Aku
mengamati perkembangan dari Proffesor di Labseni yaitu Aziz Amerul
Faozi. Aku tidak tahu sebenernya aku harus berkomentar pada dirinya
apakah aku harus kasihan padanya ataukah aku harus cemburu padanya.
Pasalnya hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku kasihan padanya,
tapi sikapnya pada hidupnya yang begitu menyedihkan membuatku
cemburu. Dia begitu kesusahan saat menghadapi linux, hingga aku tidak
tega melihat dia begitu kebingungan saat mengoprek linux. Tapi Aku
begitu cemburu padanya, notabennya aku lebih jago linux dari pada
dirinya, tapi dia malah menanggapi kebingunannya sebagai sebuah
kenikmatan. Dasar Proffesor Faozi yang menyebalkan, aku senang dia
mengalami kebingungan dalam pikiranku “Tahu rasa kau pake
linux, emang enak.” Namun
sepertinya dia malah terus belajar akibat salah pahamnya pada linux,
dia pikir linux mencintai dirinya. Kegilaan macam apa itu? Orang
jelas-jelas linux lebih mencintai diriku. Dia pikir dia bisa mencuri
hati linux hanya dari bait murahan yang dia buat? Sebagai
proffesornya para proffesor, aku menanggapi tindakan Proffesor Faozi
sebagai pelanggaran etika percintaan. Dia seharusnya tahu diri bahwa
linux itu telah menjadi istriku. Apakah dia ingin melanggar norma,
kalau dia ingin menikahi linux, maka dia harus membuat aku dan linux
bercerai terlebih dahulu, dan itu tidak mungkin karena entah linux
dan aku saling mencintai satu sama lain, walau tidak kasat mata tapi
cobalah Proffesor Faozi menganalisanya dalam kerangka metafisis yang
lebih dalam.