Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Jalaludin Nietzsche : Kezuhudan yang Ditopengi Kriminalitas Pembunuhan Tuhan


Apalagi pembunuhan paling kejam di dunia ini selain membunuh Tuhan? Bukankah itu jahat sekali? Membunuh Tuhan adalah sebuah prestasi yang luar biasa untuk para kriminal di dunia ini? Bayakngkan saja, betapa susahnya membunuh Presiden Amerika, Barak Obama. Bahkan banyak yang berencana membunuh presiden itu termasuk mungkin para ISIS. Namun dengan berbekal senjata, kemampuan dibidang teknologi, serta keilmuan jihad yang begitu mengalir di dalam darah ISIS, bahkan dengan doa-doa ustadz yang anti dengan Amerika, pun tak mampu menumbangkan presiden Amerika tersebut. Hanya dengan bermodalkan kesakitan Fredrich Nietzsche sang pembunuh Tuhan, sebuah pengakuan yang terlihat ateis, mampu membunuh Tuhan. Betapa luar biasa Nietzsche, sebagai seorang yang berfikir bahwa diriku orang beragama, pembunuhan Tuhan ini menggangguku. Apalagi mendengar ustadz-ustadz di salman yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan Nietzsche adalah bentuk keputus-asaan yang luar biasa, dan bentuk kekecewaan tertinggi dalam menghadapi takdir kehidupan Nietzsche, semakin aku anti dengan Nietzsche, padahal para ustadz di Salman pas aku tanya, “Bapak pernah membaca buku Nietzsche?”, aku kaget kalau ustadz salman tersebut menjawab, “Belum”. Waduh, ini sebuah pelanggaran akademis menurutku, masa orang sudah menilai sebuah buku tanpa membaca buku tersebut, bahkan kalaupun sudah membaca, itupun belum tentu dirinya telah memahami betul tulisan Nietzsche, apalagi kalau belum.
Pertemuanku dengan Nietzsche sebenernya cukup unik, mulai karena pertemuan dengan para Pembaca Nietzsche, hingga karena aku iseng belajar buku teknik yang memiliki referensi dari para pemikir Jerman, seperti Heidegger atau Idhe. Filsafat teknik memang menarikku, tapi ada yang lebih menarik dari Nietzsche, karena dia menuliskan kitab Zarathustra, dan ketika aku mencari di google Zarathustra adalah nabi berkebangsaan persia. Aku memiliki basis pesantren, beberapa kitab persia cukup menarik karena menuliskan beberapa makna kezuhudan yang jarang aku temui dalam ceramah-ceramah ustadz di salman, karena ustadz di salman lebih cenderung menjelaskan tentang adat istiadat keislaman ketimbang mengajarkan tentang keikhlasan.
Kitab persia, dari karya Abdul Qodir Jaelani (Sir Asror, Fathul Rabbani, Jala ‘al Khawatir), Imam Amin al Qurdi (Tanwirul Qulub), Imam Ghozali (Ihya ‘Ulumudin, Minhajul ‘Abidin, Bidayatul Hidayah, Kimiya tus Sa’adah), Ibnu ‘Arabi (Futuhat al Makiyat), Jalaludin Rumi (Matsnawi, Fihi ma Fihi), Ibnu Atha’ilah (al Hikam) bahkan karya Ibnu Qoyim (Lupa), aku pelajari hanya untuk bisa belajar ikhlas, walaupun ilmu ikhlasku masih cupu, setidaknya ada usahalah (pembenaran wkwkwk). Dari kitab-kitab tersebut memang aneh rasanya, karena kitab tentang kezuhudan justru mendukung Fredrich Nietzsche (setelah aku membaca buku Nietzsche tentunya). Berikut dukungan pendapat para ulama timur tengah tersebut.

Ibnu Athailah (al Hikam)

  1. Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “Seseorang belum suci jika dia menganggap dirinya suci.” Apa pengakuan yang tidak lebih suci dari pada pengakuan dari pembunuhan Tuhan? Wkwkwk.
  2. Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “idfin wujudaka fil ardil humuli fama nabata mima la yudfan la yatimu nata ijuhu.” Tidak akan tumbuh tananam dengan baik jika tidak ditanam ditanah yang dalam. Dalam kaitan ini, tulisan Nietzsche juga seolah untuk tidak berkasihan padanya, karena apa gunanya berkasihan pada orang yang telah melampaui. Apa gunanya berkasihan pada orang sepintar saya? Dan ini menunjukan bahwa dirinya sudah tidak bergantung pada apa yang ada diluar dirinya, bukankah ini makna Zuhud.

Abdul Qodir Jaelani

  1. Dalam Fathur Rabbani banyaknya tulisan untuk mengkritik kita terlalu bergantung pada keduniaan, dalam konteks ini adalah sesuatu diluar kita.
  2. Rab dalam Sir Asror adalah perwujudan terdalam, didalam hati kita. Dia adalah sebuah rahasia dibalik rahasia. Layaknya Nietzsche yang selalu memuja Aku, dan selalu ingin menjadi Aku (Ubermanch).

Imam Ghozali

  1. Dalam karya Ihya’ulumudin mengkritik para ahli fikih yang hanya menjalankan keislaman hanya sebagai adat, dan tanpa keshalehan. Ini seperti pendapat Nietzsche yang mengkritik para religius dan ilmuan yang hanya menjalankan kegiatannya tanpa Geist atau kesalehan.
  2. Imam Ghozali menyatakan bahwa Tuhan merupakan substansi dari segala sesuatu, dan bentuk lain hanyalah aksiden, namun kebanyakan lebih menyembah tuhan yang lebih bersifat aksiden, dan hanya menyembah nama Allah saja, bukan dari yang bernama. Layaknya Nietzsche yang mengagungkan substansi ke-Akuannya.

Jalaludin Rumi

  1. Dalam kitab Rumi matsnawi, bahwa agama pada dasarnya adalah bentuk tajali dari cinta terhadap Tuhan, maka sebenarnya agama itu hanyalah sebatas kulit, dan dia juga mengkritik orang yang telalu mengaggunkan kulit hingga lupa kacangnya wkwkwk, maka terlihat bahwa keislaman hanya sebatas adat. Kolam yang abisal, dan manusia permukaan itu yang dikemukakan Nietzsche sejalan dengan pemikiran Nietzsche tersebut.
  2. Kitab Rumi Fihi Ma Fihi, tentang bencana juga merupakan sebuah rahmat dari Tuhan, dan neraka juga sebuah bentuk kasih sayang dari Tuhan agar kita tumbuh dan belajar hingga kita bisa kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci. Ini pun sejalan dengan pemikiran Beyond Good and Evil dari Nietzsche.
    Dan masih banyak lagi, tapi aku males menuliskannya.

Berhala Teknologi


Seperti yang dituliskan dalam kitab Fihi ma Fihi, Jalaludin Rumi, berhala yang dahulu dimusuhi Nabi Muhammad SAW masih sekarang masih tetap eksisten. Era digital memang mengurangi pemujaan dalam bentuk pemberian sesaji untuk patung, pohon atau batu. Namun, tidak hanya manusia yang mengembangkan diri dalam bidang teknologi, berhala pun mengembangkan diri dalam bidang teknologi. Cukup mudah untuk melakukan justifikasi kekafiran dalam penyembahan berhala melalui sesaji pada patung, batu, maupun pohon. Namun jika berhala telah mengevolusikan diri menjadi handphone, komputer, internet, atau yang lain. Bagaimana dengan penjustifikasian ini. Menjoba menolak teknologi sebagai benda berhala akan berdampak pada kalahnya manusia dengan berhala, yang akan menunjukan bahwa berhala telah benar-benar menguasai dunia. Keseimbangan antara gelap dan terang diperlukan hingga kita bisa sampai pada kehadirat Allah SWT. Menolak teknologi tidak akan memberikan solusi dari permasalahan ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengafirmasi teknologi, tapi jangan sampai menjadikan teknologi sebagai berhala.
Seperti yang dikatakan Don Idhe (seorang ulama eropa), teknologi merupakan Zuhandene (alat). Namun seperti pisau yang bermata dua. Pisau yang tidak bisa digunakan dengan baik, maka pisau tersebut hanya akan melukai diri sendiri. Perlu pemahaman tentang teknologi untuk bisa memanfaatkan teknologi secara tepat. Sebagai Zuhandene teknologi memiliki hak otonom untuk bisa menjajah penggunanya. Alih-alih memperalat teknologi jangan sampai kita dikuasai oleh hak otonom teknologi tersebut. Otonomi bisa diatasi dengan kebebasan individu, hakikat manusia untuk bisa hidup bebas. Lalu mengapa anda mengatakan bahwa kebebasan bertentangan dengan hakikat manusia? Setiap kebebasan yang lebih besar akan menuntut tanggungjawab yang lebih besar, itulah yang dikatakan ulama Prancis (Jean Paul Sartre). Sebagai pour soui (eksistensi diri) manusia bebas menentukan takdirnya, walaupun penentuan takdir dari diri sendiripun juga merupakan kodrat Gusti Allah.
Untuk kita memulai tentang berhala teknologi, kita bisa memulai dari mengapa teknologi bisa muncul. Tekonologi merupakan alat perpanjangan tubuh manusia. Dengan teknologi kita bisa melakukan sesuatu lebih mudah, semisal mengikuti pengajian di Jerman dengan handphone android dan aplikasi youtube, juga bisa menolong orang yang depresi karena cinta untuk menonton manusia melakukan itjima’. Inilah hak otonomi dari teknologi, bisa membantu melakukan apa yang dikehendaki manusia. Namun dalam ranah ini manuisa masih sebagai seorang yang memiliki kuasa diri untuk memilih apa yang akan dikehendaki dengan teknologi.
Banyak orang yang menabung untuk membeli laptop, hanphone mahal atau tablet. Bahkan tak hanya menabung, berhutang, bahkan mencuri hanya untuk membeli perangkat teknologi. Dalam kasus ini teknologi memiliki kuasa untuk membuat manusia memberikan sesaji dalam bentuk uang. Beginilah perkembangan berhala dalam bidang teknologi.
Seperti yang diungkapkan Imam Ghozali dalam Kitab Kimia tus Sa’adah, dosa akan muncul ketika komposisi dalam jiwa kita tidak sesuai. Komposisi jiwa yang ditinjau dari analisa Imam Ghozali ini menerangkan bahwa jiwa tersusun dari tiga bagian, yaitu jiwa malaikat (jiwa yang digunakan untuk memberikan penilaian antara baik dan buruk, jiwa ini mirip dengan jiwa etis yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark), jiwa binatang (jiwa yang digunakan untuk bertahan hidup seperti hasrat makan, minum dan berkembang biak, jiwa ini mirip dengan jiwa estetis yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark), dan jiwa ilahiah (jiwa ini yang menuntun kita dalam melakukan pengambilan keputusan, jiwa ini mirip dengan jiwa religius yang diusung oleh Kierkegard, ulama Denmark). Menurut Imam Ghozali, hendaknya jiwa ilahiah diposisikan sebagai pemimpin dari dalam jiwa kita, jiwa malaikat sebagai menteri, dan jiwa binatang sebagai budak. Komposisi yang salah seperti menempatkan jiwa binatang sebagai pemimpin, atau jiwa malaikat sebagai pemimpin atau yang lainnya akan memunculkan beragam kegelisahan, yang secara dhohir atau fisik tercermin dari kehidupan yang kurang seimbang (bagi orang tersebut dia merasa ada yang kurang dari dalam dirinya.).
Kezuhudan merupakan salah satu metode memerangi berhala dari dalam diri. Sikap bergantung pada apa yang ada diluar kita akan menjadikan entitas diluar kita tersebut menjadi berhala. Sebenarnya berhala adalah sesuatu yang dibuat oleh diri kita sendiri. Kebergantungan akan teknologi akan menjadikan teknologi sebagai berhala. Kita akan menyajikan beragam sesaji untuk bisa mendapatkan perangkat teknologi tersebut. Sayangnya kezuhudan tidak begitu diminati di negeri ini. Bahkan sebagian orang menyatakan bentuk kezuhudan sebagai substansi kegilaan, padalah kehidupan ini memang sudah gila. Hanya ada satu golongan orang waras di dunia ini, yaitu golongan orang mati. Karena orang mati tidak membutuhkan apapun, dia telah menikmati indahnya pertemuan dengan Gusti Allah.

