Laman

Jumat, 22 April 2016

Onkologi Ustadz


Tulisan ini mencoba mengkritik diri saya sendiri sewaktu masih sering dipanggil Ustadz. Waktu itu pikiran saya masih cenderung kartesian. Karena efek paradigma Cartesian itu saya kurang menikmati solat dan ibadah saya pada Tuhan, walau terkadang saya juga menikmatinya. Ibadah yang saya lakukan cenderung seperti layaknya ustadz pada umumnya. Maklumlah paradigma kartesian akan menimbulkan sesuatu yang reduksionis dan menyembabkan pembengkakan pada pemikiran, sehingga saya sering melihat bentuk kejahatan adalah sesuatu yang menjijikan dan harus dihindari kalau bisa diamputasi. Dengan pemikiran itu saya mudah sekali menilai kesalehan dari apa yang nampak dari luar. Orang yang berpakaian tidak seperti seorang ustadz apalagi bertato dan suka merokok adalah sebuah kekotoran yang harus diamputasi. Namun siapa yang tahu isi hati. Suatu hari aku bertemu dengan pria bertato dan suka merokok, pemalas, suka nonton video yang ada cewe cantiknya seperti video SNSD, orang itu sering menulis di jurnal (untuk lebih mudah melakukan analisa kita misalkan jurnal itu sebagai wartamerta.com dan kita misalkan saja orang itu Choirul Muttaqin).
Aneh sekali pertemuan aku dengan orang yang kita sebut sebagai Choirul Muttaqin ini, dimula dari kejadian yang tidak terduga hingga dia menunjukan kebolehanya dalam melakukan analisa. Analisanya begitu subtil menilik dari jurnalnya yang kita sebut wartamerta.com. Berkat dia saya tahu bahwa saya mengidap penyakit tumor keustadzan. Dan Tuhan bukanlah sebuah, Wujud Absolut yang deterministik. Namun Wujud yang abisal. Paradigma ini juga mempengaruhi saya dalam membaca buku. Berkat beliau saya bisa bisa membaca buku dengan lebih kualitatif dan kuantitatif. Patut disayangkan orang seperti tidak diketahui banyak orang, apalagi namanya aku samarkan, agar kalian juga bisa menikmati masa-masa indah menderita tumor keustadzan. Dengan tumor itu kalian akan belajar untuk bisa lebih subtil menganalisa sebuah permasalah.
Tumor keustadzan ini juga berpengaruh banyak pada diri saya, sehingga memuat diri saya mengamputasi realitas. Dan analisa saya menjadi tidak sehat. Padahal “Pikiran yang tidak sehat lebih berbahaya dari penyakit itu sendiri.” dalam kedokteran holistik. Obatnya, katakan “ya” pada hidup dan “amor fati” (cintai hidupmu). Itulah kata orang bijak yang namanya saya samarkan sebagai Choirul Muttaqin (Orang Betakwa yang Baik ). Jadi siapa yang tahu isi hati?