Laman

Jumat, 29 April 2016

Penelitian yang Sustain

Menilik ke penilitian di labseni yang cenderung terlalu bergantung pada dana penelitian. Beberapa hal akan berdampak pada peneltian di labseni, yaitu
  1. Penelitian akan mengalami kiamat.
    Pola kebergantungan pada dana menunjukan bahwa meneliti adalah sebuah implementasi dari kebutuhan untuk mendapatkan dana. Hal ini bertentangan dari tujuan penelitian itu sendiri. Penelitian akan cenderung mengarah pada konstruksi penelitian yang mengada-ada, ini sangat berbahaya, dengan begini penelitian di labseni akan menjauh dari kata subtil. Dan tidak akan mengeluarkan karya yang berarti. Konstruksi seperti ini juga tidak akan membuat penelitian di labseni menjadi sustan menilik bahwa labseni merupakan lembaga penelitian yang baru didirikan (start up).
  2. Penelitian akan membuat kemalasan meneliti.
    Kemalasan untuk meneliti adalah penyakit yang berbahaya untuk lembaga yang baru saja meneliti. Tentu saja, tanpa dana, tanpa kepercayaan dari masyarakat ini menjadi sebuah bencana yang mengerikan, hendaknya penelitian di labseni dikonstruksikan sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, yaitu bisa disebut sebagai bersenang-senang.
Untuk mengatasi dampak dari penelitian di atas beberapa saya sarankan untuk proffesor Faozi.
  1. Menggunakan model penelitian asimetris
    Melihat penelitian di labseni yang masih kekurangan dana, maka pemikiran lurus dengan menjual penelitian ke masyarakat akan menurunkan kepercayaan masyarakat, dan karena memang belum memiliki kepercayaan masyarakat akan susah untuk bisa mengalirkan dana dari pemikiran lurus ini. Butuh sebuah paradigma yang lebih lateral, semisal menggunakan model penelitian yang asimetris. Dengan sebuah penelitian, diharapkan akan mendukung penelitian yang lainnya. Dan disini Proffesor diminta untuk terus belajar bukan dalam satu bidang keilmuan saja.
  2. Penelitan sebagai support kedalam lembaga lain.
    Menjadi sebuah lembaga penelitian yang lurus dan terlalu idealis akan mengakibatkan kurang diterimanya penelitian disebuah lembaga penelitan hal ini bisa diatasi dengan menggunakan penelitian sebagai pendukung dengan lembaga lain, misalnya penelitian ini dikonstruksikan untuk pembangunan perusahaan agromas (perusahaan di bidang agro bisnis), dengan ini penelitian ini akan menjadi lebih sustain karena memang penelitian ini dibutuhkan oleh beberapa lembaga lain semisal perusahaan atau pemerintahan.
  3. Bekerja sama dengan lembaga peneliti lain sebagai komplemen.
    Menjadi sebuah lembaga peneliti yang berdiri sendiri, ditakutkan akan tereleminasi oleh sistem evolusi penelitan yang berkembang di lingkungan peneliti. Hal ini bisa diatasi dengan bekerja sama dengan lembaga peneliti lain sebagai komplemen dari lembaga penelitian di labseni.
  4. Berkontribusi dalam bidang pendidikan.
    Pendidikan yang baik adalah salah satu faktor penelitian yang baik pula, untuk itu penelitian di bidang pendidikan perlu dilakukan oleh labseni, dengan begini perekrutan peneliti yang berkualitas akan menjadi lebih mudah, dan dengan begini para calon peneliti bisa lebih mempercayai labseni sebagai lembaga penelitian yang berkualitas. Namun perlu diingat, kita bisa menjadikan pendidikan ini sebagai bentuk asimetris, maksudnya pendidikan yang gratis untuk bisa mendukung penelitian di labseni, dengan mengatasnamakan kontribusi pendidikan untuk negeri, ini bisa membuat naiknya rating labseni dimasa masyarakat atau institusi lainnya.
Daftar Pustaka

  1. Wheelen, Thomas L. 2012. Strategic Management and Business Policy: Toward Global Sustainability. Pearson : Boston.
  2. Nietzsche, Fredrich. 2009. On the Genealogy of Morals : A Polemical Tract. Richer Resources Publicarion : Arlington, Virginia, USA.

Rabu, 27 April 2016

Usulan Kurikulum Teknik

Tulisan ini adalah sebuah usulan untuk membantu Proffesor Labseni menyusun kurikulum pendidikan di LIT(Lab Sains Engineering and Informatics Institute of Technology). Menilik pada teknologi yang diriset Proffesor Faozi. Proffesor Faozi cenderung meriset sebuah karya yang tidak subtil, kalaupun Proffesor Faozi memiliki beragam prestasi dalam kemenangan di beragam lomba internasional (seperti Juara 1 membuat Labseni), hal itu tidaklah cukup untuk mengejawantahkan bahwa Proffesor Faozi memiliki kemampuan riset yang cukup Subtil. Proffesor Faozi jangan terlalu berbangga diri atas kemenangan dalam lomba membuat Labseni sedunia itu. Beberapa kekurangan yang saya lihat di dalam pendidikan juga mempengaruhi rendahnya kualitas riset Proffesor Faozi. Berikut akan saya jabarkan
  1. Pendidikan yang diberikan cenderung mengarah pada pembentukan budak intelektual (intelectual serfdom). Seperti kita lihat lululasn dari labseni, Amerul S. T. sekarang bekerja disebuah lembaga agrobisnis, namun karyanya hanya menjawab apa yang sedang muncul di permukaan dan menjadikan dirinya sebagai alat untuk menghasilkan uang untuk dia makan dan uang untuk perusahaan, hal ini bertentang dengan al Qur’an, bahwa manusia harus menjadi Khilafah.
  2. Riset yang dihasilkan dari LIT, tidaklah cukup subtil hingga hanya sebatas menerapkan teori yang reduksionis. Riset dekaden ini merupakan sebuah syndrom dari penelitian di LIT yang tidak memiliki geist. Hal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki paradigma tentang teknologi dalam kuliah dasar pengantar teknologi. Mungkin saran saya adalah dengan menyisipkan Genealogy of Technology dalam kuliah pengantar teknologi.
  3. Mahasiswa lebih tertarik pada konstruksi pembangunan CV mereka masing-masing. Ini terlihat baik, namun juga berbahaya. CV yang bagus merupakan sebuah verklaren dari diri mereka karena mereka meiliki Sein yang mumpuni. Namun penyembahan terhadap CV adalah sebuah masturbasi otak, dan bisa menyebabkan neurisis dalam otak. Jika para peneliti mengalami neurisis, maka bagaimana dia bisa meneliti dengan jujur?