Indahnya Dihianati


Fisika sebuah ilmu yang paling mencoba melakukan konsistensi dalam proses matematisasi fisis, namun apakah di dalam kesetiaanya melakukan proses matematisasi, fisika sering melakukan penghianatan. Kita melihat bahwa model newtonian tidak begitu relevan ketika kita mencoba menganalisa kerangka yang lebih kosmis, hal ini merupakan salah satu penghianatan dalam fisika, karena konstruksi move on dari fisika membuat kita tidak bisa mempertahankan newton dalam fisika dalam kerangka yang lebih kosmis. Inilah yang membuat fisika begitu indah, dia menghianati newton dalam konteks ini, namun andaikan newton masih hidup dia pasti akan gembira atas penghianatan fisika ini, selain mengurangi beban Newton dalam dunia fisika ini, Move on yang dilakukan oleh fisika ini juga memberikan dampak pada fisika untuk tidak hanya disetubuhi oleh Newton, “Iyah, sekalian sodakoh pada Einstein, aku sudah terlalu bosan untuk menyetubuhi Fisika. Toh, Tuhan menciptakan cinta untuk tahu betapa indahnya di hianati.” ujar Newton. Kenikmatan yang direlakan oleh Newton ini tidak membuat Newton cemburu, atau sedih atas penghianatan fisika ini.
Tak hanya Fisika, bidang psikologi pun demikian, Sigmund Freud, harus merekalan Psikologi di setubuhi oleh muridnya sendiri. Kasusnya sama seperti Newton dengan fisikanya, lagi-lagi masalah kosmisitas, sama seperti fisika menginginkan kosmisitas yang tidak bisa diberikan oleh Newton, Psikologipun memilih untuk disetubuhi oleh Carl Jung sebagai akibat dari Sigmund Freud yang tidak bisa menafkahinya secara kosmis.
Bagi ilmu yang begitu idealis, kesetiaan cinta pun sudah tiada artinya. Dihianati memang lebih indah dari dicintai secara setia, toh lagi pula cinta diciptakan Tuhan untuk membuat kita merasakan indahnya dihianati, itulah yang sebaiknya dihayati secara penuh oleh para peneliti, cendekia, atau ilmuan di Indonesia. Kata Nietzsche dalam Genealogy of Moral, “Pemikiran yang fix, akan memberikan neorisis dalam pemikiran kita.”. Dalam menghadapi bidang keilmuan yang terus berhianat, hendaknya kita memiliki sikap rendah hati dalam proses perubahan yang terjadi dan bukankah gelap terang itu diciptakan hanya untuk para pembelajar supaya bisa terus berkembang, maka cintailah mereka yang suka berhianat, karena dihianati akan membuat pemikiranmu bergerak secara dinamis menuju keseimbangan.

Kerinduan dalam Kemaksiatan


Dalam kitab Fihi ma Fihi, “Banyak orang yang makan daging, roti, kurma dan sebagainya, namun inti dari keinginan mereka adalah lapar.” Begitulah ungkapan Jalaludin Rumi dalam kitab tersebut. Bentuk kerinduan lapar mereka tertajalikan (interpretasi) dalam bentuk makan daging, roti, kurma atau yang lainnya. Lapar merupakan sebuah substansi dari makan mereka dan orang makan atas dasar substansi ini mereka macam beragam hal. Namun nafsu membuat mereka memiliki selera untuk hanya makan makanan jenis tertentu seperti daging atau roti atau yang lainnya. Saat mereka cukup suci untuk menilai diri mereka laparlah yang menjadi permasalahan ketika makan. Dan nafsu akan memberhalai daging dengan menolak tawaran roti, atau sebaliknya.
Beberapa orang berpendapat bahwa kemaksiatan adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Namun jika Allah SWT tidak berkehendak maka kemaksiatan pun tidak akan terjadi. Maka pendapat tersebut tidak bisa menjadi pedoman. Mungkin pendapat yang lebih cocok adalah “Kemaksiatan adalah bentuk kerinduan yang sedang tersesat.”. Kemaksiatan yang tersebut tetap dikehendaki oleh Allah SWT mengingat Allah SWT pun menghendaki orang ada yang beriman dan ada yang tersesat. Seperti contoh seorang pencuri yang mencuri makanan, dia telah bermaksiat, namun kemaksiatan tersebut merupakan kerinduan terhadap rasa kenyang, seperti itu juga yang lainnya.
Kebahagiannya memang benar hanya Allah yang bisa memberikan, dalam proses mencari kebahagian manuisa berusaha sekuat tenaga. Ada orang yang tahu jalan, ada yang tidak tahu, ada yang begitu bersemangat, ada pula yang berputus asa. Segala kebahagiaan yang manuisa cari, merupakan kerinduan akan Allah SWT. Iyah jelas, kerana substansi dari kebahagiaan adalah Allah itu sendiri. Bentuk usaha mereka tertajalikan dengan bekerja siang malam, sholat, mencuri, korupsi, dan sebagainya. Keseleluruhannya bergerak menuju Allah, bagaimana mungkin tidak menuju Allah bukankah kalian sering mengatakan “Innalilahi wa inalilahi rojiun”. Seperti itu juga manusia yang hidupnya menginngin kan kenyamanan dia bekerja, ada yang gagal ada yang berhasil. Proses berhasil ini bisa kita analogikan sampai pada kehadirat Gusti Allah, namun semua ciptaannya pasti akan kembali kepada dirinya. Ada yang melewati surga, ada yang melewati neraka, ada yang langsung kehadiratnya.
Manusia memang dilahirkan suci, bagaimana tidak, ruh Gusti Allah ditiupkan dalam dirinya. Bukankah kesucian manusia ini sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun saat dalam melewati kehidupannya didunia kesucian dikontaminasi oleh beragam berhala yang melupakan diri manusia sebagai sesuatu yang suci. Untuk bisa kembali kerahmatnya, manusia harus menyucikan dirinya, menyucikan diri dari berhala-berhala yang melekat dari dalam diri. Tubuh bisa disucikan dengan air, mandi, wudu dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan hati? Hati yang kotor disucikan dengan beragam penderitaan begitulah dalam fihi ma fihi. Penderitaan bukanlah sebuah kebencian dari Gusti Allah terhadap manusia, melaikan bentuk bantuan dari Gusti Allah untuk menyucikan dirinya dari beragam berhala yang telah mengkontaminasikan hatinya. Semacam juga bentuk kerinduan Gusti Allah, seolah ingin berkata, “Caranya bukan seperti itu, kesinilah maka kerinduanmu kepadaku akan terbayarkan.” Bahkan neraka pun juga merupakan bentuk kasih saya Gusti Allah terhadap manusia. Sebuah tempat untuk paling baik untuk menyucikan manusia dari kontaminasi-kontaminasi berhala.

Nihilisme dalam Puasa


Seperti yang pernah diungkapkan oleh Ahmad Bakhir, puasa adalah sikap pengosongan diri. Pengosongan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan lainnya. Tujuan dari puasa adalah mempersiapkan diri dari wahyu yang ingin disampaikan oleh Allah SWT, mengingat bahwa wahyu al-Quran diturunkan pada tanggal 17 ramadhan. Iyah, yang membuat bulan Ramadhan istimewa bukanlah karena diri dari dalam bulan ramadhan sendiri, bukan karena dalam bulan ramadhan diwajibkan untuk berpuasa. Puasa, tarawih dan sebagainya merupakan sebuah manifestasi untuk mensucikan diri guna menerima abrah dari wahyu al-Qur’an, dengan kata lain al-Qur’an lah yang membuat bulan ini istimewa.
Cukup mudah untuk menghidari makan, minum, atau berhubungan badan selama puasa. Namun inti dari dari puasa bukanlah untuk meniadakan hasrat makan, minum tersebut, tetapi sebuah penyucian untuk menyambut abrah dari wahyu al-Qur’an. Seperti halnya sebuah gelas isi harus dikosongkan untuk bisa diisi kembali dengan penuh. Puasa terlihat seperti bukan sebuah amalan, iyah ditinjau dari pendefinisiannya, kita tidaklah melakukan apapun. Dalam konteks ini puasa lebih cenderung untuk mendiamkan, mendiamkan diri dari makan, minum, berhubungan badan dan sebagainya. Tapi lebih tepatnya untuk bisa mendiamkan hati, agar bisa berfikir lebih jernih, lebih bisa menerima abrah dari wahyu al-Quran.
Nihilisme yang diajukan oleh Fredrich Nietzsche, bisa kita artikan sebagai kondisi tanpa apapun. Bahkan tanpa iman. Namun makna nihil itu sendiri masih rancu, sebenarnya nihil yang seperti apa yang paling nihil untuk bisa menjadi nihilis sejati. Untuk itu penihilan bisa saya sebut sebagai penyucian diri dari sesuatu yang diluar kita agar kita menjadi suci tanpa kontaminasi dari luar. Namun apa makna nihil yang sebenernya? Bahkan menginginkan makanan enak yang muncul dari dalam diri sendiri pun masih terpengaruhi rasa diluar diri kita, yaitu enaknya makanan. Puasa akan mereduksi beragam hasrat yang bersifat aksiden dan memunculkan diri substansi yang terhijab akibat hasrat-hasrat aksiden. Begitulah seharusnya nihilisme dijalankan. Sifat seenaknya yang muncul dari dalam diri, bukan akibat penyembahan berhala eksternal.
Lalu mengapa harus dinihilkan? Berhala yang muncul telah banyak melakukan evolusi baik dalam bidang pendidikan, teknologi maupun ekonomi. Tanpa pikiran yang jernih kita tidak bisa melakukan penilaian yang tepat pada makna berhala yang sejati. Berhala terkadang menampakan diri dalam bentuk yang sangat samar. Terkadang apa yang kita anggap kepastian sebagai bukan berhala bisa jadi adalah berhala. Mengingat bahwa merasa terlalu yakin terhadap sesuatu pun juga merupakan sebuah berhala. Kalimat Nietsche “Sebuah pemikiran fix tentang sesuatu akan menyebabkan penyakit dalam otak.”. Seperti itulah berhala bekerja, membuat pemikiran kita tidak bisa fleksibel, akibatnya otak kita mengalami pembengkakan dan hati menjadi keras.
Puasa merupakan semacam penangguhan atas apa yang akan dinilai oleh diri kita. Mengingat para ulama persia pernah mengatakan bahwa makna dari tafsiran itu bertingkat, butuh kesucian yang lebih tinggi untuk menafsirkan al-Qur’an dengan lebih tinggi. Penangguhan atas pemikiran fix yang menyebabkan pembengkakan pola fikir ini akan membuat kita terus memaknai al-Quran dengan lebih suci.
Namun semakin tingkat kesucian yang dimiliki seseorang berhala akan menampakkan dirinya dengan lebih samar, untuk itu kita harus tetap mendekatkan diri pada Allah SWT.

Manusia Hakikatnya Suci


Mencoba menanggapi kalimat dari Cak Nun, yang berargumen bahwa manusia hakikatnya adalah kotor. Kalimat ini seperti kalimat Freud yang penuh pesimisme, walaupun tujuannya baik, yaitu usaha untuk membuat manusia terus mensucikan diri. Namun ketika ini dipahami secara kurang hal ini bisa berdampak pada pesimisme yang destruktif. Seperti sebuah pembenaran, saya adalah seorang perampok maka dirinya akan selalu merampok karena dia telah melabeli dirinya sebagai perampok. Kritik ini juga didukung dengan doa yang sering kita panjatkan yaitu “Inalilahi wa inalilahi roji’un”, segala berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Tujuan baik dari Cak Nun mungkin bisa menjadi pembenaran akan kalimatnya, tapi itu akan merubah paradigma secara substansial. Ketika manusia menganggap dirinya kotor dan akan kembali kekotoran, hal ini akan berujung pada kekotoran. Bukan saya tidak setuju dengan cita-cita dari Cak Nun untuk terus membuat manusia berusaha menyucikan diri, namun beberapa penjelasan berikut mungkin akan lebih mengena dari pada apa yang disampaikan oleh Cak Nun.
Manusia memang terlahir dari sebuah kesucian, namun dalam proses perjalanan kembali menuju kesucian manusia harus menghadapi realitas yang berwarna. Perjalanan yang berwarna ini akan memberikan warna pada diri manusia. Seperti sebuah kertas bening, dimana ketika dia bersentuhan dengan pena, maka akan muncul noda hitam. Ketika bertemu dengan kapur maka akan muncul warna putih. Perjalanan manusia kembali pada kesucian yang sering kita sebut perjalanan menuju kematian harus melewati beragam warna yang akan mewarnai kebeningan dari manusia itu sendiri. Seperti kita tahu, seorang bayi belum menginginkan mobil, namun ketika dia tumbuh dewasa dirinya telah terkontaminasi oleh lingkungan sehingga dia menginginkan mobil. Dan keingingan untuk mendapatkan mobil telah memberikan warna pada dirinya. Atau seperti seorang balita yang semasa kecil tidak tergila-gila dengan kekuasaan, kemudian ketika dewasa dia melihat bahwa menjadi seorang pejabat sangat keren karena bisa memerintah orang, banyak uang, atau punya istri yang cantik, maka kemudian dia tergila-gila dengan kekuasaan.
Realitas yang selalu berwarna telah menipu manusia dan menutup kesadaran manusia bahwa manusia terlahir suci dan akan kembali pada kesucian. Untuk mensucikan manuisa, Tuhan menciptakan surga dan neraka agar manusia bisa kembali kepada kesucian. Orang yang hatinya telah berwarna, baik hitam, putih, hijau, kuning atau merah muda, akan mengalami perjalanan penyucian seperti penderitaan. Namun orang tidak selamanya menyadari bahwa penderitaan bukan semata kemiskinan atau kecacatan dalam menjalani hidup, ada kalanya orang disucikan dengan kekayaan dan kemakmuran hidup, hingga dirinya lupa pada substansi dan tidak menyadari realitas dirinya. Seperti kata Jalaludin Rumi dalam Kitab Fihi Ma Fihi, bahwa kekayaan atau kemakmuran juga merupakan laknat, karena hal tersebut dapat mengamputasi realitas manusia sendiri.
Kita melihat seperti halnya pejabat kaya, yang terus berkorupsi, atau perampok yang terus merasa gelisah yang dibutakan oleh kekayaan dan kemakmuran. Tuhan telah menutup diri mereka hingga mereka lupa pada kesucian diri, walaupun Tuhan juga menutup diri dari orang yang rajin beribadah dan berbuat baik. Realitas yang teramputasi akan menyebabkan kegelisaan yang dalam diri manusia, hal ini akan termanifestasi dalam kehidupan yang tidak seimbang dan memberhalai sesuatu selain Sang Maha Ada. Ktia sering didengarkan oleh para penceramah bahwa manusia di turunkan di bumi untuk menjadi Khalifah, namun apakan manusia memahami makna khalifah sebenarnya.
Khalifah atau pemimpin sering diartikan sebagai aksiden dari sikap bertanggung jawab. Namun tanggung jawab seperti apa yang diemban oleh manusia? Walaupun saya tidak begitu memahami mengapa Tuhan memberikan tanggung jawab ini pada umat manusia. Jika tanggung jawab ini diberikan untuk melakukan tugas yang tidak bisa diatasi oleh Tuhan, maka saya pikir ini tidak mungkin? Akhirnya saya berargumen bahwa tanggung jawab yang dimaksud adalah sebuah metabolisme kosmis, seperti halnya sebuah sel yang berfungsi untuk melengkapi sebuah organisme hidup, manusia juga digunakan sebagai sebuah sel untuk bisa melengkapi organisme kosmis ini. Dan juga seperti sebuah sel, maka dia akan mati, seperti itu juga manusia bahwa ketika dirinya telah memenuhi tugasnya sebagai sel kosmis, dia akan mati.
Manusia muncul dari sebuah ketiadaan dan begitu pula akan kembali ke bentuk ketiadaan. Bagaimana mungkin anda tidak berfikir demikian? Ketika manusia terbentuk dari substansi Tuhan, begitu pula dia akan kembali. Tuhan yang ada tanpa bergantung pada sesuatu, menunjukan bahwa entitas Ada memang berasal dari ketiadaan. Dan disini ketiadaan bisa disebut sebagai entitas tanpa warna, tanpa bentuk, atau biasa kita sebut sebagai Kesucian.

Fitnah Juga Ungkapan Cinta


Sejujurnya aku tidak begitu paham tentang masalah percewean, bahkan banyak masalah percowoan yang belum selesai aku tangani. Kisah ini muncul secara fenomen kedalam hidupku, angst yang muncul membuatku mencari kebenaran apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu berusaha menghindar dari cewe karena menakutkan dan penuh dengan kepalsuan. Dengan dalih berkata aku bodoh, miskin, psikopat, sepertinya masih susah untuk menyinkirkan spesies itu.
Aku mengalami konflik cukup hebat dengan cewe maupun cowo. Aku memang tidak bisa mengerti cewe, selain lebih absurd dari Albert Camus, sikapnya yang absurd juga memiliki diskorelasi antara sikapnya yang lain. Sebagai contoh, aku pernah menelfon cewe karena hapus akun facebook lantaran aku sering posting status marah-marah. Aku marah sama orang lain, tapi dia yang hapus facebook. Saat ku telfon aku bertanya padanya,
“Apakah aku salah padamu?”,
Dia menjawab, “Ih pede banget.”,
Aku membalas, “Oke berarti aku gak salah yah he he”
Dia menjawab “Ih, pikir sendiri”
Begitu berulang hingga tiga kali. Setelah itu aku minta maaf tanpa aku tahu salahnya apa. Kasus berlanjut, aku melamar dia, bapaknya juga bersikap aneh, antara nolak dan tidak, sampai aku tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Tapi dia begitu percaya diri bahwa dia telah menolakku sebagai menantunya, begini ceritanya.
“Pak saya lamar anak bapak.”
“Saya belum siap menerima menantu.”
“Oke berarti diterima gak?”, dia diam hingga aku tiga kali menanyakan pertanyaan ini.
Hingga akhirnya dia menjawab, “Oke saya tolak.”
Lalu aku membalas, “Boleh saya lamar lagi,”
Kontan dia marah dan berujar, “Udah ditolak ngapain nglamar lagi.”
Aku membalas, “Nggak juga nggak papa?”, dia diam hingga tiga kali aku menanyakan pertanyaan yang sama. Hingga dia membalas, “Oke sementara kau ditolak.”
Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap ini. Semua pertanyaannya cukup sederhana tetapi selalu dijawab dengan berbelit. Karena banyak orang yang mengatakan mereka pintar, aku berpositif thinking saja bahwa mereka sedang mengalami sindrom jatuh cinta padaku. Cerita ini berlanjut ketika sang cewe menuliskan bahwa dia tidak pernah peduli dengan diriku. Tapi disisi lain dia menyebarkan cerita bohong tentangku kepada teman-temannya. Andai kata dia pintar dia pasti tidak melakukan ini, sikap diskorelasi antar sikapnya menunjukan deviasi yang tinggi akibat ganguan psikomotorik yang hebat, untuk itu aku berpositif thinking bahwa dia jatuh cinta padaku.
Seperti kata Nietzsche yang mengatakan bahwa realitas tak selamanya putih, memang bisa kita tarik analogi bahwa ungkapan cinta tak selamanya manis. Seperti itu juga Espresso, cinta dari Espresso bukanlah kemanisnya tapi rasa pahit yang pekat.
Kehidupan ini aku bawa hingga menyimpulkan kehidupan di kampus. Dulu aku begitu tersiksa ketika Bapak Dosen selalu mentargetkan aku sebagai sasaran amarahnya, apa lagi dia berperilaku manis kepada mahasiswa lain dan tidak pada diriku. Semenjak cewe tadi aku menyadari bahwa aku adalah orang yang paling dicintai oleh Bapak Dosen, bahkan sekarang dirumahnya dia mungkin sedang berfikiran untuk bertemu dengan aku karena sangat rindu pada diriku. Semoga bapak dosen itu bisa move on dari aku.
Dan ketika aku bersama dengan temanku, dia selalu bersikap manis didepan orang, dia berkata bahwa dengan kita bersikap manis kita akan bisa memanfaatkan dia. Dari sini kita lagi lagi berlajar bahwa, kejahatan tidak selalu menampakan dirinya dalam bentuk yang pahit. Dan hanya orang yang mampu mengafirmasi gelap dan terang yang akan menjadi manusia unggul, begitulah kata Nietzsche.

Hitam Putih Catur


Aku berfikir bahwa keindahan dari pertandingan catur adalah sebuah kemenangan. Apakah artinya susah-susah bertanding tapi ujung-ujungnya kalah? Namun semenjak aku melawan atlit catur, aku menyadari bahwa kemenangan adalah sesuatu yang susah untuk didapatkan. Aku selalu melakukan pembenaran atas kekalahanku, tapi kalah tetaplah kalah. Bahkan dalam proses untuk mendapatkan kemenangan aku sering mengulang langkah agar tidak kalah. Kalah memang pahit, seperti itu juga Espresso. Namun mengapa aku lebih suka bertanding melawan orang yang lebih jago padahal aku jelas akan kalah?
Hitam dan putih dalam catur memang memiliki yang sama dalam kehidupan. Kehidupan tak selamanya putih, itulah yang seharusnya aku sadari, seperti itu juga pertandingan catur yang tidak selalu menang, kadang menang terus, kadang kalah terus, kadang kalah, dan kadang menang. Hasratku telah mengamputasi realitas ini, kemenangan yang menjadi tolak ukur keindahan ternyata tak berbuah indah dalam permainan caturku.
Seperti halnya Ksatria Naga dalam film Kungfu Panda. Ksatria Naga adalah ksatria yang mampu mengafirmasi antara gelap dan terang hingga mencapai keseimbangannya. Namun itu lah yang ingin diajarkan dalam ajaran Zen, bahwa realitas tak selalu putih, maupun hitam. Keseimbangan keduanya dibutuhkan untuk kehidupan di bumi, seperti itu juga kata Avicenna.
Tuhan memang menciptakan neraka dan surga, namun karena keindahan surga orang selalu bekerja keras mendapatkannya. Memang tak salah, tapi apa yang benar? Neraka juga ciptaan Tuhan, neraka dan surga hanyalah ciptaan yang menutupi sikap Agung milik Tuhan. Ini juga yang baru aku sadari. Tuhan berada dalam kedua hal tersebut. Tuhan memang pemurah dan penyayang, tapi juga tegas dan memiliki perhitungan yang tepat. Surga dan neraka menjadi simbol keagungan Tuhan, tapi mengapa kita selalu menutupi diri dari Tuhan, karena surga.
Realitas tak selamanya putih yin, karena hanya dengan yin manusia tak akan bisa melihat dengan jelas, maka dibutuhkan gelap yang. Bahkan panas dan dingin juga merupakan sebuah manifestasi keseimbangan dari yin dan yang. Sayangnya pembengkakan pola fikir akibat pemberhalaan pada kenyamanan telah mengamputasi relitas tersebut. Pembekakan ini menyebabkan orang melakukan hal-hal yang dianggapnya positif untuk mencapai yin dan mengamputasi yang. Memang tidak salah, tapi juga tidak benar. Benar dan salah pun menjadi interpretasi dari keseimbangan itu. Jika kita tidak tahu salah maka kitapun tidak akan pernah belajar. Dan ketika kita tidak belajar kita tidak akan bergerak maju dengan harmonis, seperti semboyan sekolah di Bandung, “In Harmonia Progresio”. Begerak dalam keseimbangan.
Sisi lain yang tak mampu diafirmasi tidak akan membuat keseimbangan. Seperti kata Nietzsche, Manusia unggul (Ubermanch) adalah orang yang mampu menkomposisikan antara gelap dan terang. Realitas memang terkadang pahit, dan terkadang manis tapi sikap kita yang hanya mencari manis menunjukan bahwa kita telah mengamputasi realitas kehidupan, dan disebut sebagai manusia yang butuh untuk percaya, manusia yang tidak berani hidup, atau manusia dekaden. Masihkah anda menjadi manusia dekaden?

Cinta Tak Selalu Kelamin


Membaca tulisan teman-teman mesjid saya yang sering memposting tulisan berdiksikan cinta, pernikahan, jodoh, dan Tuhan. Saya turut prihatin dengan tulisan-tulisan anak mesjid yang sering mengkaitkan 4 hal tersebut padahal keempat hal tersebut tidak memiliki nilai korelasi menurut para ulama persia, filsuf eropa, maupun para zenisme di dataran oriental. Ada baiknya para anak mesjid lebih meningkatkan bidang keilmuannya sebelum menuliskan korelasi keempat diksi tersebut.
Cinta merupakan bentuk kefaanaan diri dari seorang pecinta terhadap yang dicintai. Kefanaan berarti tak menginginkan apapun, atau dengan kata lain telah lenyap dihadapan yang dicintai. Proses ini seperti kematian, ketika roh telah terpisah dari jasad dan kembali kepada substansinya. Dia telah menyatu dengan Sang Maha Ada. Realitas ini tidak terlalu bisa dipahami oleh anak mesjid yang masih mengaitkan cinta dengan proses pernikahan. Jika pernikahan dikaitkan sebagai metode penghalalan cinta, berarti tanpa pernikahan apakah cinta pada Tuhan itu haram? Ada kerancuan lain yang menyelimuti otak para anak mesjid ini. Ketika dia sering mengatakan mencintai ibunya, apakah cinta itu haram? Dan apakah dengan menikahi ibu sendiri akan menghalalkan cintamu pada ibumu?
Pembengkakan pola pikir akibat tulisan-tulisan galau yang tak subtil memang telah meracuni pemikiran anak mesjid. Cukup mudah memang, menghalalkan modus dengan cara memposting tulisan tentang pernikahan menjadi senjata utama dan pembenaran anak-anak mesjid akan hasrat kelaminnya. Ini tidak lah salah, memangnya apa yang benar? Tapi mengapa sering mendoktrin orang lain untuk melakukan sesuatu apa yang menurutmu itu suci? Bukankah cinta memang pada hakikatnya hanyalah Tuhan Yang Tahu. Mengapa kau sebagai anak mesjid tidak malu dengan melangkahi Tuhanmu dengan mendefinisikan cinta seenaknya? Apakah kau ingin memasukan alat kelaminmu kedalam kelamin Tuhan karena kau mencintai Tuhan?
Wahai anak mesjid yang selalu berteriak tentang jodoh. Bukankah dalam hadis sohih arba’in ada empat hal yang pernah ditentukan oleh Tuhan dan tidak usah kau fikirkan, Jodoh, Kematian, Rejeki, dan Keselamatan. Apakah kau tidak malu dengan mengatakan sesuatu untuk menunjukan seolah kau suci tapi tentang cinta kau masih mengaitkan dengan alat kelamin? Jika cinta itu haram, maka kau telah menyalahkan Tuhan wahai saudara masjid. Apakah kau masih berfikir bahwa cinta datangnya dari Tuhan, bukan dari alat kelamin seperti yang muncul dari pikiran mesummu, wahai anak masjid?

Espresso


Espresso merupakan salah satu bahasan menarik di bulan ini. Perkenalan dengan kopi pahit ini memang cukup unik. Awalnya saya hanya memilih espresso karena harganya cukup murah di kafe sosio. Namun setelah menikmati kopi ini, Espresso adalah sebuah karya seni yang cukup menarik. Pahit tapi indah, begitu lah kejujuran, tapi begitulah Espresso. Awalnya saya fikir semua Espresso sama tapi ternyata tidak. Lain kafe, lain tingkat keindahannya. Minuman ini bukanlah sembarang minuman, apalagi hanya untuk obat haus, jelas bukan. Saya cukup heran dengan Espresso ini, saya mencoba mencari tahu sebenarnya siapakah dia.
Berkat teknologi telekomunikasi di kafe sosio, kita dapat mengakses internet. Bukan hanya menonton film saja, mendownload buku bajakan juga bisa. Berangkat dari hasrat meminang Espresso, saya mencari tahu sebenarnya siapakah dia?
Dalam Espresso Coffee : The Science of Quality, kopi memang menjadi salah satu komoditas dunia. Hal yang paling mengherankan bagi saya adalah “Mengapa orang yang menulis buku itu adalah beberapa Doktor MIT?” . Melanjutkan memabaca buku setebal 417 halaman ini memang cukup menarik. Di dunia ini ada 3 jenis kopi yaitu Robusta, Arabica dan Liberica. Namun hanya Robusta dan Arabika saja yang sering kita dengar, Liberica masih jarang karena memang produksi dunia hanya 1 % dari keseluruhan kopi.
Untuk membuat sebuah Espresso tidaklah semudah yang saya bayangkan, apalagi selama ini saya hanya menikmati kopi sachetan. Mulai dari penanaman, pemanenan, pengeringan, pengemasan, roasting, grinding, hingga pengepressan menjadi peran utama dalam menentukan keindahan cita rasa Espresso. Espresso sangat sensitif tentang hal itu. Dia akan ngambek jika prosesnya tidak berjalan dengan lancar. Ini memang sangat unik dan menyebalkan, tapi keunikan ini berpengaruh dalam proses penstimulasian otak. Apakah anda tahu jika sebagian besar negara pusat riset mengkonsumsi Espresso? Selain bisa mengurangi resiko bunuh diri akibat depresi, espresso juga memberikan konsentrasi dan atensi yang lebih dalam syaraf otak pusat, tak heran mengapa negara-negara maju mengkonsumsi Espresso. Dahsyatkan Espresso.
Ada sebuah kisah menarik tentang Espresso, seorang sastrawan nomer 1 Jerman Goethe pernah meminta kepada seorang Alchemist untuk bisa membuatkan minuman guna menawarkan kedahsyatan Espresso, setelah sekian lama akhirnya dia menemukan minuman baru yang disebut sebagai Cofae. Hmm, Espresso memang begitu sensasional. Anda mau coba? Rasakan kedahsyatannya di Kafe Socio.

