Mengkaji Eropa yang dahulu penuh dengan gejolak dan krisis memang menarik. Krisis yang muncul di Eropa tidak hanya menimbulkan perang senjata api namun juga memunculkan perang intelektual. Perang senjata api memunculkan perang juga di bidang sains dan engineering yang cukup pesat. Perang di bidang sains dan teknologi, juga memunculkan perang di bidang seni. Lah perang di bidang sains, teknologi, dan seni inilah yang saya sebut sebagai perang intelektual.
Di Indonesia perang Intelektual tidak begitu greget seperti di negara-negara eropa. Menurut hemat saya hal ini dipengaruhi oleh lingkungan di Indonesia yang begitu surgawi (enak untuk ditinggali). Kondisi Indonesia yang begitu surgawi membuat orang Indonesia memiliki inertia(kelembamam atau kemalasan) untuk berfikir. Ada hal menarik yang bisa kaji dalam kitab Matsnawi karya Jalaludin Rumi, dikisahkan ada seorang fakir yang lewat di depan seorang raja. Kemudian raja bertanya pada fakir tersebut, "Bagaimana hai fakir, tentang Tuhan yang memberikan aku kenikmatan begitu banyak dan kemiskinan padamu?"
"Maha Suci Tuhan yang menyiksa hambanya dengan memberinya banyak kenikmatan."
Kisah dalam Matsnawi ini cukup relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang diberkahi tanah surga. Hal ini menyebabkan orang Indonesia menjadi malas untuk berfikir, sehingga sekarang terlihat Rahmat Tuhan yang berupa gejolak di Eropa membuktikan bahwa Azab Tuhan bukanlah cuma penderitaan namun juga kenyamanan yang akan menyebabkan kita terhijab dengan kesadaran yang lebih mendalam (kedewasaan).
Kembali lagi pada perang Intelektual. Seperti yang kita lihat sekarang ini banyak permasalahan yang muncul di negara ini, namun kalangan yang mengaku intelektual cenderung menanggapinya secara skeptis. Mencoba mengatasi masalah dengan pembenaran Agama tanpa analisis yang mendalam. Makanya kapan Indonesia menjadi lebih dewasa? Di Eropa mengatasi sebuah masalah biasanya dengan sebuah perang Intelektual, intelektual satu mengajukan thesis, dan intelek lainnya mengajukan tesis yang lain, hingga mereka menemukan titik kesepahaman. Tidak seperti di Eropa, di Indonesia menyelesaikan masalah tidaklah dengan methode komunikasi Intelektual, namun cenderung menyelesaikan sesuatu dengan kekakuan. Merasa benar sendiri itulah yang sebaiknya harus dikurangi oleh orang Indonesia agar mereka tidak terhijab dengan kesadaran yang lebih dewasa. Mari berperang Intelektual,