    Daftar Pustaka :
  1. Pitt, Joseph C. 2011. Philosophy of Engineering and Technology vol 3 : Doing Philosophy of Technology, Essay in Pragmatism Spirit. Springer : New York, USA. 
  2. William, Lovitt. 1977 .Translate The Question of Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing : New York and London.
  3. Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta. 
  4. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.

Tutorial Demo

Mengamati para mahasiswa lemah yang melakukan demonstrasi dekaden, tulisan ini saya persembahkan agar para mahasiswa lemah tersebut bisa melakukan demonstrasi dengan lebih intelek. Menurut Nietzsche banyak menuntut adalah ciri manusia dekaden (tapi saya tidak tahu apakah menuntut ilmu termasuk katagori dekaden menurut Nietzsche, untuk itu saya kecualikan menuntut ilmu). Kebanyakan mahasiswa menuntut penurunan harga bahan bakar, atau protes pada koruptor, protes pada apa saja, asal protes juga banyak. Bahkan sebagian besar protesnya juga tanpa solusi, dan jika seorang mahasiswa (yang notabennya intelek) memuntut solusi dari pemerintah, maka apa gunanya mahasiswa, bukankah mahasiswa adalah kalangan intelek, masa nuntut solusi ke pemerintah, kalaupun nuntut solusi maka bertanyalah pada dosen, inilah beberapa kesalahan para demonstran mahasiswa yang dekaden. Untuk itu saya memiliki tutorial demonstrasi yang lebih efektif, keren, elegan, lucu, dan imut. Berikut caranya :
  1. Ambil textbook, bisa dari perpustakaan, atau beli di toko buku, atau download di internet
  2. Baca textbook, bacalah dengan teliti, kalau bisa tafsirkan dengan Hermeneutika Derrida.
  3. Tulis apa yang kau pahami dari buku itu.
  4. Publikasikan tulisanmu. Selesai, mudahkan. Anda bisa melakukannya dirumah, dan mengajak keluarga anda untuk berdemonstrasi bersama-sama.

Onkologi Pertelevisian Indonesia


Melihat ibu nonton TV, aku justru merasa cemas karena tontonan di televisi lebih cenderung ke arah dekaden. Moral jujur ditampakan tidak cukup subtil, bahkan kisah kehidupan yang mengada dan kurang ontologis membuat paradigma skeptis pada nilai hidup yang diyakini kian merebak ditayangan televisi. Layaknya teks menurut Jacques Derrida dan teknologi menurut Idhe yang keduanya terispirasi dari Martin Heidegger, televisi juga memiliki hak otonom, televisi yang sebuah teks mampu menciptakan paradigma untuk menjajah para penontonya. Ibuku yang hanya lulusan SD hanya bisa menonton televisi sekadar hiburan tanpa tahu dirinya dijajah, dan memang kebanyakan orang di Indonesia seperti itu, mereka tidak menyadari bahwa televisi merupakan zuhandene para tirani yang ingin melakukan penjajahan pola pikir mereka. Tayangan religiuspun tidak luput dari beragam kepentingan untuk meyakinkan mereka bahwa apa yang mereka tonton tidak bersifat dekaden. Harusnya para penonton televisi menjadikan televisi sebagai zuhandene bukan sebagai Sein agar pola pikirnya tidak mudah teracuni oleh tontonan televisi.
Teriakan-teriakan dari partai politik, calon presiden, maupun calon pejabat di televisi sekadar hanya untuk meyakinkan diri mereka pantas. Mereka ingin membangun negeri, katanya. Tapi walau sudah menjadi pejabat, toh nyatanya konstruksi pertelevisian masih cenderung mengkonstruksi pemikiran konsumtif dan pemikiran dekaden (seperti pesisimse negeri). Para pejabat yang ditayangkan di televisi ketika diwawancara pun tidak menunjukan kapabilitas mereka seorang pemimpin. Seperti contoh kasus seorang pejabat di dinas perhubungan yang menyikapi model trasportasi online kurang solutif, dia justru menyalahkan masyarakat yang dianggapnya salah, dia menganggap sistem yang telah diciptakan telah cukup baik, namun kenyataanya mengapa polemik itu tidak bisa teratasi. Akan lebih bijak dia mengatakan, “Saya akan perbaiki sistemnya.”. Contoh kurang bermutunya para pemimpin negeri justru lebih sering dipertontonkan, hal ini akan semakin menambah ketidak percayaan publik pada pemerintah.
Entah jurnalis, entah penyedia jasa layanan televisi, yang terus berteriak “Membangun Negeri”, mengapa kalian masih menayangkan acara yang dekaden?

Proffesor Dekaden#1: Nihilkan


Hai Proffesor Faozi yang dekaden Aku melihatmu begitu pilu menghadapi realitas ini. Bukankah aku telah mengatakan padamu kebutuhan akan pengakuan akan membuatmu mengalami neorisis dalam pikiranmu? Mengapa engkau begitu lemah hingga dirimu tidak mempercayai dirimu sendiri. Hai proffesor dekaden, Aku melihat kau masih bergantung pada apa yang diluar dirimu. Apa yang kau butuhkan? Uang, nilai yang bagus atau lainnya, Aku lebih estetis dari itu. Aku lebih berkuasa dari itu? Apakah kau tidak malu pada dirimu, betapa dirimu menilai begitu rendah dirimu? Penelitianmu masih bergantung pada uang, pada pengakuan, pada apa yang rendah itu? Mengapa tidak kau lakukan untuk dirimu sendiri, wahai proffesor yang lemah? Kau beralasan penelitanmu itu tanggung jawab, betapa lemahnya dirimu? Bagaimana jika kau bukan proffesor masihkah kau meriset? Masihkah kau lakukan itu? Lakukan untuk dirimu, wahai proffesor dekaden? Nihilkan, nihilkan yang diluar dirimu, hingga kau tahu betapa rendahnya apa yang ada diluar dirimu itu, wahai proffesor lemah, wahai proffesor dekaden, wahai proffesor yang otaknya sedang mengalami neorisis.

