Laman

Jumat, 22 April 2016

Operating System Dekaden


Menyikapi kondisi kejiwaan proffesor faozi yang mulai berputus asa dengan linux, dan berfikir dia akan mengganti operating sistem itu. Lemah sekali proffesor faozi, dia menginginkan kenyamanan dan gengsi ketimbang seni yang terpendam. Apakah dirimu ingin seperti Linus Tovard yang sekarang menjadi dekaden dan memilih operating system dekaden itu, wahai proffesor lemah? Pantaskah dirimu disebut proffesor labseni lagi ketika engkau menjadi seorang yang dekaden? Dirimu begitu dekaden, apa jadinya para akademisi negeri ini? Mau dibawa akademisi negeri ini, dengan proffesor yang begitu dekaden seperti dirimu itu wahai proffesor labseni?
Kau tahu bahwa mencuri itu tidak baik? Apakah kau ingin membajak operating system dekaden itu? Atau kau ingin membuang uang hanya untuk kenyamanan atau prestisme? Bukankah sangat sayang? Bukankah lebih baik kau belanjakan uang itu untuk buku, buku untuk perpustakaan labseni, hai proffesor dekaden? Apakah kau ingin seperti mereka? Menjadi manusia dekaden? Untuk bisa menjadi manusia seutuhnya kau harus bebas wahai proffesor dekaden? Kenyamanan dan prestismu itu akan menjajahmu wahai proffesor dekaden? Free adalah makna bebas dalam bahasa inggris. Masihkah kau akan meninggalkan linux yang free itu? Apakah kau lebih memilih penjajahan ketimbang kebebasan? Kebebasan untuk menjadi manusia seutuhnya? Apa yang ingin kau ajarkan pada mereka jika kau sendiri dekaden? Wahai proffesor labseni yang dekaden.