Menyikapi kondisi kejiwaan proffesor faozi yang mulai berputus asa
dengan linux, dan berfikir dia akan mengganti operating sistem itu.
Lemah sekali proffesor faozi, dia menginginkan kenyamanan dan gengsi
ketimbang seni yang terpendam. Apakah dirimu ingin seperti Linus
Tovard yang sekarang menjadi dekaden dan memilih operating system
dekaden itu, wahai proffesor lemah? Pantaskah dirimu disebut
proffesor labseni lagi ketika engkau menjadi seorang yang dekaden?
Dirimu begitu dekaden, apa jadinya para akademisi negeri ini? Mau
dibawa akademisi negeri ini, dengan proffesor yang begitu dekaden
seperti dirimu itu wahai proffesor labseni?
Kau tahu bahwa mencuri itu tidak baik? Apakah kau ingin membajak
operating system dekaden itu? Atau kau ingin membuang uang hanya
untuk kenyamanan atau prestisme? Bukankah sangat sayang? Bukankah
lebih baik kau belanjakan uang itu untuk buku, buku untuk
perpustakaan labseni, hai proffesor dekaden? Apakah kau ingin seperti
mereka? Menjadi manusia dekaden? Untuk bisa menjadi manusia seutuhnya
kau harus bebas wahai proffesor dekaden? Kenyamanan dan prestismu itu
akan menjajahmu wahai proffesor dekaden? Free adalah makna bebas
dalam bahasa inggris. Masihkah kau akan meninggalkan linux yang free
itu? Apakah kau lebih memilih penjajahan ketimbang kebebasan?
Kebebasan untuk menjadi manusia seutuhnya? Apa yang ingin kau ajarkan
pada mereka jika kau sendiri dekaden? Wahai proffesor labseni yang
dekaden.