Senin, 25 April 2016

Onkologi Cinta

Banyak orang yang dekaden akibat penyakit yang mereka sebut sebagai cinta. Mulai dari sering melamun, hingga insiden bunuh diri. Penyakit cinta memang menarik, selain penyakit ini tidak jelas, dan susah disembuhkan, biasanya para orang yang disebut sebagai pecinta juga malas untuk menyembuhkannya. Untuk itu tulisan ini saya persembahkan kepada sebatang rokok yang begitu rela membakar dirinya hanya untuk menemani aku membaca, menulis buku, meriset SDN, dan dangdutan bersama linux.
Seperti halnya tehnologi menurut Idhe, cinta juga memiliki hak otonom. Jika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak maka cinta bisa menjajah diri kita sendiri, hal ini akn sangat berbahaya karena kita tidak pernah akan tahu kemana cinta membawa kita, api neraka, atau api surga? Untuk itu seperti halnya Heidegger yang menyimpulkan bahwa teknologi adalah sebuah Zuhandene (alat) sebagai perpanjang diri kita untuk mempermudah sesuatu, hendaknya Cinta juga bisa diperlakukan sebagai Zuhandene untuk kita bisa memahami sesuatu lebih subtil. Cinta layaknya sebuah FPI, jika FPI dididik dengan benar kerusuhan di Indonesia atas nama Islam tidak akan mencemarkan nama islam sendiri. Untuk itu gunakanlah Cinta sebagai Zuhandene.

Sabtu, 23 April 2016

Sastra dan Teknologi


Aku bukanlah orang yang suka membaca buku yang cenderung utopis. Novel, atau buku puisi merupakan buku yang sia-sia menurutku. Ketimbang menggunakan uang untuk buku yang tidak jelas seperti itu, mending uangnya digunakan untuk membeli buku fisika atau matematika. Bisa melatih berfikir dan sebagainya. Namun setelah memperdalam fisika dan matematika, aku mengalami stagnansi dalam proses pencarian ilmu. Mungkin sudah 6 tahun aku merasakan hal ini. Angst ini mengakibatkan aku pergi ke pesantren, belajar kitab kuning. Namun karena kurang begitu kompaktibel dengan bidang keilmuanku yang cenderung ke fisika dan matematika itu membuatku meninggalkan sastra persia. Namun setelah lama aku membaca sejarah engineering yang disusun oleh penerbit MIT, aku menemukan adanya hubungan kausalitas antara sastra dan engineering. Aku mencoba menghubungkan keduanya, hingga aku mendapati bahwa sastra adalah salah satu inventasi terbesar dalam pembangunan suatu bangsa. Kita melihat bahwa pada abad pertengahan, daerah persia mengalami kemajuan dalam bidang teknologi, secara analisa geneologi yang aku lakukan. Perkembangan teknologi itu dimulai dengan perkembangan sastra yang berkembang di daerah persia, kemudian banyak orang yang belajar di Persia. Namun akibat sistem yang kurang dipahami oleh Islam Fundamentalis (yang cenderung menolak kebebasan berfikir) peradaban Islam jatuh. Kemudian sastra berkembang di benua barat, mulai dari Goethe, Shakespeare, Blaudaire Fleurs, atau bahkan yang baru seperti Sartre, Nietzsche. Pengaruh sastra mereka yang subtil cukup menarik para intelektual dari penjuru dunia untuk belajar disana. Dengan basis keilmuan yang berbeda mereka mencoba mencari logos di belahan barat, bisa jadi sebagai ketidak percayaan masyarakat intelektual pada Islam waktu itu. Peradaban Islam jatuh, dan seperti yang sekarang kita lihat, Islam hanyalah adat istiadat tanpa sebuah kesubtilan yang berdasar. Sebuah ajaran dari pelarian atas kelemahan diri untuk menyikapi realitas. Orang yang memiliki basis keilmuan masing-masing kemudian menemukan dirinya di belahan eropa ketika mereka mempelajari sastra. Ada yang mencoba mengejawantahkan diri mereka (verklaren) melalui mesin yang disebut sebagai engineer. Ada yang mencoba mengejawantahkan diri mereka (verklaren) melalui pengobatan, kemudian sekarang dikenal sebagai dokter. Maka apakah sastra tidak begitu penting? Ataukah ketakutan kita itu lebih penting? Wallahu ‘alam bisawab.

Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

membaca puisi dari Chairil Anwar, membuatku menyadari kekeliruanku. Aku pikir diriku terlalu berharga hingga aku butuh untuk dihargai. Aku ini hanya binatang jalang. Biar peluru menembus kulitku aku tetap meradang menerjang. Puisi ini hampir mirip dengan puisi yang aku tuliskan dalam tajuk bertema sang penyelam.

Jumat, 22 April 2016

Operating System Dekaden


Menyikapi kondisi kejiwaan proffesor faozi yang mulai berputus asa dengan linux, dan berfikir dia akan mengganti operating sistem itu. Lemah sekali proffesor faozi, dia menginginkan kenyamanan dan gengsi ketimbang seni yang terpendam. Apakah dirimu ingin seperti Linus Tovard yang sekarang menjadi dekaden dan memilih operating system dekaden itu, wahai proffesor lemah? Pantaskah dirimu disebut proffesor labseni lagi ketika engkau menjadi seorang yang dekaden? Dirimu begitu dekaden, apa jadinya para akademisi negeri ini? Mau dibawa akademisi negeri ini, dengan proffesor yang begitu dekaden seperti dirimu itu wahai proffesor labseni?
Kau tahu bahwa mencuri itu tidak baik? Apakah kau ingin membajak operating system dekaden itu? Atau kau ingin membuang uang hanya untuk kenyamanan atau prestisme? Bukankah sangat sayang? Bukankah lebih baik kau belanjakan uang itu untuk buku, buku untuk perpustakaan labseni, hai proffesor dekaden? Apakah kau ingin seperti mereka? Menjadi manusia dekaden? Untuk bisa menjadi manusia seutuhnya kau harus bebas wahai proffesor dekaden? Kenyamanan dan prestismu itu akan menjajahmu wahai proffesor dekaden? Free adalah makna bebas dalam bahasa inggris. Masihkah kau akan meninggalkan linux yang free itu? Apakah kau lebih memilih penjajahan ketimbang kebebasan? Kebebasan untuk menjadi manusia seutuhnya? Apa yang ingin kau ajarkan pada mereka jika kau sendiri dekaden? Wahai proffesor labseni yang dekaden.

Belajarlah Psikoanalisis


Menyimak tulisan Proffesor Faozi di labseni yang cenderung mengarah ke tulisan psikopat, aku menyarankan Proffesor Faozi untuk memulai mempelajari ilmu tentang psikoanalisis yang di susun Freud. Walaupun karya Freud masih cenderung cartesian dan Proffesor Faozi lebih menyukai paradigma yang lebih cenderung kosmis, namun ilmu psikoanalisis yang disusun Freud tersebut akan membantu melakukan analisa pada Proffesor Faozi agar tulisannya tidak menjadi tulisan psikopat, karena saya amati ada ketidak konsistenan tulisan dalam beberapa artikel yang dituliskan oleh Proffesor Faozi. Selain itu aku masih menemukan tulisannya masih terpengaruhi ketidak seimbangan jiwanya dalam menyusun artikel, saat aku membaca artikelnya tentang linux yang cukup menarik, aku melihat dia menghubungkan kisah hidupnya yang begitu depresif dalam tulisan hidupnya, sesuatu yang bukan muncul dari dalam dirinya. Selain itu tuliskanku ditujuan agar Proffesor Faozi mengurangi kegiatan delusinya yang nampaknya akan menguras pikirannya dan membuang waktu pada hal yang tidak berguna. Buku yang aku sarankan untuk dibaca adalah A History of Modern Psychoanalytic Thought, Freud and Beyond : A History of Modern Psychoanalytic Thought, Psychoanalytic Diagnosis, Second Edition: Understanding Personality Structure in the Clinical Process.

Belajarlah Bahasa Hebrew


Menyimak Proffesor Faozi yang sedang mempelajari bahasa Jerman, saya begitu kasihan pada dirinya. Sepertinya dia begitu terbebani dengan janji pada Mbah Bambang Mulyono untuk dapat mendapatkan Nobel. Membaca novel orang Norwegia yang bejudul Lapar, dan pernah menjadi salah satu karya di dalam perebutan medali nobel. Oh kasihan sekali Proffesor Faozi. Sebagai bentuk belas kasihanku aku memberikan petunjuk padanya untuk mempelajari bahasa Hebrew (bahasa yang digunakan oleh orang Israel). Dengan basis pesantren yang dimiliki oleh proffesor faozi, aku yakin tidak begitu susah untuk memahami gramatikal dari bahasa hebrew tersebut. Mungkin agak susah karena tulisannya dituliskan dalam aksara ibrani. Namun untuk mendapatkan nobel, aku kira butuh kerja yang beyond the pain.
Menilik bahwa kebanyakan peraih nobel adalah orang-orang Yahudi, pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari bahasa Hebrew ini sangat banyak. Proffesor Faozi bisa mengkontemplasikan kebudayaan dari bangsa Israel sebagai salah satu metode untuk mengembangkan budaya meneliti di labseni. Kita tahu bahwa orang-orang Israel rata-rata membaca buku lebih dari 40 buku pertahun. Cobalah hai proffesor labseni yang lemah.

Komentar untuk Proffesor Labseni


Aku mengamati perkembangan dari Proffesor di Labseni yaitu Aziz Amerul Faozi. Aku tidak tahu sebenernya aku harus berkomentar pada dirinya apakah aku harus kasihan padanya ataukah aku harus cemburu padanya. Pasalnya hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku kasihan padanya, tapi sikapnya pada hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku cemburu. Dia begitu kesusahan saat menghadapi linux, hingga aku tidak tega melihat dia begitu kebingungan saat mengoprek linux. Tapi Aku begitu cemburu padanya, notabennya aku lebih jago linux dari pada dirinya, tapi dia malah menanggapi kebingunannya sebagai sebuah kenikmatan. Dasar Proffesor Faozi yang menyebalkan, aku senang dia mengalami kebingungan dalam pikiranku “Tahu rasa kau pake linux, emang enak.” Namun sepertinya dia malah terus belajar akibat salah pahamnya pada linux, dia pikir linux mencintai dirinya. Kegilaan macam apa itu? Orang jelas-jelas linux lebih mencintai diriku. Dia pikir dia bisa mencuri hati linux hanya dari bait murahan yang dia buat? Sebagai proffesornya para proffesor, aku menanggapi tindakan Proffesor Faozi sebagai pelanggaran etika percintaan. Dia seharusnya tahu diri bahwa linux itu telah menjadi istriku. Apakah dia ingin melanggar norma, kalau dia ingin menikahi linux, maka dia harus membuat aku dan linux bercerai terlebih dahulu, dan itu tidak mungkin karena entah linux dan aku saling mencintai satu sama lain, walau tidak kasat mata tapi cobalah Proffesor Faozi menganalisanya dalam kerangka metafisis yang lebih dalam.

Nasehat Ranggawasita


Mengalami zaman edan
Kita sulit menentukan sikap
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turu edan
Kita tidak kebagian
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan Tuhan
Betapa bahagia pun mereka yang lupa
Lebih bahagia yang ingat serta waspada

Undangan Linux


Oh Linux mengapa engkau memilihku yang lemah dan cupu ini untuk berada dalam pelukanmu. Engkau yang begitu indah dan penuh dengan kekuatan dan kuasa, mengapa engkau mengundang aku yang begitu lemah dan tak teratur ini. Bukankah masih banyak manusia jenius, manusia rajin, manuisa kaya, mengapa engkau memillih aku untuk kau peluk. Kau undang aku dengan melalui angst yang kau timbulkan melalui Sein yang aku tidak tahu dari mana, dan mengapa ini.

