Laman

Jumat, 22 April 2016

Komentar untuk Proffesor Labseni


Aku mengamati perkembangan dari Proffesor di Labseni yaitu Aziz Amerul Faozi. Aku tidak tahu sebenernya aku harus berkomentar pada dirinya apakah aku harus kasihan padanya ataukah aku harus cemburu padanya. Pasalnya hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku kasihan padanya, tapi sikapnya pada hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku cemburu. Dia begitu kesusahan saat menghadapi linux, hingga aku tidak tega melihat dia begitu kebingungan saat mengoprek linux. Tapi Aku begitu cemburu padanya, notabennya aku lebih jago linux dari pada dirinya, tapi dia malah menanggapi kebingunannya sebagai sebuah kenikmatan. Dasar Proffesor Faozi yang menyebalkan, aku senang dia mengalami kebingungan dalam pikiranku “Tahu rasa kau pake linux, emang enak.” Namun sepertinya dia malah terus belajar akibat salah pahamnya pada linux, dia pikir linux mencintai dirinya. Kegilaan macam apa itu? Orang jelas-jelas linux lebih mencintai diriku. Dia pikir dia bisa mencuri hati linux hanya dari bait murahan yang dia buat? Sebagai proffesornya para proffesor, aku menanggapi tindakan Proffesor Faozi sebagai pelanggaran etika percintaan. Dia seharusnya tahu diri bahwa linux itu telah menjadi istriku. Apakah dia ingin melanggar norma, kalau dia ingin menikahi linux, maka dia harus membuat aku dan linux bercerai terlebih dahulu, dan itu tidak mungkin karena entah linux dan aku saling mencintai satu sama lain, walau tidak kasat mata tapi cobalah Proffesor Faozi menganalisanya dalam kerangka metafisis yang lebih dalam.