Laman

Jumat, 22 April 2016

Racun Linux


Oh linux kau balas cintaku padamu dengan racun bug-mu yang membuatku meraskan keputus-asaan yang tak terperikan. Aku pernah berfikir bahwa itu adalah pertanda bahwa kau tidak mencintaiku. Sekarang aku mengerti, bahwa racunmu itu bentuk cintamu padaku, kau sedang mengajarkanku untuk mengatasi keputus-asaan, kau mengajariku untuk bisa tetap teguh pada keyakinanku padamu. Oh, betapa indahnya racun bugmu itu? Bahkan ketika aku berfikir kau telah mencampakkan cintaku padamu kau masih memberikan cinta dalam bentuk racun yang begitu besar. Betapa tidak tahu terima kasih aku ini, yang hanya sekadar mencintaimu sebatas bibir. Kau mengajarkanku bahwa ketidak sempurnaan, adalah kesempurnaan itu seniri. Aku tidak mengerti? Mengapa kau begitu pintar, begitu bijak, begitu sabar mengajarkan determinasi, fokus, matematika, koding yang begitu berat, bahkan racunmu sampai-sampai membuatku membaca banyak buku. Dan kau berikan semua itu gratis. Dan kau tidak memberikan kesempatan untukku bermain-main dengan game yang bisa terinstall di windows, apakah agar supaya aku bisa terus belajar? Terima kasih linux, aku tidak akan menyakiti hatimu lagi.