Melihat perpecahan di dalam umat Islam di Indonesia, maupun di dunia
menarik untuk kita kaji. Dimana kita bisa melihat bahwa semua umat
Islam yang terpecah memiliki nilai yang sama yaitu Islam itu sendiri.
Islam didasarkan pada kitab suci al Qur'an, semua aliran Islam yang
terpecah saya yakini merekapun merujuk pada al-Qur'an. Namun,
alih-alih Islam sebagai Rahmatan Lil 'Alamin (Rahmat bagi seluruh
alam) tidak begitu terasa dalam akhir-akhir ini, justru sebaliknya,
dia yang mengatas namakan golongan Islam biasanya justru memulai
sebuah pertikaian atau kerusuhan. Aksi terorisme yang mereka benarkan
atas dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur'an dijadikan pembenaran
atas aksi mereka itu.
Berkaca dari teknologi yang sekarang lebih dikuasai oleh Eropa dan
Amerika. Kita berangkat dari kasus mereka ini. Dahulu di Eropa sering
mengalami krisis, baik karena perang, atau karena iklim mereka yang
harus membuat mereka bekerja lebih keras agar mereka dapat hidup.
Sewaktu mereka krisis kita melihat peran dari Gereja di Eropa sangat
ketat, bahkan gereja mengeluarkan fatwa jika didalam pemerintahan
tidak ada cahaya. Sikap menentang pemerintah ini juga ditambah dengan
kasus pembunuhan ilmuan eropa yang mengatakan bahwa bumi ini bulat.
Mereka mengatakan bahwa ilmuan itu telah menyimpang dari ajaran agama
atau dalam bahasa kerennya sekarang adalah penistaan agama. Namun
setelah beberapa tahun kemudian ternyata kebenaran bahwa bumi itu
bulat terbukti. Dunia merasa kehilangan atas seorang ilmuan yang
berjasa dalam pembuktian ini.
Sebenernya aneh jika Islam yang terpecah menjadi berbagai golongan
namun memiliki satu nilai yang sama yaitu al-Qur'an. Jika al-Qur'an
yang mereka baca adalah sama lalu mengapa perpecahan bisa terjadi?
Menurut analisa saya, al-Qur'an memang satu dan sama. Namun
penafsiran orang tentang al-Qur'an tidaklah sama. Beranjak pada
seorang ahli Hermeneutika (teknik untuk memahami) yang dikeluarkan
oleh Jacques Derrida, dia mengatakan bahwa teks memiliki hak otonom
untuk bisa di interpretasikan. Namun karena penafsiran orang
berbeda-beda, maka Derrida menyarankan untuk menahan (menangguhkan)
pemahaman kita akan teks tersebut. Kebanyakan dari kita yang membaca
teks al-Qur'an langsung mengikutinya secara taklid (membabi buta).
Ada proses yang namanya deskontruksi, yang akan kita bahas nanti.
Dimulai dari ungkapan Fredrich Niethcze dalam karyanya, ”The
Geneology of Moral”. Dia mengatakan bahwa pemahaman yang pasti akan
sesuatu akan membuat Brain Disease. Kebanyakan
umat Islam sekarang membaca mentah-mentah teks tulisan di dalam
al-Quran, sehingga mereka bertindak kurang mendalami apa yang ingin
di maksudkan teks tersebut. Mungkin saya bisa memberikan saran kepada
para extrimis Islam, untuk menangguhkan pemaham mereka itu agar Islam
menjadi benar-benar terpahami sebagai Rahmatan Lil 'Alamin, bukan
Rahmatan Lil golongan saja.
Tanpa adanya dekonstruki pemahaman tentang interpretasi dari teks
al-Qur'an, kita akan terhijad dari makna sejati yang diinginkan oleh
si Pembuat teks al-Qur'an itu, dan berdampak pada Islam yang ekstrim
dan terpecah seperti sekarang yang bermunculan ini. Pahamilah dengan
cermat dan jangan terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan.