Laman

Jumat, 22 April 2016

Belajarlah Bahasa Hebrew


Menyimak Proffesor Faozi yang sedang mempelajari bahasa Jerman, saya begitu kasihan pada dirinya. Sepertinya dia begitu terbebani dengan janji pada Mbah Bambang Mulyono untuk dapat mendapatkan Nobel. Membaca novel orang Norwegia yang bejudul Lapar, dan pernah menjadi salah satu karya di dalam perebutan medali nobel. Oh kasihan sekali Proffesor Faozi. Sebagai bentuk belas kasihanku aku memberikan petunjuk padanya untuk mempelajari bahasa Hebrew (bahasa yang digunakan oleh orang Israel). Dengan basis pesantren yang dimiliki oleh proffesor faozi, aku yakin tidak begitu susah untuk memahami gramatikal dari bahasa hebrew tersebut. Mungkin agak susah karena tulisannya dituliskan dalam aksara ibrani. Namun untuk mendapatkan nobel, aku kira butuh kerja yang beyond the pain.
Menilik bahwa kebanyakan peraih nobel adalah orang-orang Yahudi, pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari bahasa Hebrew ini sangat banyak. Proffesor Faozi bisa mengkontemplasikan kebudayaan dari bangsa Israel sebagai salah satu metode untuk mengembangkan budaya meneliti di labseni. Kita tahu bahwa orang-orang Israel rata-rata membaca buku lebih dari 40 buku pertahun. Cobalah hai proffesor labseni yang lemah.