Perjalanan ini sungguh mengguncangkan hati. Kegelisahan dari dalam hati ini tak kunjung menemui titik temunya. Iyah, banyak yang mengatakan aku harus mengikhlaskan. Tapi walau sejauh aku berjalan. Selama hatiku berkontemplasi. Namun apakah ikhlas itu sebenarnya? Aku masih ragu dengan pemikiranku ini, mungkin hanya sekadar pemikiran yang muncul dari birahi semata. Iya, masih banyak hal yang tergambar dalam pikiranku. Kadang ini membuatku sulit untuk bisa konsentrasi menyelesaikan sesuatu. Dan ini memang membuat aku merasakan kegelisahan yang mendalam.
Mungkin perjalanan ini telah dimulai ketika aku telah lahir, atau mungkin sebelum itu. Bukankah Tuhan telah berjanji dalam kitab sucinya, bahwa segala yang terjadi adalah kehendak darinya. Lalu, aku bertanya pada rumput yang sedang dangdutan, "Aku memang tidak tahu Cinta itu apa? Tapi bayangan orang yang selalu muncul dalam pikiranku itu, aku tidak bisa menghilangkannya." Kata Sufi penciptaan bermula dari Cinta, cinta dari mu Tuhan. Iyah, tanpa cinta darimu kambing tidak akan makan rumput, dan rumput tidak akan mau dimakan oleh kambing. Jadi semenjak itu Cinta adalah rahmat dari dirimu yang maha suci. Tapi jika segala yang terjadi itu atas cinta-Mu Tuhan. Maka birahi ini pun juga dari-Mu. Lantas bagaimana aku mengatasinya? Dalam perjalanku hingga sekarang aku menjadi perokok yang ganteng, saya bertemu dengan orang-orang yang cukup menarik. Mereka berkata padaku untuk mencoba mengikhlaskan saja, lantas apa itu ikhlas itu Tuhan? Padahal dalam surat Al-Ikhlas sendiri, ikhlas juga tidak disebutkan. Entahlah, aku hanya bisa menjalani saja.
Dalam pemahamanku, mungkin salah, tapi hanya ini yang saya tahu. Seperti dalam surat Al-Ikhlas, Engkau tidak menyebutkan kata ikhlas. Namun hanya menyebutkan dirimu sebagai satu satunya wujud yang nyata. Yang mengatakan bahwa dirimu adalah satunya hal dijadikan sebagai sandaran, mungkin itulah makna ikhlas, yaitu meniadakan ego ke-akuan untuk bisa sampai pada kesadaran aku bukanlah apa-apa, atau aku hanyalah sebuah ilusi.
Dalam pemahamanku, mungkin salah, tapi hanya ini yang saya tahu. Seperti dalam surat Al-Ikhlas, Engkau tidak menyebutkan kata ikhlas. Namun hanya menyebutkan dirimu sebagai satu satunya wujud yang nyata. Yang mengatakan bahwa dirimu adalah satunya hal dijadikan sebagai sandaran, mungkin itulah makna ikhlas, yaitu meniadakan ego ke-akuan untuk bisa sampai pada kesadaran aku bukanlah apa-apa, atau aku hanyalah sebuah ilusi.