Laman

Jumat, 12 Februari 2016

Lelaki Lemah#8 : Apatisme Jalaludin Rumi dan Epicurean

Mungkin bagi sebagian orang apatisme merupakan salah satu perilaku negatif. Namun pada tulisan ini apatisme akan menjadi methode untuk mengkontrol rasa sakit dalam diri manusia. Aku tidak menafikan dalam setiap perjalanan manusia. Manusia sering mengalami kegelisahan, namun terkadang kegelisahan itu malah membuatku tidak mampu untu berfikir lurus. Kegelisahan ini sangat berbahaya jika dia mengontrol diri kita. Bahkan dalam keadaan tertentu kegelisahan ini mampu untuk membuat seseorang melakukan tindakan yang tidak masuk akal semacam bunuh diri. Aku beruntung bertemu dengan Romo Sandi yang berusaha untuk menjelaskan tentang apatisme dalam perspektif epicurean yang digunakan sebagai anti depresan untuk mengatasi masalah.

Langsung ke contoh permasalahan. Waktu zaman perang dunia, banyak tentara yang terluka akibat perang. Mereka mengalami demotifasi karena mereka berfikir akan jadi apa mereka kalau pulang dengan cacat yang akan dibawa mereka setelah perang, sehingga hal ini mengakibtkan mereka berperang dengan penuh kehati-hatian dan jadilah cara berperang mereka menjadi tidak berkualitas, maksudnya seperti berperang namun takut mati. Komandan kemudian meyakinkan kepada mereka bahwa kematian itu adalah sebuah kepastian, setidaknya jika mereka mati atau cacat akan menjadi pahlawan di medan perang. Coba kalau mereka berfikir untuk lari dari perang maka mereka belum tentu bisa mati dengan cara seterhormat ini. Ini membuat para pasukan perang semakin semangat untuk berjuang hingga mati-matian.

Sekali lagi saya tidak menafikkan tentang kegelisahan yang saya derita. Namun janganlah sampai kegelisahan yang saya derita membuat saya tidak mampu untuk berfikir secara lurus. Kalau kata Bang Choirul bilang "Rasa sakit atau kegelisahan adalah akibat dari kita yang kurang mendalami". Analog dengan kasus ini, seorang penyelam ingin menyelam ke lautan terdalam namun ketika dalam ketinggian beberapa meter dia berfikir karena susah bernafas. Dia akan berfikir untuk kembali kepermukaan dan secara teknis dia akan gagal untuk menyelami lautan terdalam itu, namun kasusnya akan terus berulang ketika dia harus mencoba untuk menyelami lautan terdalam. Saat dalam pemikiran yang penuh kegelisahan ini muncul, penyelam tidak lagi mampu untuk berfikiran secara lurus. Maka dari itu penyelam memutuskan, kalaupun saya mati, itu sudah takdir dari Tuhan, saya ingin menyelami lautan terdalam. Dengan menyelami lautan terdalam dan membawa kegelisahan akan kematian untuk menyelaminya, sang penyela terus mencoba meraih lautan terdalam. Atas keyakinannya itu tak disangka dia mampu untuk menyelami lautan yang terdalam. Dari kisah ini terkadang kegelisahan memang memberikan kita masalah untuk tidak mampu berfikir secara lurus.

Jalaludin Rumi pernah berkata, "Obat dari rasa sakit itu ada dalam rasa sakit sendiri." Kata Rumi ini seolah ingin menegaskan kita tidak mungkin untuk menafikkkan rasa sakit yang kita derita, misalkan kegelisahan atas ditolak cewe, bangkrut, atau di DO dari kuliah. Namun yang terpenting dari sini adalah sikap untuk terus menjalani tanpa terganggu oleh kegelisahan itu, sehingga kita akan mampu menyelami lautan yang terdalam. Mungkin dalam bahasa sederhananya "Akan aku bawa rasa sakit ini, hingga aku sampai pada lautan yang terdalam." Maksudnya bukan menafikkan rasa gelisah yang kita alami namun membawa kegelisahan itu untuk tetap menyelam hingga lautan yang terdalam.