Membacalah


Membaca masih cenderung tidak disukai oleh masyarakat Indonesia. Hal ini akan menyebabkan masalah yang kompleks kedepannya. Masalah ini menimbulkan pola pikir instan masyarakat Indonesia yang cenderung memberhalai bentuk, seperti halnya pemberhalaan terhadap status sosial, uang, maupun alat genital. Seperti yang kita lihat, bukan hanya kalangan petani, tukang becak, tukang bakso ataupun pekerjaan lain yang biasa dianggap sepele, pekerjaan seperti pejabat pemerintahan juga masih memberhalai hal yang seperti ini. Kita melihat banyak politisi dengan beragam gelar pendidikan tak mampu memecahkan persoalan hingga keakarnya. Masalah ini jelas membawa kita pada ketidak seimbangan sosial. Dengan ini orang yang memiliki prestisme akan semakin memarginkan dirinya dengan orang yang dianggap sepele, jelas inilah yang disebutkan sebagai kesenjangan sosial.
Menurut PISA (Programmable Internasional Student Assesment) Konstruksi pendidikan Internasional menekankan bahwa pendidikan mencakup tiga hal yaitu pemahaman sains, berhitung, dan membaca. Memang pada akhir dalam konstruksi pembangunan pendidikan adalah olah rasa atau sering kita sebut sebagai seni. Namun proses menuju pengolahan rasa itu membutuhkan riset dan waktu yang cukup panjang. Andai kata pengolahan rasa telah terkonstruksi dengan baik, hal ini akan menciptakan pembentukan masyarakat yang lebih nyaman, tanpa kesombongan dan kemunafikan.
Waktu dan riset yang cukup panjang memang membutuhkan dana yang besar. Namun seorang peneliti juga disebut sebagai pembaca dari realitas. Orang belajar jauh hingga ke eropa, amerika, afrika, bahkan sampai ke asia pun, ujung-ujungnya tetap membaca. Tapi orang Indonesia masih melihat bentuk yang menipu berupa kesombongan diri untuk bisa terlihat prestis, padahal melakukan riset di Negeri sendiri justru akan memberikan pemahaman ontologis tentang masarakat di Indonesia, dan pemahaman ini dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan di negeri sendiri.
Membaca dapat mengurangi jarak antara Jerman-Indonesia, Persia-Indonesia, Amerika-Indonesia, Arab-Indonesia, maupun jarak lainnya. Selain itu hal ini akan mengurangi konsumsi keuangan di negeri ini sekaligus mengurangi dana riset, dan dana itu bisa kita gunakan sebagai subsidi untuk kebutuhan lainnya. Namun apakah masyarakat yang sudah kafir (memberhalai prestisme) ini mau mengerti?
Seperti apa yang dikatakan oleh Jacques Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk membentuk pola pikir manusia, sebaiknya masyarakat Indonesia membaca buku yang lebih berkualitas. Salah satu yang terpenting dari membaca buku adalah membentuk pola pikir, dan ini memang sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Jacques Derrida tadi. Membaca buku juga akan menambah wawasan dengan menghemat dana.

Onkologi Narkoba dan Solusinya


Narkoba menjadi kangker yang cukup membuat negara ini menderita. Menarik memang karena setiap tahun pengguna narkoba kian meningkat, sekarang saat ini pengguna narkoba mencapai 5 juta orang. Jumlah pengguna itu bisa membuat saya membayar semesteran di kampus untuk melanjutkan kuliah. Untuk mengatasi sebuah penyakit biasanya seorang dokter akan melakukan analisa dari penyakit itu. Menurut pendapat saya penanggulangan narkoba di Indonesia masih cenderung menunggu sampai pada krisis tertentu. Hal ini dikarenakan badan penanggulangan narkoba di Indonesia seperti tidak mencoba mengatasi permasalahan ini dari asalnya. Mereka hanya mengatasinya ketika kangker narkoba ini sudah menyebar parah.
Narkoba merupakan zat aditif yang akan menyebabkan halusinasi kepada penggunanya. Secara psikoanalisis hal ini disebabkan bahwa pengguna narkoba ingin mengamputasi realitas yang melanda hidupnya. Iyah, orang indonesia memang terkesan tidak mencintai hidupnya. Saya akui memang ketika saya mencoba berkomunikasi dengan orang-orang indonesia, mereka lebih memikirkan harga diri yang tidak penting dalam hidupnya. Ini membuat orang susah untuk bisa menerima orang lain untuk berkomunikasi. Sikap egoistik ini memberikan pengalaman pahit bagi orang yang mencoba merendahkan diri untuk bisa berkomunikasi. Mungkin akibat dari pemberhalaan simbol, seperti prestisme, harga diri kekuasaan, maupun tingkat kekayaan. Indonesia memang bukan lagi negara yang nyaman. Ketika semua orang berfikir untuk dirinya sendiri, dan mengamputasi segala manusia yang tidak sederajat dengan dirinya. Proses amputasi ini memang cukup menarik, ketika kalaangan yang merasa berpendidikan karena sekolah hingga tinggi meremehkan seorang petani yang tidak sekolah sama sekali. Memang berhala prestisme akan membuat orang mengamputasi realitas, ini sederhana tapi kita lihat apa yang akan terjadi.
Setiap jiwa adalah cerminan jiwa yang lain. Iyah, itulah yang tertulis dalam hadis riwayat Buhari. Bahkan tidak cuma dalam itu, ajaran budisme juga mengatakan hal yang seperti itu. Ketika kita memberikan rasa sakit kepada orang lain, hal itu akan mencerminkan diri dan melakukan refleksi kedalam diri kita. Seperti hal ini tidak ditanggapi serius oleh para ustad mesjid di Indonesia. Mungkin karena mereka sudah merasa cukup suci hingga dengan mudah menganggap kotor orang lain. Tapi hal itu memang biasa, tapi sebaiknya para orang yang menganggap dirinya ustad mesti lebih banyak belajar dari realitas, hingga ilmunya bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Sikap mengamputasi realitas merupakan pokok utama dari para pengguna narkoba. Hal ini mesti disikapi serius oleh badan penanggulangan narkoba di Indonesia untuk bisa menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat, tapi ujung-ujungnya masalah itu muncul lagi. Tapi ini juga tidak apa-apa, lagi pula bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk dinas penanggulangan narkoba di masa yang akan datang.
Mencintai hidup, atau amor fati, sebaiknya lebih menjadi konstruksi utama dalam badan penanggulanan narkoba. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat sebuah even kegiatan bahwa hidup indah itu tidak harus mewah, banyak uang atau sebagainya. Tapi lebih dari itu, kejujuran walaupun pahit juga indah itulah kata Bambang Mulyono. Walaupun di seorang kaya, tapi korupsi juga bukan keindahaan, Guru tapi pemerkosa juga bukan indah, Dokter yang bahkan tidak menghargai nyawa juga bukan sebuah keindahan. Inilah yang ingin saya ajukan sebagai solusi dari onkologi Narkoba.

Dendam Cinta


Seperti yang pernah dikatakan oleh Zarathustra dalam The Spoke of Zarathustra karya Fredrich Nietzsche, ketika kita mendendam seseorang maka balaslah dendam itu agar kita bisa hidup dengan tenang. Namun Zarathustra selalu memiliki solusi unik dalam mengatasi konflik tersebut. Ketika kita disakiti maka balaslah dengan yang menyakitkan agar jiwa kita tenang. Namun, uniknya menurut Zarathustra tidak ada yang lebih menyakitkan dari dicintai, mengapa demikian? Zarathustra pernah diracuni oleh seekor ular, namun dia justru kasihan pada ular tersebut sembari berkata, “Hai ular, racunmu tidak akan pernah menyakitiku, aku khawatir jika racunmu justru akan membuatmu menyesali perbuatanmu. Itu takkan membunuhku, dan kau akan menyesalinya seumur hidupmu dan rasa malu yang tiada tara, apakah kau ingin mengorbankan harga dirimu hanya dengan racunmu itu? Kasihanilah dirimu.” Penggalan cerita dari karya Nietzsche ini cukup menarik, ketika ular yang penuh kebencian mencoba untuk membunuh dengan racunnya, namun Zarathustra justru memberikan perhatian penuh cinta kepada sang ular. Namun bagaimana sang ular membalas dendam atas cinta yang diberikan Zarathustra tersebut. Dari sini kita mempelajari bahwa dicintai lebih memalukan ketimbang mencintai.
Ketika semua orang saling menghancurkan satu sama lain. Menjelekan satu sama lain. Memperpanjang rantai kebencian yang bahkan tidak memberikan kepuasan bagi yang membenci. Zarathustra mengajarkan pada kita bahwa dicintai lebih menyeramkan, dan mencintai merupakan kekejaman yang sangat tinggi. Apa yang lebih memalukan dari pada dicintai? Iyah mungkin inilah yang menyebabkan Tuhan selalu memberikan pendertiaan guna menyucikan para pencintanya. Sederhana saja, mencintai adalah sebuah kriminalitas yang melampaui genosida. Cukup mudah untuk memberikan hukuman untuk orang yang membunuh, merampok atau memperkosa. Tapi bagaimana menghukum orang yang mencintai? Andai kata neraka jahanam diperuntukan oleh orang munafik, atau orang yang melakukan dosa besar. Tapi neraka seperti apa yang bisa menghukum para pecinta? Untuk itu Tuhan mengambil alih sendiri prosesi hukuman bagi seorang pecinta. Oh betapa mengerikannya hukuman yang langsung dijatuhi dari sang Maha Penghukum. Tapi bagaimana seorang pecinta bisa merasakan sakitnya cinta, jika cinta pada hakikatnya adalah tanpa rasa dan tanpa sakit. Saya rasa hukuman paling menyakitkan memang harus dijatuhkan oleh seorang pencinta. Neraka yang lebih panas dari Jahanam harus disiapkan untuk seorang pecinta, tapi bagaimana membuat seorang pecinta itu merasakan sakit?
Kisos yang diajarkan oleh al Qur’an pun tidak akan bisa menghukum para pecinta, bagaimana ini? Bagaimana jika ada orang yang mencintaiku dengan tulus? Aku benar-benar ketakutan, aku tidak tahu bagaimana jika memang benar adanya seorang mencintai aku dengan tulus, aku hanya bisa menghukumnya dengan cinta yang lebih tinggi, agar dendamku pada orang yang mencintaiku bisa terbalaskan. Agar kegelisahanku pada yang mencintaiku bisa sirna. Agar mereka belajar bahwa dicintai memang sesuatu yang sangat mengerikan Agar mereka mengetahui bahwa dicintai itu begitu menyakitkan. Oh Tuhan bahkan dirimu memberikan rasa sakit bagi para pencintamu agar kau tak mudah dicintai.

