segalanya memusuhimu. Ketika kehidupan bahkan masih memberimu kesialan yang tidak perlu. Ketika takdir tak membawamu pada kemanisan hidup? Ketika kehidupan tak menghargai kejujuran? Ketika kehidupan tak mampu lagi bersikap adil pada realitas jujur dan bohong. Ketika kehidupan tak mampu lagi mendengar apa makna dari sebuah ketiadaan?
Apa yang ada dalam hatimu hingga engkau masih tetap setia pada api yang membakarmu? Kau tidak mengerti segala telah berubah dengan waktu, ketika segala surgawi telah menggerogoti kejujuran pada hati mereka. Ketika hasrat telah merubah mereka menjadi seorang penipu? Ketika berhala emas, memek dan kekuasaan telah menjadikan mereka tak mampu lagi menjadi diri mereka sendiri.
Aku sangat mengenal manusia, dan kau tidak seperti mereka? Siapa kau, dari mana asalmu? Mengapa kau begitu berani? Mengapa engkau tetap teguh dalam dunia yang penuh kepalsuan ini. Aku hanya ingin kaulah yang mendampingi hidupku hingga terang akan terbukti terang, hingga gelap terbukti gelap, walau aku tahu andai semua terbukti maupun tidak engkau tetaplah sama, sama seperti dirimu sekarang.

Tidak Perlu


Sayang, tidak perlu.
Tak perlu kau tunjukan,
mewahnya mobilmu dan megahnya istanamu.
Aku hanya menghasrati,
yang bila kau miliki,
Aku akan mengemis,
agar kau memberikannya,
yaitu
Ketiadaan.
Andai kau memilikinya,
Lalu apa yang akan kau tunjukan padaku.
Toh ketiadaan itu,
memang tidak ada
wkwkwkwk



