Hai Proffesor Faozi
yang dekaden Aku melihatmu begitu pilu menghadapi realitas ini.
Bukankah aku telah mengatakan padamu kebutuhan akan pengakuan akan
membuatmu mengalami neorisis dalam pikiranmu? Mengapa engkau begitu
lemah hingga dirimu tidak mempercayai dirimu sendiri. Hai proffesor
dekaden, Aku melihat kau masih bergantung pada apa yang diluar
dirimu. Apa yang kau butuhkan? Uang, nilai yang bagus atau lainnya,
Aku lebih estetis dari itu. Aku lebih berkuasa dari itu? Apakah kau
tidak malu pada dirimu, betapa dirimu menilai begitu rendah dirimu?
Penelitianmu masih bergantung pada uang, pada pengakuan, pada apa
yang rendah itu? Mengapa tidak kau lakukan untuk dirimu sendiri,
wahai proffesor yang lemah? Kau beralasan penelitanmu itu tanggung
jawab, betapa lemahnya dirimu? Bagaimana jika kau bukan proffesor
masihkah kau meriset? Masihkah kau lakukan itu? Lakukan untuk dirimu,
wahai proffesor dekaden? Nihilkan, nihilkan yang diluar dirimu,
hingga kau tahu betapa rendahnya apa yang ada diluar dirimu itu,
wahai proffesor lemah, wahai proffesor dekaden, wahai proffesor yang
otaknya sedang mengalami neorisis.