Membaca
karya Fredrich Nietzsche membuat kepala menjadi lebih berat. Beberapa
hal menarik diungkapkan oleh Fredrich Nietzsche, seperti Boleh
kita berputus asa, tapi kita tidak boleh menyerah,
Cintailah yang jauh, Lelaki menyukai bahaya dan hiburan dan
banyak lainnya. Tulisan Fredrich Nietzsche memang anti dekaden,
hingga membunuh tuhanpun dilakukan untuk memperoleh kehendak yang
lebih tinggi, walau saya menafsirkan bahwa tulisan aku yang lebih
tinggi dalam tulisan Nietzsche sendiri adalah Tuhan. Yah, tidak bisa
disalahkan memang, setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk
bisa mencapai kesadaran Ilahiah, ada yang solat tiap malam, ada yang
membaca tiap jam, ada juga yang menulis tidak jelas seperti saya.
Ketegangan otak setelah membaca buku Zaratustra memang tak bisa
dihindari, apa lagi buku tersebut memberikan kita paradigma untuk
tetap terus bergerak walau kedalaman penderitaan tak bisa
dihindarkan. Stress berat, itulah efek yang wajar pastinya, menyimak
film American Beauty dengan Abdul Haris Wirabrata dan Bernad,
memberikan pandangan baru tentang produktifitas. Dalam film tersebut
setiap orang bekerja keras untuk bisa tetap pada jalur yang
produktif, namun alih-alih produktif justru menyebabkan kejenuhan
luar biasa hingga sang pelaku utama membayangkan teman anaknya
sendiri saat masturbasi. Dan sang istri tidak saja menjadi geram,
juga membuatnya semakin memperkeruh keadaan, hingga saat dia
melakukan pembunuhan pada suaminya sendiri, walau akhirnya dia
menyadari bahwa suaminya memang benar-benar mencintai dirinya hingga
dia menyesali perbuatanya. Liburan memang diperlukan untuk bisa
semakin jernih dalam menganalisa sebuah permasalah agar kita tidak
hanyut dalam kejenuhan hingga kita melakukan tindakan yang tidak
perlu untuk diperbuat.