Filsafat Cinta#1 : Ketika Cinta Menjadi Fondasi

Menurut Soren Kierkegaard, cinta merupakan solusi eksistensialisme terbesar dalam menghadapi kehidupan. Cinta merupakan salah satu metode melihat tuhan melalui perantara yang kita cintai. Cinta memang bertingkat, cinta estetis, cinta etis, hingga cinta yang religus. Adalah sebuah kebohongan jika kita mengatakan mencintai Tuhan tapi kita tidak mencintai makhluk sekeliling kita , bagaimana kita bisa mencintai yang terlilhat tanpa kita tidak bisa mencintai yang terlihat.
Kebanyakan manusia mengamputasi realitas, dengan menganggap bentuk sebagai sebuah makna, tanpa memahami bahwa makna terpisah dari bentuk, atau diungkapkan oleh Kierkegaard sebagai bahasa yang terbaca telah menutupi sense of methaporical dari kata itu sendiri. Cinta akan membuat kita membangkitkan ruh untuk bisa saling terhubung lalu mengejawantahkannya dalam kata yang merupakan pengejawantahan dari sense of methaporical itu sendiri. Kita sering berkomunikasi tapi masih dalam ranah yang estetis, sekadar komunikasi yang berjalan tanpa adanya roh yang terbangun dari proses komunikasi tersebut. Untuk itu seseorang akan sering menyalah pahami orang lain, karena mereka tidak mencoba melihat Tuhan dalam diri orang yang ingin diajak bicara, dalam konteks ini Kierkegaard menyatakan bahwa komunikasi ini merupakan komunikasi religius atau hubungan cinta.
Cinta merupakan salah satu metode membangkitkan roh untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita mencoba melakukan upbuilding melalui cinta, seperti menjadi lebih pintar, menjadi terhormat, menjadi tampan atau yang lain melalui cinta, hal ini bertentangan dengan cinta itu sendiri. Dan hal-hal yang upbuilding tersebut justru akan mengamputasi cinta hingga roh akan hilang. Upbuilding bisa kita lihat dalam sebuah kasus ini, seorang bayi ketika memegang payudara ibunya yang sedang menggendongnya, merupakan salah satu bentuk komunikasi dari ibunya yang ingin agar anaknya tertidur, makna dari kata tertidur tersebut tersampaikan melalui bahasa tubuh dari sang ibu. Dari kasus ini terlihat bahwa roh sang ibu dibangkitkan untuk berkata pada anaknya, tidurlah. Dan dari kasus ini kebutuhan untuk upbuilding tidaklah nampak, dan kasus ini juga menunjukan bahwa cinta tidaklah muncul melaui ketampanan, kekuasaan, kehormatan, maupun kekayaan.
Ketika cinta tak bisa didefinisikan, Kierkegaard justru mengungkapkannya dalam beragam statement walaupun statement itu hanyalah sebuah bentuk dari kata metaphoris yang masih terpisah dari makna itu cinta itu sendiri, tapi Kierkegaard mencoba menyampaikannya agar lebih mudah terpahami.
Cinta adalah upbuiding itu sendiri. Cinta merupakan kebahagiaan itu sendiri, dan bukan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Cinta adalah kesabaran, dengan cinta kita bisa terus bertahan di dalam kondisi terendah dalam hidup kita. Cinta akan menyimplifikasi segala permasalahan dalam hidup yang terkadang bagi bukan para pecinta hidup akan terasa lebih melelahkan. Ketika seseorang berkata tentang rasa cemburu, seseorang yang pencemburu merupakan seorang yang martir dan penuh dengan kebencian, dan dari kita akan menyadari bahwa rasa cemburu itu telah mendekonstruksi cinta itu sendiri.
Cinta tidak melihat itu miliknya. Seseorang yang melihat bahwa itu miliknya harus menekan segalanya untuk berada disisinya, harus menghancurkan sebuah tempat untuk dijadikan miliknya. Tapi cinta akan menghadirkan dasar dan dijakan sebagai pondasi.
Love melahirkan segalanya, untuk apa segalanya terlahir, tapi itu merupakan cara paling ultima untuk mencari segalanya yang terimplikasi, bahwa cinta dihadirkan dari dasar dan itulah yang membangunnya.
Cinta mempercayai segal hal, untuk bisa percaya pada segala hal berarti mensimplifikasi bahaw cinta sebagai ada yang tidak terlihat, dan melalui oposisinya sebagai yang terlihat maka akan terjadi ambiguitas dan ini akan menyakitkan, ketidak percayaan akan mengambil yang jauh sebagai dasar untuk menghadirkan bahaw cinta tidak hadir dan berarti ketidak percayaan tidak dapat membangun.
Cinta mengharap segala hal, tapi untuk berharap segala hal menjadi ada, berarti mengimplifikasi cinta. Lihat seorang anak yang jago bapaknya mungkin tidak tahu bahwa anaknya sudah menjadi jago, karena bapaknya menharapkan segala hal untuk anaknya. Bapaknya yang menharpakan banyak hal dari anaknya mungkin telah membuat dirinya tidak pernah menyadari bawha nikmat yang dimiliki anaknya telah mencukupinya, tapi bapaknya tidak pernah merasakan cukup.
Cinta menguatkan segalanya, karena menguatkan segala hal berarti mengsimplifikasi untuk membuat cinta sebagai fondasi. Ketika kita berkata bahwa ibu meletakan semua anaknya yang nakal kemmudia mereka berkata bahwa ibu telah meletekan semua anak nakal mereka dan mereka berkata bahwa seorang wanita seperti dia adalah orang yang sabar? Tidak kita berkata beberapa hal, kemudian sebagai seorang ibu dia mencoba mengingatkan secara kontinyu kepada anak itu untuk tetap kuat dan menjadi lebih kuat dari yang lainnya, ini diam yang sabar dan mengimplifikasi bahwa cinta masih ada dalam diri seseorang.
Daftar Pustaka
Kierkegaard, Soren. 1995. “Work of Love”. United Kingdom : Princeton University Press.

