Aku bukanlah orang yang suka membaca buku yang cenderung utopis.
Novel, atau buku puisi merupakan buku yang sia-sia menurutku.
Ketimbang menggunakan uang untuk buku yang tidak jelas seperti itu,
mending uangnya digunakan untuk membeli buku fisika atau matematika.
Bisa melatih berfikir dan sebagainya. Namun setelah memperdalam
fisika dan matematika, aku mengalami stagnansi dalam proses pencarian
ilmu. Mungkin sudah 6 tahun aku merasakan hal ini. Angst ini
mengakibatkan aku pergi ke pesantren, belajar kitab kuning. Namun
karena kurang begitu kompaktibel dengan bidang keilmuanku yang
cenderung ke fisika dan matematika itu membuatku meninggalkan sastra
persia. Namun setelah lama aku membaca sejarah engineering yang
disusun oleh penerbit MIT, aku menemukan adanya hubungan kausalitas
antara sastra dan engineering. Aku mencoba menghubungkan keduanya,
hingga aku mendapati bahwa sastra adalah salah satu inventasi
terbesar dalam pembangunan suatu bangsa. Kita melihat bahwa pada abad
pertengahan, daerah persia mengalami kemajuan dalam bidang teknologi,
secara analisa geneologi yang aku lakukan. Perkembangan teknologi itu
dimulai dengan perkembangan sastra yang berkembang di daerah persia,
kemudian banyak orang yang belajar di Persia. Namun akibat sistem
yang kurang dipahami oleh Islam Fundamentalis (yang cenderung menolak
kebebasan berfikir) peradaban Islam jatuh. Kemudian sastra berkembang
di benua barat, mulai dari Goethe, Shakespeare, Blaudaire Fleurs, atau
bahkan yang baru seperti Sartre, Nietzsche. Pengaruh sastra mereka
yang subtil cukup menarik para intelektual dari penjuru dunia untuk
belajar disana. Dengan basis keilmuan yang berbeda mereka mencoba
mencari logos di belahan barat, bisa jadi sebagai ketidak percayaan
masyarakat intelektual pada Islam waktu itu. Peradaban Islam jatuh,
dan seperti yang sekarang kita lihat, Islam hanyalah adat istiadat
tanpa sebuah kesubtilan yang berdasar. Sebuah ajaran dari pelarian
atas kelemahan diri untuk menyikapi realitas. Orang yang memiliki
basis keilmuan masing-masing kemudian menemukan dirinya di belahan
eropa ketika mereka mempelajari sastra. Ada yang mencoba
mengejawantahkan diri mereka (verklaren) melalui mesin yang disebut
sebagai engineer. Ada yang mencoba mengejawantahkan diri mereka
(verklaren) melalui pengobatan, kemudian sekarang dikenal sebagai
dokter. Maka apakah sastra tidak begitu penting? Ataukah ketakutan
kita itu lebih penting? Wallahu ‘alam bisawab.