Laman

Senin, 15 Februari 2016

Lelaki Lemah#15 : Masih Menyelam

Aku dengar suara kekasihku menggema dalam kedalaman ini. Dia berkata padaku bahwa dia siap untuk menjadi pendamping hidupku. Orang tuanya pun sudah menyetujui pernikahan kita. Aku terbayang indahnya keluarga yang aku bangun dengan kekasihku, kekasihku yang aku dambakan selama ini. Kekasihku yang selalu aku rindukan. Kekasihku yang selalu aku ingin nikahi. Indahnya bayangan itu, bayangan ketika aku menimang anak aku dan kekasihku tadi. Menjalani kehidupan dalam keharmonisan keluarga, penuh kasih sayang dan penuh dengan cinta dari sang kekasih.

Aku ini seorang penyelam, masih jauh dari dalam kedalam yang seharusnya aku tempuh. Kedalaman yang masih berjuta-juta kali dari yang telah aku selami sekarang. Oksigen yang tersisa mungkin tinggal sedikit, aku tidak mungkin melanjutkan lagi penyelaman ini semakin dalam. Iyah, aku tahu mungkin seharusnya aku bahagia di permukaan bersama kekasihku di permukaan. Mungkin aku akan mati jika terus menyelam dalam kedalam yang akan aku tempuh nanti. Sayangnya aku ini seorang penyelam, tanggung jawabku hanyalah menyelam. Tugasku menyelam kelaut yang terdalam, itulah jalanku, jalan yang seharusnya aku tempuh. Mungkin akan mati, tapi bukankah kematian itu sebuah kepastian? Dan pernikahan aku dengan kekasihku juga sebuah kepastian? Kalau keduanya adalah kepastian Tuhan, akupun tidak boleh mengambil jalan yang tidak seharusnya aku ambil. Iyah, aku akan tetap menyelam karena itulah jalannya dan jalan dari Nya.