Silicon Valey di Indonesia


Saya bertemu dengan seorang petani di desa, saat saya sapa dia begitu senang bertemu dengan saya. Maklum saya memiliki tampang petani ketimbang tampang seorang mahasiswa ditambah lagi saya sedang berniat untuk memotong rumput guna memberi makan ikan gurameh yang sedang dibududayakan oleh bapak saya. Hal ini semakin membuat saya mudah untuk bergaul dengan kalangan petani di desa. Cerita kami bermula ketika anaknya yang mengikutinya dibicarakan oleh beliau. Tak disangka orang ini justru bertanya kapan saya akan berbagi ilmu dengan anaknya. Aku merasa heran, jelas ketika sebagian orang berduit dan berkedok mahasiswa justru bertanya bagaimana cara mendapatkan pekerjaan atau sekolah di tempat prestis untuk status sosial yang lebih tinggi, orang desa justru lebih menginginkan ilmu ketimbang para mahasiswa yang memiliki tanggungajawab menuntut ilmu.
Kita telah melihat bagaimana penidikan di Indonesia sekarang. Teknologi telah jelas dikuasai oleh bangsa barat, kita justru bertanya pada teman kita misalnya, produk prestis apa yang kalian miliki. Sebagai gaya hidup seorang penuntut ilmu yang konsumtif seperti ini memang tidak bisa disalahkan. Tapi coba kita lihat berapa banyak orang yang mencari beasiswa untuk keluar negeri daripada memberikan beasiswa. Iyah, semua orang memang mengingkan pendidikan gratis. Tapi pemberhalaan pada prestisme telah meniadakan tanggung jawab diri kita sebagai seorang penuntut ilmu. Memang benar mereka belajar, tapi seperti yang dikatakan Imam Ghozali, segala sesuatu bergantung pada niat. Niat akan pencarian prestisme akan menjadikan prestisme sebagai berhala. Memang benar kita belajar, tapi benarkah yang kita tuntut itu ilmu, bukan sebuah prestisme.
Labseni mencoba mengobatinya dengan membangun sistem pendidikan yang lebih maju. Melalui kurikulum PISA (Programable International Student Assesement) diharapkan mampu menghilangkan pemberhalaan pada prestisme guna mendapatkan kesucian dalam melakukan penutunan ilmu. Namun apa guna program ini jika tidak memiliki arahan yang jelas. Itulah sebabnya Labseni mencoba menarik dan membangun para peneliti terbaik diantero jagad ini untuk saling berbagi keilmuan. Sederhananya seperti apa yang diungkapkan oleh petani tadi. Labseni memang membangun nilai dari filsafat. Namun itulah rencananya. Semua perkembangan sains dan teknologi di dunia barat memang dimulai dari konstruksi pola pikir, kemudian hal ini menarik para intelek seantero jagad untuk saling berbagi di dalam konstruksi pola pikir tersebut. Itulah hal yang membuat saya membangun ini benar dari konstruksi pola pikir.
Membuat silicon valey masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Mengingat bahwa di Indonesiapun sudah mencoba dirintis oleh Ridwan Kamil, walikota Bandung. Tapi percayalah pada saya, konstruksi yang dicoba dirintis oleh Ridwan Kamil tidaklah cukup kuat. Hal ini berangkat dari analisa saya pada konstruksinya yang tidak mencoba untuk memperkuat daerah penelitian di kota Bandung. Ridwan Kamil harus masih membenahi konstruksi dasar terlebih dahulu, walaupun pada kenyataannya dia memiliki dana yang besar hingga milyaran rupiah, ini tidak akan menolong dan cenderung pada pembangunan yang sia-sia. Tapi ini masih lebih baik dari pada tidak mengusahakan sama sekali. Walaupun begitu Ridwan Kamil masih bisa mengkonstruksinya, semangat buat Ridwan Kamil.
Memang benar Indonesia sekarang memperoleh banyak prestasi dalam bidang lomba-lomba internasional. Tapi apakan anda pernah berfikir mengapa universitas sekelas MIT tidak pernah menampakan dirinya dalam ajang perlombaan. Iyah, untuk sekaliber UI, ITB, atau yang lain, memang mendapatkan prestasi pada ajang internasional merupakan hal yang mewah. Tapi tidak untuk unversitas yang maju, riset dan penelitian lebih mereka kejar. Tujuannya sederhana, untuk dunia yang lebih nyaman. Mereka sama sekali tidak peduli dengan beragam lomba. Inilah yang seharusnya dibenahi oleh pendidikan dan riset di Indonesia.
Selain untuk memberikan pendidikan yang lebih maju, labseni juga merintis dalam penelitian untuk bisa membuat dunia menjadi lebih nyaman. Kita sekarang sering mendengar bahwa banyak para engineer atau scientis di indonesia menjadi budak uang di luar negeri. Mungkin mereka melakukannya bukan sekedar uang dan prestisme, tapi apakah kalian menyadari bahwa sebenarnya tidak cukup susah untuk melakukannya di negeri sendiri. Asal kita memiliki tempat nyaman dan teman yang enak diajak untuk berdiskusi. Itulah mengapa labseni mencoba merintis silicon valey ini.

Menuju Smart City


Berdiskusi dengan Hendrik Maulana cukup memberikan pencerahan untuk saya dalam merencanakan pembangunan Silikon Valey di Indonesia. Ternyata rencana ini tidak hanya aku semata yang menginginkannya, Hendrik pun berfikiran untuk membuat komunitas bersama guna meningkatkan kualitas hidup di Indonesia, dia menunggu komunitas-komunitas yang lebih bisa diajak serius untuk mengkonstruksikan Indonesia yang lebih baik. Saya pun sebenarnya menunggu komunitas semacam itu. Sementara ini komunitas yang didirikan oleh para pemuda hanyalah sekedar kegiatan sosial yang tidak mampu memberikan solusi hingga menyelesaikan masalah hingga ke akar. Baik memang berbagi beras, sembako, atau buku kepada panti asuhan atau yang lainnya. Tapi kegiatan itu masih kurang bisa memberikan geist (roh) atau karakter yang memberikan riple cukup bermakna. Sembako yang diberikan juga akan habis dalam waktu kurang dari satu minggu, dan apa kelanjutanya? Nothing.
Labseni mencoba mengkonstruksi benar dari pola pikir negeri ini yang bermula konsumptif dan parno akan teknologi, untuk setidaknya mampu menjadi diri sendiri. Kita melihat bahwa banyak produk asing yang beredar di negara ini. Apakah kita tidak menyadarinya, tapi kita justru bangga apa lagi kalau harganya mahal. Coba banyangkan jika uang itu digunakan untuk membeli buku atau memberikan beasiswa kepada anak orang yang tidak mampu?
Konstruksi yang dimulai dari karakter diri entah itu persia, yunani, eropa, bahkan majapahitpun menjadi sangat dominan. Saat kita berfikir bahwa negara yang paling berkuasa adalah negara yang kaya dan teknologinya paling canggih, itu hanyalah pola pikir kulit saja. Kemampuan manuisa itu sama. Teknologi itu bisa dipelajari dalam waktu yang singgat, 2 minggu udah jago, itulah kata Bambang Mulyono. Bangsa yang besar adalah bangsa mampu menjadi dirinya dan mampu menarik orang lain menjadi dirinya, itulah yang aku pelajari dari beragam buku filsafat.
Diskusi dengan Hendrik berlanjut dengan proyekan yang diberikan oleh Pemda untuk membangun sebuah pengaduan sosial dengan berbasis sms. Katanya proyekan ini membutuhkan dana yang mahal, tapi jujur saja. Bahkan dengan uang kurang dari 300 rb pun aplikasi itu bisa dibuat oleh tangan anak Purbalingga dan waktu kurang dari 1 minggu. Ternyata mudahkan membangun smart city? Mau bergabung?
Pesisme negeri ini memang masih menjadi penhijab antara diri kita dengan realitas yang ternyata diri kita lebih hebat dari apa yang kita fikirkan. Keparnoan akan produk luar negeri sebaiknya kita tangguhkan agar kita mampu memiliki pemahaman yang lebih jernih akan makna dari produk itu, mungkin itu yang ingin dikatakan Jacques Derrida pada orang Indonesia. Sebenarnya banyak hal yang bisa didiskusian di negeri ini. Kamu kemana aja?

Patient is an Art


The meeting with my cute friend, Annisa Nur Fitriana who called Unis gave me something incredible learning. I saw that Unis still made a Handcraft, kain tenun. I was not undertand with her doing, She was student in Art Departement in ITB, but she doing like a labour with her Kain Tenun. But some incredible quotes spoke from Unis mouth “Menenun bukanlah sekedar membuat barang yang bagus. Tapi kesabaran juga dilatih dalam pekerjaan ini.” “Menenun is not only make a good craft. But the patient is also learned in this work.” Her qoute answered my long time question about how to learn a patient. I also passionate with my job, like learning or reading a book. Many book I read but I dont have many sense with my book whose I read.
Like a philosopher from arab, who said “Idfin wujudaka fil ardil khumuli fa ma nabata mima la yudfan layatimu nata ijuhu.” “Plant your being in a depht soil if you dont, you will not get a precious this what your plant.”, thats what I interpretation with the philosopher spoked. Not only in arabic but also in greece, who said same meaning, a thinker from helenis said that “You cant get more something in precious if you can be patient to wait to get more.” The quote from Unis gave me sense about many philosopher think. Thanks to Unis.
In Indonesia many people still think to get something in fast like a money, girl, or power. The do anything for this to get it fast, but they didn’t get it. Patient is not only the words from prophet to get more attention from many people to get her or his money, integrity, or sexual genital. Indonesian people should learn to be patient to get what should they get.
Patient is an Art. It’s shoud be trained to get a spectacular art. The art has many level, there is low level, mid level, or high level. So Indonesian think about learing to get money, power, vagina or penis should be reconstruction. Learning need a time, focus, and another to be more depth so get a spectacular things. Maybe you should watch the three kingdom who wacthed by me, in this film there are a many value about learning to patient. Or in Kungfu Panda.
Passion is another problematic in Indonesian Student. Many people in Indonesia has gaved doctrine from motivator to follow their passion. Indonesian student should read Futility of Passion to counter this doctrine. This doctrine can be good think but that can be bad think if their not understood what about passion. The passion is can go in fast time, so it can be give distraction to their brain, they can not be anything. The future is not contructed by what we have, but what we do if we get an dread (angst), thats what Martin Heiddeger said.

Game Berbasis GPS


Waktu itu saya sedang bingung untuk mengalirkan distribusi pelanggan guna menaikkan pendapatan daerah. Sederhananya saya sedang membangun sebuah perusahaan riset agar negara ini tidak terlalu bergantung pada teknologi luar negeri tapi orang tidak bisa mengerti. Masalah pokemon GO membuat saya patah hati, lantaran niat saya membangun game berbasis GPS di dahului oleh orang Amerika. Dasar Amerika kaya sih, mereka bisa menciptakan sesuatu lebih cepat dari saya. Sayangnya Indonesia lebih cerdas dari mereka, walaupun game mereka cukup laku dipasaran, konstruksi mereka kurang bisa menangani problematika semacam kecanduan game atau sebagainya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Martin Heidegger dalam The Question of Concerning of Technology, bahwa teknologi mendahului sains, hal ini akan memberikan pelajaran bagi kita untuk bisa lebih belajar memahami kehidupan (Hermeneutika Kehidupan). Pokemon GO memang telah jadi, namun konstruksinya akan memang berdampak cukup destruktif dalam pendidikan apalagi di Indonesia yang masih memberhalai prestisme maupun hal yang tidak penting lainnya. Sebenarnya kita bisa memanfaatkan Pokemon GO untuk mengatasi kemacetan semisal untuk menyebarkan jalur distribusi trafik mobil dalam rute yang lebih rendah kepadatanya. Atau mungkin untuk mengurangi urbanisasi yang semakin menjadi-jadi paska lebaran. Pokemon GO bisa dilakukan sebagai sarana untuk bisa mengurangi kapitalisme pendidikan, semisal memberikan hadiah pokemon untuk sekolah ditempat tertentu. Namun juga sebaliknya bisa menaikkan kapitalisme. Semua tergantung bagaimana mengatur rarity pokemon yang akan disusun. Sederhana bukan, tapi ini cukup untuk menghancurkan atau membangun sebuah negara dengan sangat effektif.
Sebagai negara yang jenius, untuk apa memanfaatkan Pokemon GO dalam proses konstruksi pendidikan, perekonomian atau yang lainnya? Apalagi Pokemon GO merupakan produk asing. Bahkan value dari pokemon itu sendiri merupakan adaptasi dari kehidupan Jepang. Jika saya memanfaatkan game ini. Indonesia akan semakin kehilangan jati dirinya dan akan semakin menguatkan dominasi asing di tanah air tercinta. Namun saya bukanlah pemuda tanpa solusi. Sebaiknya Indonesia membangun game berbasis GPS sendiri yang dinaungi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun ristek. Hal ini berkaitan bahwa jika game ini dikuasai oleh swasta, atau golongan ini akan mudah untuk bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Saya rasa membuat game berbasis GPS terlalu mudah untuk orang Indonesia. Korupsi saja yang orang eropa tidak bisa, orang Indonesia jago, apalagi membuat game GPS doang. Alur cerita saya pikir harus disesuakan dengan wilayah setempat, semisal kita membuat game RPG, dimana jika kita pergi ke jawa kita akan mendapatkan item keris setelah membunuh monster daerah setempat, atau kita akan mendapatkan Koteka ketika kita membunuh monster di Papua. Sederhana kan. Atau mungkin dengan memberikan item tambahan jika kita membeli souvenir di tempat tertentu, ini bisa menjadi metode marketing yang baik.
Daftar Pustaka :
William, Lovitt. 1977. Translate The Question of Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing : New York and London.

Takut Dipahami


Soren Kierkegaard, salah satu intelek terbesar di jagad ini memang memiliki pemikiran yang unik tentang eksistensialisme. Namun, kehidupannya yang koplak, mungkin perlu dijadikan pembelajaran untuk para elit intelek yang hidup setelah Kierkegaard. Kierkegaard memiliki kisah percintaan yang menarik dengan seorang anak bangsawan cantik, Olsen. Beberapa kali lamarannya ditolak oleh Olsen. Namun akhirnya lamarnya diterima juga. Sayangnya setelah pertunangan, Soren Kierkegaard justru membatalkan pertunangannya dengan Olsen. Alasannya sederhana, katanya ada duri dalam dagingku. Padahal, dia sangat mencintai Olsen. Kehidupannya kian bergejolak dengan ditandai dengan beragam tulisan-tulisan yang mendalam tentang eksistensialisme. Kritik terhadap agama, Tuhan dan lain-lain dia persembahkan dalam tulisannya. Namun pada akhrinya diapun menyadari bahwa hal ini merupakan semacam keberulangan abadi, hingga dia kembali menjadi seorang yang religius.
Memang seorang filsuf dikenal sebagai seorang elit intelektual, terkadang sering disalah pahami oleh kebanyakan orang. Orang banyak mengatai gila, aneh atau sebagainya. Namun, apakah itu menjadi pembenaran untuk Soren Kierkegaard untuk tidak bersikap jujur pada Olsen. Dia sangat mencintai Olsen, hingga dia tidak ingin Olsen menikahi orang seperti dirinya, tapi apakah Kierkegaard juga tidak berfikir bagaimana perasaan Olsen tentang dirinya. Andaikata Kierkegaard bukan orang yang baik, miskin, ataupun bodoh (saya rasa tidak mungkin dia bodoh, namanya juga filsuf), membuatnya tidak bisa bersikap jujur akan perasaannya pada Olsen, malah justru mengatakan ada duri dalam daging. Bukankah jika dia bersikap jujur pada Olsen, itu lebih baik, andaikan dia tidak mau menerima dirinya sebagai suaminya, bukankah Kierkegaard juga sudah siap dengan hal itu. Harusnya Kierkegaard belajar dari Bambang Mulyono, bahwa “Cinta adalah kejujuran.” Tapi begitulah filsuf, Kierkegaard jurstru berargumen bahwa, “Aku tidak bisa menikahi Olsen karena aku tidak mampu bersikap jujur padanya. Saya takut sebuah pernikahan yang tidak dilandasi dengan kejujuran akan menyakiti satu sama lainnya.”. Ah persetan dengan filsuf itu.
Lamaran ditolak merupakan hal biasa bagi para filsuf. Tidak semua orang bisa mengerti pemikiran para elit intelektual itu, mungkin itulah yang menyebabkan Fredrich Nietzsche berargumen, “Aku lebih takut dipahami dari pada disalah pahami.” . Pembenarnya cukup menarik, jika seorang filsuf mudah untuk dipahami maka filsuf tersebut memiliki kualitas yang masih rendah. Aneh memang, orang-orang yang disebut sebagai para elit intelektual ini. Kehidupan yang aneh, seperti hidup di tong sampah (Diogenes), minum racun padahal tidak melakukan kriminal (Socrates), diasingkan padahal mengatakan kejujuran (Spinoza), dipenggal karena mengungkapkan cinta (al Halaj), dikafirkan padahal merekonstruksi agama (Ibnu Arabi), dikatai sesat padahal sedang membuat makalah padahal sampai sekarang menjadi rujukan keilmuan (Ibnu Tsina). Iyah, memang sepertinya susah menjadi golongan elit intelektual, dengan kehidupan yang mayoritasnya masih memberhalai uang, kekuasan dan wanita (Untungnya saya bodoh).
Mereka memang terlalu cepat untuk jamannya. Setelah dikatai bodoh, miskin, tidak berguna, aneh, atau gila, ratusan tahun kemudian mereka dikenal sebagai seorang jenius. Tapi, emang enak jadi filsuf? Kehidupan mereka yang penuh dengan kemalangan, walaupun mereka tidak menganggap itu, memang perlu menjadi pembelajaran bagi filsuf sekarang agar para elit intelektual tidak mengalami penderitaan yang tidak perlu seperti mereka.

Berhala di Purbalingga


Seperti yang pernah dikatakan dalam karya Nietzsche, Genealogy of Morals, setiap pemikiran yang fix akan sesuatu akan menghasilkan pembengkakan pola pikir. Pembekakan pola pikir ini akan mengakibatkan diri kita sulit untuk mengafirmasi realitas yang nampak sebagai fenomen dalam kehidupan ini. Ketakutan untuk keluar dari pemikiran yang membengkak ini sering kita istilahkan sebagai zona nyaman. Banyak memang yang berteriak tentang zona nyaman, tapi tidak semua orang memahami makna dari zona nyaman itu.
Zona nyaman adalah kondisi kita untuk tetap bertahan dalam suatu nilai karena ketakutan kita dalam menghadapi realitas. Seperti yang pernah kita ketahui bahwa dalam islam mendekati zina terlarang tapi berpacaran lebih terlihat tabu ketimbang melamar. Hal ini merupakan efek dari pembengkakan pola pikir yang tidak teratasi dengan baik. Ketakutan untuk mempertanggungjawabkan keluarga, bahkan mulai dari mengikuti kebiasaan atau adat. Tak hanya dalam bidang percintaan misalnya. Dalam bidang pendidikan pun demikian. Seolah menjadi adat bagi orang Indonesia, bahwa bekerja adalah perilaku kita dalam proses menumpuk uang. Dalam pengertian yang lebih fisis kerja merupakan sebuah potensial atau gaya yang bekerja dalam sebuah partikel untuk bisa membuatnya bergerak. Tapi mengapa definisi ini begitu mudah dirubah oleh orang Purbalingga? Apakah mereka tidak pernah menyam pendidikan fisika di SD, SMP maupun SMA? Dengan pengertian ini yang disebut sebagai tidak bekerja adalah berada pada inertia. Inertia itulah yang saya sebut sebagai pembengkakan pola pikir.
Berlanjut dengan diskusi yang dihadiri oleh teman saya, Agung, Diva, Rido mereka cukup hebat karena masih mau menerima saya di Purbalingga, dan tidak lupa dengan saya ha ha ha apa kaitanya? Penelitian di Purbalingga masih sekedar menunggu inisiatif, dan proposal. Kalau mereka ingin meneliti bukankah tinggal meneliti saja kan? Tidak semua orang memahami bahwa mereka sendiri telah meberhalai proposal, bupati, atau pemerintah. Mereka selalu menyudutkan mereka atas ketidak nyamanan dan kelemahan diri sendiri. Tapi mengapa tidak mencari solusi bersama yang lebih cerdas dan solutif. Bupati, proposal ataupun pemerintah saya rasa bukanlah Tuhan. Andaikata setiap bentuk merupakan interpretasi dari sebuah wujud yang substantif, tapi mengapa diri kita tetap dalam inertia yang tidak produktif. Apakah semata produktifitas itu uang?
Beragam masalah muncul di Purbalingga, ada yang disadari ada yang tidak. Bahkan yang disadari pun belum tentu bisa teratasi. Menunggu berhala (Bupati, Pemerintah, Proposal, uang) memang kebiasaan para kaum muda di Purbalingga, pembenaranya sederhana “Aku ini apa, gak punya kuasa.” Iyah kan yang punya kuasa cuma Gusti Allah, kenapa kalian mencegah pertolongan dari Gusti Allah dengan memberhalai mereka?
Memang benar kata Imam Ghozali, cukup mudah untuk bisa melihat berhala yang nampak seperti patung dan pohon, tapi bagaimana tentang berhala lain semisal adat kebiasaan, pembengkakan pola pikir maupun sikap inersial? Masih maukah hidup dalam Furch ( Fear ) dengan Angst yang muncul dan bisa mengkonstruksimu menjadi sesuatu, itulah kata Martin Heidegger.
Dalam agamapun masih kurang dipahami cukup subtil, ketika agama hanya berada dalam domain estetis, (Hanya nampaknya agama), atau mungkin semacam etis (menjalankan agama) tapi tidak dibarengi dengan pendalaman agama yang lebih religius (Menghayati makna keagamaan). Itulah mengapa orang beragama di Purbalingga tidak begitu merasakan manfaat dari agamanya. Agama masih digunakan sebagai pendorong untuk mecapai berhala berhala seperti kekuasaan, memek, kontol atau duit. Benar kata Jacques Derrida, bahwa teks memiliki hak otonom untuk membentuk pembacanya menjadi sesuatu, maka jagalah jarak dengan apa yang kau baca, atau itu akan menjadi berhala dalam dirimu.
Kegiatan sosial masih cenderung bagi-bagi produk. Memang baik, tapi jika produk itu habis mau bagaimana lagi. Kegiatan sosial semacam itu tidak akan mengkonstruksi sesuatu yang lebih menjawab permasalahan di purbalingga secara mengakar. Pemberhalaan pada bentuk untuk mendapatkan substansi yang lebih matang saya pikir perlu lebih diatasi oleh diri kita.


