Melihat ibu nonton TV, aku justru merasa
cemas karena tontonan di televisi lebih cenderung ke arah dekaden.
Moral jujur ditampakan tidak cukup subtil, bahkan kisah kehidupan
yang mengada dan kurang ontologis membuat paradigma skeptis pada
nilai hidup yang diyakini kian merebak ditayangan televisi. Layaknya
teks menurut Jacques Derrida dan teknologi menurut Idhe yang keduanya
terispirasi dari Martin Heidegger, televisi juga memiliki hak otonom,
televisi yang sebuah teks mampu menciptakan paradigma untuk menjajah
para penontonya. Ibuku yang hanya lulusan SD hanya bisa menonton
televisi sekadar hiburan tanpa tahu dirinya dijajah, dan memang
kebanyakan orang di Indonesia seperti itu, mereka tidak menyadari
bahwa televisi merupakan zuhandene para
tirani yang ingin melakukan penjajahan pola pikir mereka. Tayangan
religiuspun tidak luput dari beragam kepentingan untuk meyakinkan
mereka bahwa apa yang mereka tonton tidak bersifat dekaden. Harusnya
para penonton televisi menjadikan televisi sebagai zuhandene
bukan sebagai Sein agar
pola pikirnya tidak mudah teracuni oleh tontonan televisi.
Teriakan-teriakan
dari partai politik, calon presiden, maupun calon pejabat di televisi
sekadar hanya untuk meyakinkan diri mereka pantas. Mereka ingin
membangun negeri, katanya. Tapi walau sudah menjadi pejabat, toh
nyatanya konstruksi pertelevisian masih cenderung mengkonstruksi
pemikiran konsumtif dan pemikiran dekaden (seperti pesisimse negeri).
Para pejabat yang ditayangkan di televisi ketika diwawancara pun
tidak menunjukan kapabilitas mereka seorang pemimpin. Seperti contoh
kasus seorang pejabat di dinas perhubungan yang menyikapi model
trasportasi online kurang solutif, dia justru menyalahkan masyarakat
yang dianggapnya salah, dia menganggap sistem yang telah diciptakan
telah cukup baik, namun kenyataanya mengapa polemik itu tidak bisa
teratasi. Akan lebih bijak dia mengatakan, “Saya akan
perbaiki sistemnya.”. Contoh
kurang bermutunya para pemimpin negeri justru lebih sering
dipertontonkan, hal ini akan semakin menambah ketidak percayaan
publik pada pemerintah.
Entah jurnalis, entah penyedia jasa
layanan televisi, yang terus berteriak “Membangun Negeri”,
mengapa kalian masih menayangkan acara yang dekaden?