Laman

Sabtu, 23 April 2016

Sastra dan Teknologi


Aku bukanlah orang yang suka membaca buku yang cenderung utopis. Novel, atau buku puisi merupakan buku yang sia-sia menurutku. Ketimbang menggunakan uang untuk buku yang tidak jelas seperti itu, mending uangnya digunakan untuk membeli buku fisika atau matematika. Bisa melatih berfikir dan sebagainya. Namun setelah memperdalam fisika dan matematika, aku mengalami stagnansi dalam proses pencarian ilmu. Mungkin sudah 6 tahun aku merasakan hal ini. Angst ini mengakibatkan aku pergi ke pesantren, belajar kitab kuning. Namun karena kurang begitu kompaktibel dengan bidang keilmuanku yang cenderung ke fisika dan matematika itu membuatku meninggalkan sastra persia. Namun setelah lama aku membaca sejarah engineering yang disusun oleh penerbit MIT, aku menemukan adanya hubungan kausalitas antara sastra dan engineering. Aku mencoba menghubungkan keduanya, hingga aku mendapati bahwa sastra adalah salah satu inventasi terbesar dalam pembangunan suatu bangsa. Kita melihat bahwa pada abad pertengahan, daerah persia mengalami kemajuan dalam bidang teknologi, secara analisa geneologi yang aku lakukan. Perkembangan teknologi itu dimulai dengan perkembangan sastra yang berkembang di daerah persia, kemudian banyak orang yang belajar di Persia. Namun akibat sistem yang kurang dipahami oleh Islam Fundamentalis (yang cenderung menolak kebebasan berfikir) peradaban Islam jatuh. Kemudian sastra berkembang di benua barat, mulai dari Goethe, Shakespeare, Blaudaire Fleurs, atau bahkan yang baru seperti Sartre, Nietzsche. Pengaruh sastra mereka yang subtil cukup menarik para intelektual dari penjuru dunia untuk belajar disana. Dengan basis keilmuan yang berbeda mereka mencoba mencari logos di belahan barat, bisa jadi sebagai ketidak percayaan masyarakat intelektual pada Islam waktu itu. Peradaban Islam jatuh, dan seperti yang sekarang kita lihat, Islam hanyalah adat istiadat tanpa sebuah kesubtilan yang berdasar. Sebuah ajaran dari pelarian atas kelemahan diri untuk menyikapi realitas. Orang yang memiliki basis keilmuan masing-masing kemudian menemukan dirinya di belahan eropa ketika mereka mempelajari sastra. Ada yang mencoba mengejawantahkan diri mereka (verklaren) melalui mesin yang disebut sebagai engineer. Ada yang mencoba mengejawantahkan diri mereka (verklaren) melalui pengobatan, kemudian sekarang dikenal sebagai dokter. Maka apakah sastra tidak begitu penting? Ataukah ketakutan kita itu lebih penting? Wallahu ‘alam bisawab.