Amour Fati dan Amour Mati


Amour merupakan kata yang menarik dari kamus bahasa Prancis ini, tak sengaja kata itu muncul ketika mencoba mencari kata lain di kamus bahasa Prancis yang gratis ini. Tapi, kali ini amour yang berarti cinta akan lebih dibahas, ketimbang epistemologi, ataupun aksiologi bahasa ini sendiri. Bukan sedang mencoba membahas ontologi, tapi sering mendengar kata amour dari teman, maupun kios komik di jalan. Entah anak masjid, entah anak atheis, menurut persepsi saya keduanya mendeskripsikan Amour Fati atau lebih dikenal sebagai cinta hidup, sama. Keduanya berujar bahwa cinta hidup adalah kondisi kita menghasrati hidup, entah dengan mencari uang sebanyaknya, entah dengan menjadi penguasa, entah dengan lainnya. Semua deskripsi menyatakan bahwa cinta hidup adalah melakukan hasrat diri pada kehidupan. Walaupun deskripsi sama, memang tidak semua orang bisa berperilaku sama, anak mesjid lebih sering menhujat orang yang mencintai dunia, walaupun mereka juga menampakan mencintai dunia dengan barang tersier yang mereka miliki, ataupun pacar cantik yang mereka gebet. Walaupun menutupi diri, tapi masih kita saya bedakan dengan golongan ateis yang lebih cenderung bersikap jujur untuk menikmati hidup, walaupun mereka kadang berpura-pura jahat, dan juga punya sisi jahat juga. Iyah, semua manusia memang memiliki plus minus, tapi reaksi pada kehidupan tetaplah sama antar ateis maupun anak mesjid, walaupun secara dibibir mereka berbeda.
Sebuah pertanyaan menyangkut dalam pikiran saya, “Apakah Amour Fati dan Amour Mati berbeda?”, Sederhanaya pernyataan itu ingin mengejewantahkan kebingungan saya akan makna cinta dunia dan cinta akhirat, apakah sama? Dan, survey membuktikan, kalangan atheis yang bertopeng filsafat, dan kalangan anak mesjid yang bertopeng agama, menjawab bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda. Kalangan ateis berpendapat, bahwa tidak usah mikirin mati, mati itu udah gak mikir lagi, dan kalangan agamis berpendapat persiapkanlah untuk kematian, dan cintailah akhirat. Beberapa hal tersebut membuat saya bingung tapi kita lihat apa penuturan dari Bapak Kierkegaard.
Pak Kierkegaard pernah berpendapat dalam the works of love, bahwa kita tidak akan pernah bisa mencintai apa yang tidak bisa terlihat, tanpa bisa mencintai yang terlihat. Jelas disini menjatuhkan para anggapan anak mesjid, yang lebih cenderung ilusionis ketimbang kalangan ateis. Tapi tunggu dulu, Bapak Fyodor Dostovsky berargumen bahwa cinta adalah melihat Tuhan dari apa yang kita cintai, maknanya ketika kita mencintai hidup, berarti kita mencoba melihat Tuhan dari kehidupan dan mencintai mati, berarti melihat Tuhan dari kematian itu, seolah tuhan ingin berkata kepada kita melalui kedua zuhandene Tuhan itu yaitu kematian, dan kehidupan. Dan ini memukul agamis 2 kali, dan atheis 1 kali.
Cinta memang tentang diri sendiri, memang karena jika masih ada subject dan object maka kesadaran tersebut berada pada ranah pasca-ontologis alias pada struktur aksiologi, atau epistimologi, atau menurut Bapak Heidegger, pada ranah struktur ontis. Dan ketika cinta mengalami subject dan object berarti kita terpisah dari cinta itu sendiri, itu berarti kita tidak mencintai, dan ini berarti cinta itu adalah seinden (mengada). Jelas memang cinta adalah solusi eksistensial terbaik, seperti yang dikatakan kierkegaard, karena semanya memang Aku, dan aku disini tidak ada yang lain selain Aku itu sendiri. Tapi mengapa cinta mati dan hidup masih dibedakaan, bukankah keduanya jelas sama?

