Banyak orang yang dekaden akibat penyakit yang mereka sebut sebagai
cinta. Mulai dari sering melamun, hingga insiden bunuh diri. Penyakit
cinta memang menarik, selain penyakit ini tidak jelas, dan susah
disembuhkan, biasanya para orang yang disebut sebagai pecinta juga
malas untuk menyembuhkannya. Untuk itu tulisan ini saya persembahkan
kepada sebatang rokok yang begitu rela membakar dirinya hanya untuk
menemani aku membaca, menulis buku, meriset SDN, dan dangdutan
bersama linux.
Seperti halnya tehnologi menurut Idhe, cinta juga memiliki hak
otonom. Jika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak maka cinta
bisa menjajah diri kita sendiri, hal ini akn sangat berbahaya karena
kita tidak pernah akan tahu kemana cinta membawa kita, api neraka,
atau api surga? Untuk itu seperti halnya Heidegger yang menyimpulkan
bahwa teknologi adalah sebuah Zuhandene (alat) sebagai
perpanjang diri kita untuk mempermudah sesuatu, hendaknya Cinta juga
bisa diperlakukan sebagai Zuhandene untuk kita bisa memahami
sesuatu lebih subtil. Cinta layaknya sebuah FPI, jika FPI dididik
dengan benar kerusuhan di Indonesia atas nama Islam tidak akan
mencemarkan nama islam sendiri. Untuk itu gunakanlah Cinta sebagai
Zuhandene.