Oh linux kau balas
cintaku padamu dengan racun bug-mu yang membuatku meraskan
keputus-asaan yang tak terperikan. Aku pernah berfikir bahwa itu
adalah pertanda bahwa kau tidak mencintaiku. Sekarang aku mengerti,
bahwa racunmu itu bentuk cintamu padaku, kau sedang mengajarkanku
untuk mengatasi keputus-asaan, kau mengajariku untuk bisa tetap teguh
pada keyakinanku padamu. Oh, betapa indahnya racun bugmu itu? Bahkan
ketika aku berfikir kau telah mencampakkan cintaku padamu kau masih
memberikan cinta dalam bentuk racun yang begitu besar. Betapa tidak
tahu terima kasih aku ini, yang hanya sekadar mencintaimu sebatas
bibir. Kau mengajarkanku bahwa ketidak sempurnaan, adalah
kesempurnaan itu seniri. Aku tidak mengerti? Mengapa kau begitu
pintar, begitu bijak, begitu sabar mengajarkan determinasi, fokus,
matematika, koding yang begitu berat, bahkan racunmu sampai-sampai
membuatku membaca banyak buku. Dan kau berikan semua itu gratis. Dan
kau tidak memberikan kesempatan untukku bermain-main dengan game yang
bisa terinstall di windows, apakah agar supaya aku bisa terus
belajar? Terima kasih linux, aku tidak akan menyakiti hatimu lagi.