Neuro Onkologi


Susah fokus adalah yang hal yang sering terjadi dalam hidupku, apa yang mempengaruhinya yah? Aku sudah mencoba menggabungkan berbagai macam bidang keilmuan, tapi penyakit ini tidak bisa kunjung sembuh. Hingga aku mempelajari kedokteran holistik, neuroscience serta algoritma genetika. Mungkin pikiran saya sedang mengalami tumor? Untuk itu aku diagnosa dahulu pikiran saya.
Syndrome yang muncul berupa tidak fokus dalam menghadapi situasi, dan sering berhayal, itulah hal yang paling aku rasakan saat itu. Untuk memahami ini kita lihat pathologi penyakit yang aku derita. Meninjau dari apa yang dikatakan Heidegger, ada yang disebut sebagai Sein dan Sein Quo Sein, dalam istilah ini Sein berarti adalah ada itu sendiri, sedangkan Sein Quo Sein adalah ada tentang ada atau dalam hemat saya berarti mengada-ada. Ada dalam pengertian Heiddeger adalah ada itu sendiri. Saya tidak begitu bisa menjelaskan makna Heidegger karena katanya ada adalah ada itu sendiri. Namun dalam kajian hermeneutika Heidegger, mbah Heidegger menjeleskan bahwa memahami adalah sebuah perilaku ontis untuk memahami ada itu sendiri, sehingga ada itu muncul. Ada yang aku munculkan dalam persepsiku yang membuat diriku mengalami tumor neuro adalah pemikiran tanpa perilaku yang ontis, atau dalam artian memahami kurang mendalami apa aku kerjakan, hal ini menimbulkan pikiranku kurang bisa fokus dalam mengerjakan sesuatu, atau kondisi ini disebut sebagai Masturbasi Otak oleh Prof. dr. Choirul Muttaqin, Ph. D. Masturbasi otak dalam perspektif ini bisa saya tafsirkan sebagai kemalasan berfikir.
Setelah meninjau pathologi dari penyakit tumor “Masturbasi Otak” ini, beberapa metode penyembuhan aku sarankan untuk diriku sendiri. Yaitu, satu menambah quantitas pengalaman, kedua, menambah olah raga otak untuk mengurangi performa otak yang menurun akibat kemalasan berfikir (Masturbasi Otak), ketiga, mengurangi makan, banyak makan akan menyebabkan tubuh menjadi lembam (meningkatkan inersia), sehingga akan meningkatkan kualitas berfikir. Tapi obat yang paling penting adalah “Hidup Seutuhnya. ” wkwkwk.

Hari Esok Mungkin Tidak Ada Lagi


Hidup ini berubah satu kali dalam setiap menit. Terkadang hidup adalah bayangan, terkadang hidup adalah sinar cerah. Setiap menit disini. Hidup seutuhnya, apapun hari ini. Hari esok mungkin tidak ada lagi.
Itulah penggalan lagu India yang ditranslasikan kedalam bahasa Indonesia. Hidup seutuhnya, entah apapun hari ini, karena esok mungkin tidak ada lagi. Apapun yang terjadi kemarin atau esok. Cintailah hari ini, yang berlalu tidak mungkin berulang, dan esok juga belum tentu datang. Yang pasti hari ini harus kita nikmati.
Cintailah hidup dan cintailah kematian, sambut hidup dan kematianmu dengan hidup seutuhnya. Aku senang tidak mengetehui takdirku, dengan itu aku bisa hidup seutuhnya hari ini. Belajar secara utuh, membaca buku secara utuh, menulis secara utuh, bahkan mencintai secara utuh.
Kalau kata Tuhan, hidup ini hanyalah gurauan. Tapi kataku inilah Hiburan dari stand up komedi dari Tuhan yang Maha Lucu. Hiburan yang terkadang disalah pahami oleh diriku sebagai sebuah celaan, padahal Tuhan sangat menyayangiku. Sekali lagi, esok belum tentu ada, hiduplah seutuhnya.

Kejujuran Seorang Ilmuwan


Dalam ranah keilmuan terkadang saya berfikir bahwa untuk sampai pada keilmuan perlu adanya teori yang sahih, namun sebenernya makna yang di tafsirkan dalam konteks pemahaman kita terhadap sebuah teks bersifat produktif, itulah kata Gadamer. Aku tidak pernah memakai pemahaman dari teori yang sahih, teori yang berkembang ternyata dan yang aku tafsirkan adalah bentuk produksi dari dalam diri sendiri yang terinspirasi dari teori teori sebelumnya. Dengan ini aku bisa menyimpulkan bahwa lahirnya ilmu pengetahuan bukanlah muncul dari teori yang sahih namun dari sikap produktif kita dalam menafsirkan pengalaman diri. Untuk bisa sampai pada pemahaman yang tepat maka diperlukan moral yang jujur agar apa yang kita sampaikan bisa lebih diterima sebagai ilmu.
Dengan interpretasi yang aku dapatkan pada paragraf sebelumnya, makna kejeniusan agak bisa aku mengerti yaitu sebagai metode interpretasi (Veklaren) yang jujur dari pemahaman (Verseit) yang muncul dalam pengalaman ontis diriku sendiri. Mungkin inilah yang diperintahkan oleh guru saya untuk selalu bersikap jujur.

Buku yang Mengganggu


Aku terganggu sekali dengan buku karya Jujun S. Suriasumatri berjudul Filsafat Ilmu karena sering aku lihat saat aku pergi ke kampus dan membaca buku gratis di Gramedia. Sampulnya logo gajah, warna biru lagi, tapi kok yang jualan justru PKL di sekitar Unpad. Aku benar-benar semakin terganggu karena judulnya yang begitu menyeramkan, ada kata Filsafat disana. Untuk mahasiswa bodoh seperti aku ini mana mungkin bisa baca buku Filsafat? Suara ulama persia pun menggema dalam pikiranku, obat dari rasa sakit ada dalam rasa sakit itu sendiri. Jadi aku beranikan untuk membeli buku yang mengganggu itu agar aku bisa hidup dengan tenang, karena aku orang yang uangnya terbatas, aku lebih memilih membeli di pedagang kaki lima, jelaslah selisihnya bisa sampai 30 ribu dari gramedia, masih bisa ditawar lagi. Setelah aku baca buku itu,


Sialan !!! ternyata itu buku isinya komedi. Tapi aku bersukur ternyata kisah di buku itu masih lebih bodoh dari kisah hidupku. Wah benar memang, “Jangan nilai buku dari kovernya” dan “Hadapilah sakitmu, karena obat dari rasa sakit ada pada rasa sakit itu sendiri.” Aku juga ucapkan terima kasih pada Mbah Jujun yang mau menulis buku ini, sekarang aku tahu bahwa filsafat itu ternyata hanya sebuah komedi.

