Tulisan ini mencoba
mengkritik diri saya sendiri sewaktu masih sering dipanggil Ustadz.
Waktu itu pikiran saya masih cenderung kartesian. Karena efek
paradigma Cartesian itu saya kurang menikmati solat dan ibadah saya
pada Tuhan, walau terkadang saya juga menikmatinya. Ibadah yang saya
lakukan cenderung seperti layaknya ustadz pada umumnya. Maklumlah
paradigma kartesian akan menimbulkan sesuatu yang reduksionis dan
menyembabkan pembengkakan pada pemikiran, sehingga saya sering
melihat bentuk kejahatan adalah sesuatu yang menjijikan dan harus
dihindari kalau bisa diamputasi. Dengan pemikiran itu saya mudah
sekali menilai kesalehan dari apa yang nampak dari luar. Orang yang
berpakaian tidak seperti seorang ustadz apalagi bertato dan suka
merokok adalah sebuah kekotoran yang harus diamputasi. Namun siapa
yang tahu isi hati. Suatu hari aku bertemu dengan pria bertato dan
suka merokok, pemalas, suka nonton video yang ada cewe cantiknya
seperti video SNSD, orang itu sering menulis di jurnal (untuk lebih
mudah melakukan analisa kita misalkan jurnal itu sebagai
wartamerta.com dan kita misalkan saja orang itu Choirul Muttaqin).
Aneh sekali pertemuan
aku dengan orang yang kita sebut sebagai Choirul Muttaqin ini, dimula
dari kejadian yang tidak terduga hingga dia menunjukan kebolehanya
dalam melakukan analisa. Analisanya begitu subtil menilik dari
jurnalnya yang kita sebut wartamerta.com. Berkat dia saya tahu bahwa
saya mengidap penyakit tumor keustadzan. Dan Tuhan bukanlah sebuah,
Wujud Absolut yang deterministik. Namun Wujud yang abisal. Paradigma
ini juga mempengaruhi saya dalam membaca buku. Berkat beliau saya
bisa bisa membaca buku dengan lebih kualitatif dan kuantitatif. Patut
disayangkan orang seperti tidak diketahui banyak orang, apalagi
namanya aku samarkan, agar kalian juga bisa menikmati masa-masa indah
menderita tumor keustadzan. Dengan tumor itu kalian akan belajar
untuk bisa lebih subtil menganalisa sebuah permasalah.
Tumor keustadzan ini
juga berpengaruh banyak pada diri saya, sehingga memuat diri saya
mengamputasi realitas. Dan analisa saya menjadi tidak sehat. Padahal
“Pikiran yang tidak sehat lebih berbahaya dari penyakit itu
sendiri.” dalam kedokteran
holistik. Obatnya, katakan
“ya” pada hidup dan “amor fati” (cintai
hidupmu). Itulah kata orang bijak yang namanya saya samarkan sebagai
Choirul Muttaqin (Orang Betakwa yang Baik ). Jadi siapa yang tahu isi
hati?