Laman

Rabu, 27 April 2016

Onkologi Pertelevisian Indonesia


Melihat ibu nonton TV, aku justru merasa cemas karena tontonan di televisi lebih cenderung ke arah dekaden. Moral jujur ditampakan tidak cukup subtil, bahkan kisah kehidupan yang mengada dan kurang ontologis membuat paradigma skeptis pada nilai hidup yang diyakini kian merebak ditayangan televisi. Layaknya teks menurut Jacques Derrida dan teknologi menurut Idhe yang keduanya terispirasi dari Martin Heidegger, televisi juga memiliki hak otonom, televisi yang sebuah teks mampu menciptakan paradigma untuk menjajah para penontonya. Ibuku yang hanya lulusan SD hanya bisa menonton televisi sekadar hiburan tanpa tahu dirinya dijajah, dan memang kebanyakan orang di Indonesia seperti itu, mereka tidak menyadari bahwa televisi merupakan zuhandene para tirani yang ingin melakukan penjajahan pola pikir mereka. Tayangan religiuspun tidak luput dari beragam kepentingan untuk meyakinkan mereka bahwa apa yang mereka tonton tidak bersifat dekaden. Harusnya para penonton televisi menjadikan televisi sebagai zuhandene bukan sebagai Sein agar pola pikirnya tidak mudah teracuni oleh tontonan televisi.
Teriakan-teriakan dari partai politik, calon presiden, maupun calon pejabat di televisi sekadar hanya untuk meyakinkan diri mereka pantas. Mereka ingin membangun negeri, katanya. Tapi walau sudah menjadi pejabat, toh nyatanya konstruksi pertelevisian masih cenderung mengkonstruksi pemikiran konsumtif dan pemikiran dekaden (seperti pesisimse negeri). Para pejabat yang ditayangkan di televisi ketika diwawancara pun tidak menunjukan kapabilitas mereka seorang pemimpin. Seperti contoh kasus seorang pejabat di dinas perhubungan yang menyikapi model trasportasi online kurang solutif, dia justru menyalahkan masyarakat yang dianggapnya salah, dia menganggap sistem yang telah diciptakan telah cukup baik, namun kenyataanya mengapa polemik itu tidak bisa teratasi. Akan lebih bijak dia mengatakan, “Saya akan perbaiki sistemnya.”. Contoh kurang bermutunya para pemimpin negeri justru lebih sering dipertontonkan, hal ini akan semakin menambah ketidak percayaan publik pada pemerintah.
Entah jurnalis, entah penyedia jasa layanan televisi, yang terus berteriak “Membangun Negeri”, mengapa kalian masih menayangkan acara yang dekaden?