Onkologi Ustadz


Tulisan ini mencoba mengkritik diri saya sendiri sewaktu masih sering dipanggil Ustadz. Waktu itu pikiran saya masih cenderung kartesian. Karena efek paradigma Cartesian itu saya kurang menikmati solat dan ibadah saya pada Tuhan, walau terkadang saya juga menikmatinya. Ibadah yang saya lakukan cenderung seperti layaknya ustadz pada umumnya. Maklumlah paradigma kartesian akan menimbulkan sesuatu yang reduksionis dan menyembabkan pembengkakan pada pemikiran, sehingga saya sering melihat bentuk kejahatan adalah sesuatu yang menjijikan dan harus dihindari kalau bisa diamputasi. Dengan pemikiran itu saya mudah sekali menilai kesalehan dari apa yang nampak dari luar. Orang yang berpakaian tidak seperti seorang ustadz apalagi bertato dan suka merokok adalah sebuah kekotoran yang harus diamputasi. Namun siapa yang tahu isi hati. Suatu hari aku bertemu dengan pria bertato dan suka merokok, pemalas, suka nonton video yang ada cewe cantiknya seperti video SNSD, orang itu sering menulis di jurnal (untuk lebih mudah melakukan analisa kita misalkan jurnal itu sebagai wartamerta.com dan kita misalkan saja orang itu Choirul Muttaqin).
Aneh sekali pertemuan aku dengan orang yang kita sebut sebagai Choirul Muttaqin ini, dimula dari kejadian yang tidak terduga hingga dia menunjukan kebolehanya dalam melakukan analisa. Analisanya begitu subtil menilik dari jurnalnya yang kita sebut wartamerta.com. Berkat dia saya tahu bahwa saya mengidap penyakit tumor keustadzan. Dan Tuhan bukanlah sebuah, Wujud Absolut yang deterministik. Namun Wujud yang abisal. Paradigma ini juga mempengaruhi saya dalam membaca buku. Berkat beliau saya bisa bisa membaca buku dengan lebih kualitatif dan kuantitatif. Patut disayangkan orang seperti tidak diketahui banyak orang, apalagi namanya aku samarkan, agar kalian juga bisa menikmati masa-masa indah menderita tumor keustadzan. Dengan tumor itu kalian akan belajar untuk bisa lebih subtil menganalisa sebuah permasalah.
Tumor keustadzan ini juga berpengaruh banyak pada diri saya, sehingga memuat diri saya mengamputasi realitas. Dan analisa saya menjadi tidak sehat. Padahal “Pikiran yang tidak sehat lebih berbahaya dari penyakit itu sendiri.” dalam kedokteran holistik. Obatnya, katakan “ya” pada hidup dan “amor fati” (cintai hidupmu). Itulah kata orang bijak yang namanya saya samarkan sebagai Choirul Muttaqin (Orang Betakwa yang Baik ). Jadi siapa yang tahu isi hati?

Onkologi Penelitian di Indonesia


Mengamati lemahnya penelitian di Indonesia, saya mencoba melakukan diagnosa dari penyakit tersebut. Penyakit ini ditandai dengan sedikitnya paper-paper yang muncul di luar negeri adalah produk dari Indonesia. Penyakit ini semakin menampakkan dirinya dengan bentuk banyaknya produk made in luar negeri, serta text book yang buatan luar negeri juga.
Untuk menganalisa sebuah tumor dalam Onkologi kita perlu memahami pathologi dari munculnya penyakit tumor tersebut. Sindrome yang telah saya sebutkan tadi merupakan interpretasi dari tumor dalam penelitian di Indonesia, dan tumor dalam penelitian itu merupakan salah satu indikasi bahwa pendidikan di Indonesia tidak sehat. Namun saya agak aneh, ketika saya mengikuti kuliah di Indonesia, bagi saya kualitas dosen entah itu dari MIT, Harvard, bahkan universitas-universitas di Indonesia pun bagi saya tidak memiliki deviasi kualitas yang besar. Jadi hipotesis saya adalah bukan pada tenaga pendidik yang menyebabkan penyakit tumor dalam penelitian di Indonesia.
Karena bukan dari tenaga pendidik, maka saya menduga pada sistem pendidikan. Namun kurikulum yang diberikan juga tidak jauh antara universitas luar negeri dan universitas dalam negeri. Akhirnya asumsi terbesar saya mengarah pada diri saya sendiri selaku pelajar di Indonesia, wkwkwk. Mahasiswa di Indonesia cenderung lebih suka mengimplemantasikan bidang keilmuannya dari pada memperdalam bidang keilmuannya. Hal ini dicirikan dengan analisa yang kurang kosmis dari mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang saya ajak diskusi. Seorang mahasiswa teknik terkadang lebih suka melakukan trial dan error untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bidangnya. Seperti seorang engineer telekomunikasi (saya sendiri) yang mencoba melakukan trial dan error dengan OpenBTS atau OpenStack, untuk meningkatkan keterampilan dalam penggunaan perangkat telekomunikasi. Ngoprek adalah kebiasaan yang bagus, tapi ini tidak akan bisa mengobati penyakit tumor yang menjangkit di Penelitian di Indonesia, justru sikap ini akan membuat kita semakin mudah terdikte oleh teknologi asing.
Setelah menganalisa penyakit, layaknya seorang dokter maka saya mencoba melakukan operasi pada tumor tersebut. Tumor itu merupakan akibat dari kadar berlebihan dari sikap menutup diri dari segala yang berlainan dengan bidang kita. Akibatnya terjadi pembengkakan pada otot otak kita bagian kanan, sehingga akan mengurangi kita untuk bisa melakukan penetrasi pada sesuatu yang baru. Bersikap rendah hati pada bidang keilmuan lain bisa menjadi obat dari penyakit tumor ini. Saat kita berfikir bahwa mempelajari bidang keilmuan lain akan menghabiskan waktu itu benar, namun dalam Fisika Modern kita akan mendapatkan hasil pengamatan bergantung pada pengamatan kita, untuk itu jadikan bidang keilmuan lain sebagai alat untuk memperdalam bidang keilmuan kita, semacam mencari methode analisa baru, dengan keilmuan yang dalam penyakit tumor di Indonesia bisa diobati.

Aku Begitu Gegabah


Oh kegelisahan akibat kegegabahanku dulu sampai sekarang belum hilang. Waktu itu aku diperintahkan oleh dosen LTKA(Layanan Tersambung Komputasi Awan) untuk menuliskan dua buah kata yang saya ketahui tentang telekomunikasi. Waktu itu aku menuliskan “Seni Murni”. Alasan aku memilih dua kata itu, karena saat itu aku berfikir bahwa Telekomunikasi adalah Uber Geist dari sistem komunikasi (sebuah roh tertinggi dari sistem komunikasi). Namun setelah aku mencoba belajar lagi saya menyadari bahwa semakin aku belajar, aku semakin tidak mengerti Uber Geist atau yang aku sebut sebagai seni murni tersebut. Sekarang aku merevisi jawaban itu dengan dua kata “Seni Terapan”. Kali ini aku berasumsi bahwa telekomunikasi merupakan sebuah Geist aksiden dari Uber Geist, yang tertajalikan (Verklaren) melalui Zuhandene yang disebut sebagai Telekomunikasi dengan intensi untuk melakukan komunikasi berjarak. Semoga kecerobohanku tidak membuat nilaiku jelek.

Racun Linux


Oh linux kau balas cintaku padamu dengan racun bug-mu yang membuatku meraskan keputus-asaan yang tak terperikan. Aku pernah berfikir bahwa itu adalah pertanda bahwa kau tidak mencintaiku. Sekarang aku mengerti, bahwa racunmu itu bentuk cintamu padaku, kau sedang mengajarkanku untuk mengatasi keputus-asaan, kau mengajariku untuk bisa tetap teguh pada keyakinanku padamu. Oh, betapa indahnya racun bugmu itu? Bahkan ketika aku berfikir kau telah mencampakkan cintaku padamu kau masih memberikan cinta dalam bentuk racun yang begitu besar. Betapa tidak tahu terima kasih aku ini, yang hanya sekadar mencintaimu sebatas bibir. Kau mengajarkanku bahwa ketidak sempurnaan, adalah kesempurnaan itu seniri. Aku tidak mengerti? Mengapa kau begitu pintar, begitu bijak, begitu sabar mengajarkan determinasi, fokus, matematika, koding yang begitu berat, bahkan racunmu sampai-sampai membuatku membaca banyak buku. Dan kau berikan semua itu gratis. Dan kau tidak memberikan kesempatan untukku bermain-main dengan game yang bisa terinstall di windows, apakah agar supaya aku bisa terus belajar? Terima kasih linux, aku tidak akan menyakiti hatimu lagi.

Ragukanlah Kebenaran


Kata Rene Descartes ragukanlah kebenaran, dan munculkan idelismemu yang apriori itu menjadi pengetahuan melalui keraguan, seperti sajak Hamlet,
Ragukan bahwa bintang-bintang itu api
Ragukan bahwa matahari itu bergerak
Ragukan bahwa kebenaran itu dusta
Tapi jangan ragukan cintaku.
Kebenaran yang abisal seperti yang dikatakan Fredrich Nietzsche, tidak akan bisa kita definisikan secara pasti. Seperti halnya seorang pemuda mesir yang mencoba menelanjangi Tuhan saat hendak mencari Tuhan melalui batu-batu yang disembah. Alih-alih mendapatkan jawaban atas Tuhan, justru membuat pemuda mesir itu merasakan kegelisahan yang hebat hingga muncul angst, “Benarkah Tuhan itu ada?”. Baik Kebenaran, Tuhan, mereka seperti wanita. Seperti wanita yang apabila kita menginginkan wanita tersebut maka kita tidak boleh menelanjangi wanita tersebut. Bersikap sopan pada kebenaran yang bersifat abisal, merupakan hal yang terbaik jika menginginkan kebenaran itu muncul. Semacam menangguhkan hasrat kita untuk bisa memahami Kebenaran, Tuhan, maupun Wanita yang abisal itu. Biarkan dirinya sendiri yang memunculkan dirinya melalui dirinya dari dirinya sendiri, itulah yang dinasehatkan oleh Proffesor Choirul Muttaqin, dan bersikaplah sopan pada Tuhan, Kebenaran, dan Wanita.

Penangguhan Kesimpulan


Kehidupan saya begitu kacau, saya mencoba menganalisa segala kegagalanku dengan beragam metode dan disiplin ilmu dari matematika yang saintifik hingga analisa psikologi. Alih-alih mendapatkan jawaban untuk angst yang ditimbulkan oleh beragam kegagalan saya dengan beragam disiplin ilmu jurtru membawa kekacauan yang lebih parah. Saya lumayan beruntung dipertemukan oleh Choirul Mutaqin, yang mencoba menganalisa masalah saya. Sarannya beragam mulai dari membunuh sang kekasih hati, hingga akhirnya saya mendapatkan solusi yang agak utopis namun cukup solutif, yaitu membaca buku. Saya memang hobi membaca buku, namun angst yang begitu besar membuat saya memaknai buku itu kurang berkelas. Hermeneutika adalah hal yang cukup membantu untuk cara saya membaca. Selain meningkatkan kuantitas saya membaca, hermeneutika juga meningkatkan kualitas saya dalam membaca teks, baik teks fisik maupun teks kehidupan.
Pemikiran yang tidak seimbang lebih bahaya dari pada penyakit itu sendiri, itulah yang dituliskan dalam buku Turning Point karya dari Fritjof Capra, in harmonia progressio, dalam keharmonisan kita melangkah kedepan, itulah slogan dari kampus tercinta. Namun progress yang saya selalu kejar tidak sampai pada tujuan, saya melupakan makna dari in harmonia itu sendiri. Dalam buku-buku kedokteran holistik juga telah membahas itu, namun sepertinya saya tidak begitu bisa menanamkan dalam diri saya. Setelah menonton American Beauty saya mulai memahaminya, terkadang penangguhan atas progress diperlukan untuk melangkah dalam harmonis. Saya pikir hanya pikiran saya yang mengidap penyakit gegabah ternyata teman-teman saya juga seperti itu. Agama yang dijadikan pelarian juga tidak bisa membantu, akibat melatih pikiran kita pada paradigma tentang warna putih bukan sebuah kesucian. Agama ditafsirkan sebagai alat menolak kejahatan dan menjunjung tinggi kebaikan, namun amputasi pada pemikiran ini membuat pemikiran saya tidak menerima diri saya yang dipenuhi oleh dosa. Dan sekarang saya lebih bisa memahami bahwa kesucian merupakan sebuah keseimbangan harmonis antara jahat dan baik, rajin dan malas agar kita bisa tumbuh dan belajar. Dari cerita di atas terlihat bahwa saya kurang liburan dan mencoba untuk menyelesaikan masalah tanpa pikiran yang sehat, penangguhan kesimpulan memiliki peranan penting disini.



Saatnya Berlibur


Membaca karya Fredrich Nietzsche membuat kepala menjadi lebih berat. Beberapa hal menarik diungkapkan oleh Fredrich Nietzsche, seperti Boleh kita berputus asa, tapi kita tidak boleh menyerah, Cintailah yang jauh, Lelaki menyukai bahaya dan hiburan dan banyak lainnya. Tulisan Fredrich Nietzsche memang anti dekaden, hingga membunuh tuhanpun dilakukan untuk memperoleh kehendak yang lebih tinggi, walau saya menafsirkan bahwa tulisan aku yang lebih tinggi dalam tulisan Nietzsche sendiri adalah Tuhan. Yah, tidak bisa disalahkan memang, setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk bisa mencapai kesadaran Ilahiah, ada yang solat tiap malam, ada yang membaca tiap jam, ada juga yang menulis tidak jelas seperti saya.
Ketegangan otak setelah membaca buku Zaratustra memang tak bisa dihindari, apa lagi buku tersebut memberikan kita paradigma untuk tetap terus bergerak walau kedalaman penderitaan tak bisa dihindarkan. Stress berat, itulah efek yang wajar pastinya, menyimak film American Beauty dengan Abdul Haris Wirabrata dan Bernad, memberikan pandangan baru tentang produktifitas. Dalam film tersebut setiap orang bekerja keras untuk bisa tetap pada jalur yang produktif, namun alih-alih produktif justru menyebabkan kejenuhan luar biasa hingga sang pelaku utama membayangkan teman anaknya sendiri saat masturbasi. Dan sang istri tidak saja menjadi geram, juga membuatnya semakin memperkeruh keadaan, hingga saat dia melakukan pembunuhan pada suaminya sendiri, walau akhirnya dia menyadari bahwa suaminya memang benar-benar mencintai dirinya hingga dia menyesali perbuatanya. Liburan memang diperlukan untuk bisa semakin jernih dalam menganalisa sebuah permasalah agar kita tidak hanyut dalam kejenuhan hingga kita melakukan tindakan yang tidak perlu untuk diperbuat.

Teknologi dan Manusia


Membaca buku Filsafat Teknologi : Don Idhe tentang Dunia, Manusia dan Alat karya Francais Lim yang diterbitkan oleh Kanisius yang terbit pada tahun 2008, memberikan tambahan tentang makna teknologi untuk para peneliti dan pengembang teknologi. Pemikiran Don Ihde memang terpengaruhi oleh pemikiran Martin Heiddeger dalam karya The Question Concerning Technology. Don Ihde membagi empat jenis perilaku kita terhadap teknologi yang akan kita bahas nanti.
Filsafat teknologi berkaitan dengan filsafat sains. Pertanyaan bagi para filsuf eropa yang bertanya apakah sains lebih pertama muncul ataukah teknologi yang lebih dahulu ketimbang teknologi. Dalam pemikiran Heiddeger, teknologi adalah sebuah perilaku ontis, untuk bisa memahami sains perlu perilaku ontis ini, refleksi terhadap perilaku ontis terhadap teknologi ini di tafsirkan Heiddeger sebagai sains. Dengan statement ini terlihat bahwa Heiddeger menyatakan bahwa teknologi mendahului sains. Martin Heidegger menjelaskan bahwa hubungan antara manusia dan teknologi merupakan sebuah keterhubungan secara kebertubuhan. Teknologi dimaknai sebagai proses kita untuk menjadi Dasein (ada di sana) dalam dunia. Perilaku ini menunjukan kebertubuhan sebagai perpanjangan tangan dari manusia tentang Dasein (Eksistensi) di dunia.
Idhe mendukung pemikiran Heidegger tersebut namun Ihde mengelompokan perilaku menjadi empat golongan hubungan antara manusia dan teknologi yaitu
  1. Kebertubuhan
    Hubungan kebertubuhan memiliki makna bahwa teknologi merupakan pemanjangan dari tubuh manusia, dalam hubungan ini kita akan melihat bahwa hubungan teknologi diamati sebagai diri dari manusia itu sendiri.
  2. Hermeneutis
    Hubungan manusia dengan teknologi secara hermeneutis meletakan teknologi sebagai kesatuan dari dunia dan manusia merupakan seorang pengamat dari sini kita melihat bahwa ada seperti subjek objek walau dalam hermeneutika Heiddeger tidak ada yang disebut subjek dan objek. Namun kondisi yang dijelaksan adalah pada kondisi reflektif dari hubungan teknolgi tersebut.
  3. Keberlainan
    Hubungan keberlainan antara teknolgi, manusia dan dunia dijelaskan secara terpisah. Aanalisa ini seperti kita mencoba membedakan apa perang teknolgi, manusia dan dunia.
  4. Latar Belakang
    Hubungan latar teknologi menjelaskan kepada kita untuk melihat kebutuhan manusia menggunakan teknologi untuk Dasein di dunia.
Hal yang menarik dari pemikiran Don Idhe adalah melihat bahwa teknologi tidaklah netral, teknologi memiliki hak otonom. Seorang pemikir yang saya lupa namanya mengatakan seperti berikut. Sebuah pistol ketika dia digunakan untuk membunuh maka pistol itu bersifat netral dan pistol itu tidak memiliki pengaruh pada proses pembunuhan, hanya sebagai Zuhandenes yang mati. Namun dalam pemikiran Don Idhe, Zuhandenes tersebut memiliki hak otonom untuk memberikan pemahaman bagi pengguna Zuhandenes tersebut. Dari sini kita melihat bahwa teknologi memiliki Geist (Roh) sendiri dalam pembentukan manusia. Kita juga bisa melihat bahwa teknologi bisa menghanyutkan manusia (membentuk pemikiran manusia). Dengan ini kita diminta untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi sebagai Zuhandenes, manusia yang memiliki kehendak bebas dalam teknologi dengan alih-alih menggunakan teknologi menjadi terjajah dengan teknologi.
Don Idhe juga menyarankan dalam penelitian dan pengembangan haruslah disertai seorang filsuf untuk mengkonstruksi sebuah teknologi yang beretika. Sekarang ini banyak yang mengotakan filsuf sekadar untuk melakukan dalam analisa etis, namun ketika kita melihat bahwa teknologi bisa mengkonstruksi sebuah pemikiran, dan mampu menjajah para pengguna teknologi perlu adanya analisis yang lebih komprehensif dalam proses penelitian dan pengembangan teknologi.
Sumber :
  1. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta