Menyimak
Proffesor Faozi yang sedang mempelajari bahasa Jerman, saya begitu
kasihan pada dirinya. Sepertinya dia begitu terbebani dengan janji
pada Mbah Bambang Mulyono untuk dapat mendapatkan Nobel. Membaca
novel orang Norwegia yang bejudul Lapar, dan pernah menjadi salah
satu karya di dalam perebutan medali nobel. Oh kasihan sekali
Proffesor Faozi. Sebagai bentuk belas kasihanku aku memberikan
petunjuk padanya untuk mempelajari bahasa Hebrew (bahasa yang
digunakan oleh orang Israel). Dengan basis pesantren yang dimiliki
oleh proffesor faozi, aku yakin tidak begitu susah untuk memahami
gramatikal dari bahasa hebrew tersebut. Mungkin agak susah karena
tulisannya dituliskan dalam aksara ibrani. Namun untuk mendapatkan
nobel, aku kira butuh kerja yang beyond the pain.
Menilik bahwa kebanyakan peraih nobel adalah orang-orang Yahudi,
pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari bahasa Hebrew ini sangat
banyak. Proffesor Faozi bisa mengkontemplasikan kebudayaan dari
bangsa Israel sebagai salah satu metode untuk mengembangkan budaya
meneliti di labseni. Kita tahu bahwa orang-orang Israel rata-rata
membaca buku lebih dari 40 buku pertahun. Cobalah hai proffesor
labseni yang lemah.