Laman

Kamis, 25 Februari 2016

Dekonstruksi Pemahaman Islam


Melihat perpecahan di dalam umat Islam di Indonesia, maupun di dunia menarik untuk kita kaji. Dimana kita bisa melihat bahwa semua umat Islam yang terpecah memiliki nilai yang sama yaitu Islam itu sendiri. Islam didasarkan pada kitab suci al Qur'an, semua aliran Islam yang terpecah saya yakini merekapun merujuk pada al-Qur'an. Namun, alih-alih Islam sebagai Rahmatan Lil 'Alamin (Rahmat bagi seluruh alam) tidak begitu terasa dalam akhir-akhir ini, justru sebaliknya, dia yang mengatas namakan golongan Islam biasanya justru memulai sebuah pertikaian atau kerusuhan. Aksi terorisme yang mereka benarkan atas dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur'an dijadikan pembenaran atas aksi mereka itu.

Berkaca dari teknologi yang sekarang lebih dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Kita berangkat dari kasus mereka ini. Dahulu di Eropa sering mengalami krisis, baik karena perang, atau karena iklim mereka yang harus membuat mereka bekerja lebih keras agar mereka dapat hidup. Sewaktu mereka krisis kita melihat peran dari Gereja di Eropa sangat ketat, bahkan gereja mengeluarkan fatwa jika didalam pemerintahan tidak ada cahaya. Sikap menentang pemerintah ini juga ditambah dengan kasus pembunuhan ilmuan eropa yang mengatakan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bahwa ilmuan itu telah menyimpang dari ajaran agama atau dalam bahasa kerennya sekarang adalah penistaan agama. Namun setelah beberapa tahun kemudian ternyata kebenaran bahwa bumi itu bulat terbukti. Dunia merasa kehilangan atas seorang ilmuan yang berjasa dalam pembuktian ini.

Sebenernya aneh jika Islam yang terpecah menjadi berbagai golongan namun memiliki satu nilai yang sama yaitu al-Qur'an. Jika al-Qur'an yang mereka baca adalah sama lalu mengapa perpecahan bisa terjadi? Menurut analisa saya, al-Qur'an memang satu dan sama. Namun penafsiran orang tentang al-Qur'an tidaklah sama. Beranjak pada seorang ahli Hermeneutika (teknik untuk memahami) yang dikeluarkan oleh Jacques Derrida, dia mengatakan bahwa teks memiliki hak otonom untuk bisa di interpretasikan. Namun karena penafsiran orang berbeda-beda, maka Derrida menyarankan untuk menahan (menangguhkan) pemahaman kita akan teks tersebut. Kebanyakan dari kita yang membaca teks al-Qur'an langsung mengikutinya secara taklid (membabi buta). Ada proses yang namanya deskontruksi, yang akan kita bahas nanti.

Dimulai dari ungkapan Fredrich Niethcze dalam karyanya, ”The Geneology of Moral”. Dia mengatakan bahwa pemahaman yang pasti akan sesuatu akan membuat Brain Disease. Kebanyakan umat Islam sekarang membaca mentah-mentah teks tulisan di dalam al-Quran, sehingga mereka bertindak kurang mendalami apa yang ingin di maksudkan teks tersebut. Mungkin saya bisa memberikan saran kepada para extrimis Islam, untuk menangguhkan pemaham mereka itu agar Islam menjadi benar-benar terpahami sebagai Rahmatan Lil 'Alamin, bukan Rahmatan Lil golongan saja.

Tanpa adanya dekonstruki pemahaman tentang interpretasi dari teks al-Qur'an, kita akan terhijad dari makna sejati yang diinginkan oleh si Pembuat teks al-Qur'an itu, dan berdampak pada Islam yang ekstrim dan terpecah seperti sekarang yang bermunculan ini. Pahamilah dengan cermat dan jangan terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan.