Laman

Sabtu, 27 Februari 2016

Kegagalan Sebagai Rahmat

Tulisan ini terinspirasi dari seorang psikolog di Masjid Salman ITB yang menuliskan bahwa kecendrungan terhadap sesama jenis adalah sebuah rahmat. Terima kasih psikolog dari Masjid Salman ITB yang telah memberikan inspirasi pada saya.

Menilik dari khutbah yang disampaikan oleh Professor Doktor saat Jum'atan kemarin di Masjid Salman ITB yang begitu pesimistis terhadap apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Penilaian beliau tentang merebaknya LGBT, MEA, konsumsi rokok atau pengakuan Nabi di Indonesia membuat saya prihatin. Saya prihatin bukan pada Indonesia melainkan pada Khotib Masjid Salman tersebut yang begitu pesimistis dalam menghadapi tantangan ini. Menurut penafsiran saya atas Khutbah yang disampaikan beliau, beliau terlalu memandang sebuah permasalah sebagai sesuatu yang harus dihindari, mungkin beliau berfikiran bahwa permasalah yang muncul tersebut adalah sesuatu yang memberikan kehancuran bagi sebuah negara.

Kita akan mulai analisis dari seorang Psikolog hebat di Masjid Salman di ITB yang saya telah tulisakan diatas. Beliau melihat bahwa setiap permasalahan itu adalah sebuah rahmat, rahmat yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Baik, tinggal kita yang bagaimana harus menyikapi itu dengan bijak. Ini seperti sebuah penyakit dalam diri kita, yang apa bila kita terlalu hanyut dalam rasa sakit tersebut maka penyakit tersebut akan menguasai diri kita. Saya melihat bahwa Khotib Professor Doktor dari agama tersebut masih hanyut dalam rasa sakit dan begitu pesimis menghadapi gejolak yang melanda negeri ini, pemikiran dari khotib tersebut akan berdampak pada keengganan kita untuk bisa lebih peka terhadap permasalah yang beredar, dan dampaknya kita akan menyelesaikan sebuah masalah dengan cara menghindarinya. Seharusnya kita sebagai seorang insan akademis harus menilai permasalahan secara lebih mendalam, hingga kita bisa menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.

Kegagalan sebagai sebuah Rahmat dari Tuhan yang Maha Baik. Kita coba untuk menilik gejolak-gejolak yang terjadi di negara-negara maju seperti di eropa. Di Eropa dahulu sering terjadi konflik semacam ini, hingga banyak keputusan yang diambil terkadang justru membawa penderitaan bagi rakyat di Eropa, seperti perkembangan dari Kapitalisme Industri, Komunisme hingga sekarang liberal yang mereka anuti. Dalam perjalanan menuju kedewasaan, kegagal memang perlu, seperti apa yang dikatan oleh Fredrich Nietchze, "Illness akan membuat orang menjadi memahami sesuatu lebih mendalam." Memang benar, terkadang kegagalan akan memberikan kita pada rasa frustasi, namun jika kita memandangnya secara optimis, kegagalan akan membuat kita menjadi lebih dewasa (bijak), maka sikapilah kegagalan sebagai sebuah rahmat.