Sosial Hacking#1 : Ketika Cinta Berhacking Pengantar


Napoleon Bonaparte berujar bahwa perang 99% adalah masalah informasi. Sun Tzu, jendral yang mengetahui lawan dan dirinya akan tidak pernah terkalahkan walau berapapun banyak pertempuran. It all depends on how we look at things, and not on how they are themselves.” Carl Gustav Jung
Komunikasi adalah metode mentransfer informasi dari satu entitas dengan entitas lainnya. Informasi menjadi sangat penting dalam proses negosiasi, pertempuran, atau masalah kelamin. Dengan informasi kita bisa melakukan objektifikasi dengan lebih akurat. Informasi memiliki tingkat nilai yang beragam, ada informasi yang berharga ada juga informasi yang tidak berharga. Jumlah informasi yang berharga bergantung pada distribusi informasi dan kebutuhan akan informasi tersebut. Informasi yang memiliki probabilitas muncul rendah akan lebih dihargai ketimbang informasi yang memiliki probabilitas tinggi. Hal ini menunjukan walau informasi itu bohong ataupun benar tetap informasi yang jarang muncul memiliki nilai yang berharga ketimbang informasi yang biasa, seperti contoh, infomasi tentang munculnya hujan di padang pasir akan lebih berharga ketimbang informasi munculnya hujan di Indonesia.
Kepercayaan maupun ketidakpercayaan menjadi salah satu hal yang tidak bisa dilewatkan ketika informasi tersebar. Informasi dengan nilai ketidakpercayaan tinggi memiliki selalu memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada informasi dengan tingkat kepercayaan tinggi, namun kepercayaan dan ketidakpercaayan ini merupakan sebuah bentuk dekadensi terhadap informasi. Yang berarti adanya jarak antara pengamat dengan informasi, yang menunjukan bahwa pengamat belum memiliki informasi tersebut.
Proses sintesa informasi telah ada bahkan ada ilmunya. Kita telah mengenal kata informatika, yang berarti informasi dan matematika. Informasi merupakan resource yang berharga, hingga Napoleon Bonaparte bisa berujar bahwa kemenangan perang ditentukan oleh informasi, maupun Sun Tsu yang berujar bahwa informasi merupkan kunci dari jendral untuk bisa mengambil sikap dari pertermpuran. Sintesa membutuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan, layaknya seni lukis yang mencoba untuk memutuskan untuk menggunakan warna apa yang bagus untuk bisa digunakan sebagai karya seni mereka. Sekalipun bisa dibilang sains, karena diregresi dari statistik data dan diolah hingga menjadi sebuah ilmu. Namun proses tanpa proses sintesa maka informasi hanyalah sekadar barang kosong belaka, dan tanpa nilai.
Ada beragam aturan dasar untuk berkomunikasi, aturan ini ditujukan untuk bisa memanfaatkan resource informasi maupun mensintesa pola pikir seseorang :
  1. Jangan pernah memastikan bahwa penerima menerima kenyataan seperti dirimu.
  2. Jangan pernah memastikan bahwa penerima akan menginterpretasika hal yag sama dengan kesadaran yang aku miliki.
  3. Komunikasi bukanlah sesuatu yang tidak terbatas, hal itu memiliki batas.
  4. Selalu berasumsi bahwa beragam realitas ada dalam orang yang berbeda dalam proses komunikasi.
Shanon-Weaver, memberikan sebuah model komunikasi secara umum. Model komunikasi digunakan untuk melakukan analisa dalam proses pengiriman informsi. Sumber informsi akan dikirmkan melalui transmiter dan menghasilkan sebuah sinyal, dalam proses sampainya informasi sinyal akan mengalami distrosi akibat kanal yang bernoise atau jarak jangkauan hingga mengalami multipath fading. Kemudian sinyal yang diterima belum tentu sama dengan sinyal yang dikirim akibat kanal ini.
Informasi memang tidak selalu sama antara yang dikirm oleh transmiter dan diterima oleh transmiter. Proses tersebut biasa mengalami gangguan oleh noise. Namun noise pun tidak selamanya merugikan, karena hal ini juga bisa menjadi keindahan sendiri oleh Engineer Komunikasi. Noise akan mengurangi kredibilitas dari sinyal informasi, dan memang tidak semua informasi akan tertransmisikan akan memberikan keuntungan bagi sosial engineer. Semisal informasi tentang pasword facebook kita yang mudah terbaca oleh orang lain. Hal ini akan bisa menjadi berbahaya. Kanal yang penuh dengan gangguan, atau noise, akan memberikan proteksi tersendiri untuk terjaganya sebuah informasi yang memiliki krusialitas yang tinggi.

Pretexting

Mengambil informasi dan mensintesa informasi juga merupakan keahlian yang cukup menarik. Pretexting merupakan salah satu metode yang menarik untuk bisa melakukan rekayasa dari informasi tersebut. Pretexting didefinisikan sebagai sebuah aksi untuk menciptakan scenario untuk mengajak target korban memberikan informasi atau melakukan sebuah aksi. Biasanya pretexting digunakan dalam beberapa profesi seperti public speaker, NLP expert, ataupun dokter, jaksa dan lainnya, yang berhubungan untuk memberikan instruksi atau mencari sebuah informasi dari orang lain.
Beberapa dasar pretexting :
  • Melakukan banyak riset untuk bisa meningkatkan peluang keberhasilan.
  • Membawa personal interest akan bisa menjadi peningkat kesuksesan dalam pengambilan informasi.
  • Mempraktikan dialektika dan ekspresi.
  • Usaha sosial engineering yang dilakukan berulang dengan alat telekomunikasi. Tapi sosial engineer bisa menggunakan segala macam alat untuk bisa mendapatkan informasi yang bagus.
  • Pretext yang lebih sederhana akan memberikan peluang kesuksesan yang lebih tinggi.
  • Pretext harus muncul secara spontan.
  • Menampilkan sebuah kesimpulan logis atau mengikuti pemikiran dari target.
Daftar Pustaka :
  1. Hadnagy, Christopher. 2011. Social Engineering : The Art of Human Hacking. Indianapolis : Wiley Publishing.
  2. Ziemer, Rodger E. 2015. Principles of Communications : System, Modulation, and Noise 7th edition. USA :Wiley.