Daftar Pustaka :
  1. Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
  2. Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
  3. Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
  4. Pitt, Joseph C. 2011. Philosophy of Engineering and Technology vol 3 : Doing Philosophy of Technology, Essay in Pragmatism Spirit. Springer : New York, USA.
  5. William, Lovitt. 1977. Translate The Question of Concerning Technology and Other Essay, Martin Heidegger. Garland Publishing : New York and London.
  6. Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science, Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
  7. Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
  8. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
  9. Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
  10. Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG
  11. Nietzsche, Fredrich. 2009. On the Genealogy of Morals : A Polemical Tract. Richer Resources Publicarion : Arlington, Virginia, USA.
  12. Ghozali, Abu Hamid Al.- . Ikhya Ulumudin.
  13. Rumi, Jalaludin. - .Fihi Ma Fihi

Tentang Takdir


Membahas takdir memang menarik hati, bagaimana kehidupan kita selanjutnya, siapa jodoh kita, apakah kita masuk surga atau neraka? Memang benar rosululah pernah bersabda bahwa sebisa mungkin seseorang membahas tentang takdir. Sebenarnya apa itu takdir?
Dalam karya Jalaludin Rumi, bahkan seseorang yang melemparkan batupun sebenarnya telah digariskan oleh Tuhan. Tapi bertentangan dari itu, al Qur’an pernah menuliskan bahwa Allah tidak akan merubah kaum sebelum kaumnya mau merubah sendiri. Namun dari surat tersebut bukankah menunjukan Allah tidak memiliki kuasa untuk menentukan takdir. Siapakah yang bernar?
Dalam Ecce Homo, Fredrich Nietzsche pernah menuliskan “Mengapa aku adalah takdir?”, tentunya setelah kalimat “Mengapa aku begitu pintar?” dan “Mengapa tulisanku begitu bagus?”. Kesadaran akan takdir yang pernah diungkapkan dalam hadis arbain, bahwa Rosululah pernah bersabda ada 4 hal yang telah ditetapkan dari dalam diri manusia yaitu hidup mati, rejeki, jodoh, serta keselamatan. Mungkin inilah yang melatar belakangi Fredrich Nietzsche membunuh Tuhan karena dia sepertinya tidak cukup konsisten dalam firmannya. Kasus ini dijelaskan lagi oleh Martin Heidegger, seorang pemikir Jerman yang mendapatkan nobel karena penjelasannya tentang ada.
Secara arti kata Takdir berarti kadar, begitulah kata kiayi. Namun dalam takdir kita melihat adanya qodo dan qodar, yaitu sebuah ketentuan takdir dan pengejawantahanya. Namun walau bagaimanapun kita juga tidak mengetahui qodo kita seperti apa, maka kita tidak akan pernah mengetahui apakah qodar sesuai dengan qodo maupun tidak. Namun sebagai seorang mukmin kita diperintahkan untuk beriman pada qodo dan qodar.
Secara genealogis runtutan kehidupan yang kita jalani memberikan kita penilaian tentang makna bahwa takdir adalah track record yang dilewati oleh seseorang. Kebutuhan akan percaya pada kehidupan yang baik terkadang membuat kita memperbudak tuhan dengan doa-doa kita. Setelah doa itu terkabul kita justru menampakan hasrat rendah kita (berupa hawa nafsu) untuk melakukan semisal pamer, bermaksiat atau yang lain. Tapi itu bukanlah masalah, karena memang salah dan benar merupakan ketiadaan yang diada-adakan, yaitu sebuah pelengkap di ranah etis.
Walaupun dalam religiusitas, baik buruk tidak begitu penting. Tapi hal ini juga merupakan sebuah ilmu transendtal yang ekstetit sehingga masih perlu untuk disebarkan kepada banyak orang. Kehidupan yang baik atau buruk memang tidak ada. Namun jika kita menginginkan sesuatu tapi kita tidak tahu caranya, bahkan mungkin salah jalan, kita terkadang tidak akan mampu memaafkan diri kita sendiri.
Kebanyakan dari kita menjalani kehidupan ini sekadar ngikut orang (das Mann). Orang berfikir bahwa dokter itu keren dan berpenghasilan tinggi misalkan, maka orang berebut untuk sekolah di kedokteran. Dan setelah diterima, hal itu hanya sekadar menjadi pamer diri belaka, bahkan terkadang kita sering mendapati orang yang terlihat pintar namun tidak memiliki ilmu yang mumpuni.
Dalam Sein und Zeit, Heidegger pernah berkata bahwa masa depan dikonstruksi bukanlah dari apa yang kita rencanakan atapun apa yang kita miliki. Tapi sikap kita dalam mengatasi kecemasan (angst). Eksistensi seseorang dalam menghadapi kecemasan itu akan memberikan dia pengalaman yang subtil tentang keberadaannya sehingga disana seseorang akan mengkonstruksi masa depannya. Hal ini mengkritik Rene Descartes dalam kalimatnya Cogito Ergosum, aku berfikir maka aku ada. Dalam Cogito Descartes, dia mencoba menjelaskan bahwa esensi dari sesuatu mendahului eksistensi tersebut. Namun ada (Sein) menurut Heidegger adalah muncul secara fenomen dan begitu saja mucul, atau mungkin jika anda anak pesantren dan pernah mengaji kita tijan addarori eksistensi ini disebut sebagai wujut idzati, yaitu wujud yang tidak bergantung pada eksistensi yang lain.
Masalah tentang takdir baik, maupun takdir buruk memang hanyalah sebuah cacian belaka alias omong kosong. Mengingat bahwa takdir baik masih bergantung dari uang yang banyak, punya kuasa, terkenal maka takdir baik tidak bisa disebut sebagai sesuatu yang eksisten. Begitu pula tentang bodoh dan pintar, keduanya adalah ketiadaan yang diada-adakan oleh orang yang belum pernah belajar tentang makna eksistensi itu sendiri. Dan dari sini kita akan melihat bahwa masa depan memang dikonstruksi oleh sikap kita dalam menghadapi angst. Dan kecerdasan seseorang juga merupakan sebuah interpretasi yang jujur dari prilaku ontisnya menghadapi angst.

Psikologi Eksistensialisme


Psikologi Freud, selain terlalu reduksionis dan pendetailan yang terlalu pesimistis, seolah dunia ini telah selesai membuat filsuf berkebangsaan Perancis, Jean Paul Sartre, mengangkat psikologi yang lebih optimis. Seperti ketidakpuasan Kierkegaard pada roh absolute Hegel. Dan memadukan dari konsep fenomenologi Husserl, Psikologi eksistensialisme dilahirkan. Pengaruh dari psikologi eksistensialisme mendorong beragam perubahan di dunia barat, tidak hanya dibidang psikologi itu sendiri. Topik agama, ekonomi, engineering bahkan kedokteran ikut berkembang menjadi lebih berasa.
Biarkan dirinya menampakan dirinya sendiri melalui dirinya dari dirinya. Itulah dasar fenomenologi. Ada begitu saja. Ketika dalam analisa Freud seorang wanita mengalami ketakutan ketika menghadapi semak belukar, akibat trauma dari sang wanita dengan kasus seksualnya, Jean Paul Sartre menyangkal asumsi Freud ini, dia berpendapat bahwa ketakutan itu muncul begitu saja. Sesuatu yang lebih lanjut dijelaskan sebagai Being in Nothingness atau eksistensi dalam ketiadaan.
Muncul begitu saja, itulah fenomen. Masalah yang melanda, kecemasan yang datang memang muncul begitu saja. Ketika diri kita mencoba menelisik dari mana kecemasan itu. Semakin kita bingung dibuatnya, dan bahkan tidak mampu menyelesaikan masalah yang fenomen tersebut. Psikologi eksistensialisme akan menangani permasalahan seperti ini.
Alineasi (Keterasingan) sering muncul ketika kita sedang menekuni sesuatu. Saat kita larut dalam keseharian, seperti bekerja, belajar di sekolah, mengajar, atau memberi makan binatang. Diri kita seolah tidak memiliki pekerjaan itu, kita kurang menghayati atau menikmati apa yang kita kerjakan. Walaupun menghayati apa yang kita lakukan pada ujungnya akan menjadikan diri kita menjadi asing dimata orang lain. Sikap kecemasan seperti itulah yang terkadang nampak begitu saja sebagai sebuah fenomen. Kecemasan (dalam bahasa Jerman disebut sebagai angst) merupakan cara kita untuk bisa bereksistensi dalam dunia, atau menurut Martin Heidegger, peralihan dari Das Mann menjadi Dasein.
Tidak semua menginginkan kecemasan, iyah jelas siapa yang ingin cemas karena pekerjaan hilang, diputus pacar atau di DO dari kuliah. Namun, kecemasan yang muncul ini memang tidak bisa dihindari. Psikologi eksistensialisme bahkan melihat bahwa tindakan bunuh diri oleh seseorang akibat lamaran ditolak misalnya adalah sebuah hal yang biasa, itu merupakan salah satu bentuk penyikapan terhadap angst.
Menurut Heidegger, masa depan tidaklah ditentukan oleh apa yang kita miliki sebelumnya atau kita rencanakan kedepan. Masa depan dikonstruksi dari sikap kita menghadapi keterlemparan (angst). Seperti contoh orang yang bunuh diri tadi, bisa jadi sebelumnya dia pacaran selama 10 tahun, namun karena wanitaya terlalu angkuh mengakui perasaannya, lamaranya jadi ditolak. Rencana sang lelaki untuk menikahi gagal, dan apa yang telah dia lakukan sebelumnya (yaitu macari ceweknya) juga sia-sia, yang jelas sekarang dia mati. Seperti itulah konstruksi masa depan yang ingin dijelaskan Martin Heidegger.
Kehidupan sebagai kertas kosong, itu pernah diajukan oleh Shakespeare, namun diangkat lagi oleh Sartre, yang ingin menjelaskan bahwa manusia bebas menentukan nasibnya. Atau yang lebih dikeneal dalam kalimat “The man condemned to be free.”. Dengan statement itu seorang manusia akan lebih bisa optimis menentukan hidupnya. Dan dari kalimat ini Sartre seolah ingin mengaja untuk terus berpartisipasi proaktif dalam melakukan konstruksi dunia. Walaupun Sartre pernah berkata bahwa “Manusia dikutuk sebebas-bebasnya.”, namun kebebasan dalam penentuan sikap akan mengkonstruksi sebuah masa depan seperti yang telah dijelaskan oleh Heidegger sebelumnya.
Daftar Pustaka
  1. Capra, Fritjof. 1983. The Turning Point : Science, Society and The Rissing Culture. Bantam Books : Toronto.
  2. Suriasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
  3. Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi : Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Kanisius : Yogyakarta.
  4. Hardiman, F. Budi. 2008. Heidegger dan Mistik Keseharian : Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.
  5. Tjaya, Thomas Hidya. 2010. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : KPG.
  6. Hardiman, F. Budi. - . Seni Memahami : Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Jakarta : Kanisius.
  7. Wibowo, A. Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisame Jean Paul Sartre. Yogyakarta : Kanisius.
  8. Nugroho, Wahyu. 2013. Orang Lain Adalah Neraka : Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
  9. Heidegger, Martin. 1949. Existence and Being. Chicago : Henry Regnery Company.
  10. Stambaugh, Joan. 1996. Being and Time : A Translation of Sein und Zeit Martin Heiddeger. New York : SUNY Press.