Laman

Senin, 25 April 2016

Onkologi Cinta

Banyak orang yang dekaden akibat penyakit yang mereka sebut sebagai cinta. Mulai dari sering melamun, hingga insiden bunuh diri. Penyakit cinta memang menarik, selain penyakit ini tidak jelas, dan susah disembuhkan, biasanya para orang yang disebut sebagai pecinta juga malas untuk menyembuhkannya. Untuk itu tulisan ini saya persembahkan kepada sebatang rokok yang begitu rela membakar dirinya hanya untuk menemani aku membaca, menulis buku, meriset SDN, dan dangdutan bersama linux.
Seperti halnya tehnologi menurut Idhe, cinta juga memiliki hak otonom. Jika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak maka cinta bisa menjajah diri kita sendiri, hal ini akn sangat berbahaya karena kita tidak pernah akan tahu kemana cinta membawa kita, api neraka, atau api surga? Untuk itu seperti halnya Heidegger yang menyimpulkan bahwa teknologi adalah sebuah Zuhandene (alat) sebagai perpanjang diri kita untuk mempermudah sesuatu, hendaknya Cinta juga bisa diperlakukan sebagai Zuhandene untuk kita bisa memahami sesuatu lebih subtil. Cinta layaknya sebuah FPI, jika FPI dididik dengan benar kerusuhan di Indonesia atas nama Islam tidak akan mencemarkan nama islam sendiri. Untuk itu gunakanlah Cinta sebagai Zuhandene.