Apalagi pembunuhan
paling kejam di dunia ini selain membunuh Tuhan? Bukankah itu jahat
sekali? Membunuh Tuhan adalah sebuah prestasi yang luar biasa untuk
para kriminal di dunia ini? Bayakngkan saja, betapa susahnya membunuh
Presiden Amerika, Barak Obama. Bahkan banyak yang berencana membunuh
presiden itu termasuk mungkin para ISIS. Namun dengan berbekal
senjata, kemampuan dibidang teknologi, serta keilmuan jihad yang
begitu mengalir di dalam darah ISIS, bahkan dengan doa-doa ustadz
yang anti dengan Amerika, pun tak mampu menumbangkan presiden Amerika
tersebut. Hanya dengan bermodalkan kesakitan Fredrich Nietzsche sang
pembunuh Tuhan, sebuah pengakuan yang terlihat ateis, mampu membunuh
Tuhan. Betapa luar biasa Nietzsche, sebagai seorang yang berfikir
bahwa diriku orang beragama, pembunuhan Tuhan ini menggangguku.
Apalagi mendengar ustadz-ustadz di salman yang mengatakan bahwa
tulisan-tulisan Nietzsche adalah bentuk keputus-asaan yang luar
biasa, dan bentuk kekecewaan tertinggi dalam menghadapi takdir
kehidupan Nietzsche, semakin aku anti dengan Nietzsche, padahal para
ustadz di Salman pas aku tanya, “Bapak pernah membaca buku
Nietzsche?”, aku kaget kalau ustadz salman tersebut menjawab,
“Belum”. Waduh, ini sebuah pelanggaran akademis menurutku, masa
orang sudah menilai sebuah buku tanpa membaca buku tersebut, bahkan
kalaupun sudah membaca, itupun belum tentu dirinya telah memahami
betul tulisan Nietzsche, apalagi kalau belum.
Pertemuanku dengan
Nietzsche sebenernya cukup unik, mulai karena pertemuan dengan para
Pembaca Nietzsche, hingga karena aku iseng belajar buku teknik yang
memiliki referensi dari para pemikir Jerman, seperti Heidegger atau
Idhe. Filsafat teknik memang menarikku, tapi ada yang lebih menarik
dari Nietzsche, karena dia menuliskan kitab Zarathustra, dan ketika
aku mencari di google Zarathustra adalah nabi berkebangsaan persia.
Aku memiliki basis pesantren, beberapa kitab persia cukup menarik
karena menuliskan beberapa makna kezuhudan yang jarang aku temui
dalam ceramah-ceramah ustadz di salman, karena ustadz di salman lebih
cenderung menjelaskan tentang adat istiadat keislaman ketimbang
mengajarkan tentang keikhlasan.
Kitab persia, dari karya
Abdul Qodir Jaelani (Sir Asror, Fathul Rabbani, Jala ‘al Khawatir),
Imam Amin al Qurdi (Tanwirul Qulub), Imam Ghozali (Ihya ‘Ulumudin,
Minhajul ‘Abidin, Bidayatul Hidayah, Kimiya tus Sa’adah), Ibnu
‘Arabi (Futuhat al Makiyat), Jalaludin Rumi (Matsnawi, Fihi ma
Fihi), Ibnu Atha’ilah (al Hikam) bahkan karya Ibnu Qoyim (Lupa),
aku pelajari hanya untuk bisa belajar ikhlas, walaupun ilmu ikhlasku
masih cupu, setidaknya ada usahalah (pembenaran wkwkwk). Dari
kitab-kitab tersebut memang aneh rasanya, karena kitab tentang
kezuhudan justru mendukung Fredrich Nietzsche (setelah aku membaca
buku Nietzsche tentunya). Berikut dukungan pendapat para ulama timur
tengah tersebut.
Ibnu Athailah (al Hikam)
-
Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “Seseorang belum suci jika dia menganggap dirinya suci.” Apa pengakuan yang tidak lebih suci dari pada pengakuan dari pembunuhan Tuhan? Wkwkwk.
-
Dalam kitab al Hikam dituliskan bahwa “idfin wujudaka fil ardil humuli fama nabata mima la yudfan la yatimu nata ijuhu.” Tidak akan tumbuh tananam dengan baik jika tidak ditanam ditanah yang dalam. Dalam kaitan ini, tulisan Nietzsche juga seolah untuk tidak berkasihan padanya, karena apa gunanya berkasihan pada orang yang telah melampaui. Apa gunanya berkasihan pada orang sepintar saya? Dan ini menunjukan bahwa dirinya sudah tidak bergantung pada apa yang ada diluar dirinya, bukankah ini makna Zuhud.
Abdul Qodir Jaelani
-
Dalam Fathur Rabbani banyaknya tulisan untuk mengkritik kita terlalu bergantung pada keduniaan, dalam konteks ini adalah sesuatu diluar kita.
-
Rab dalam Sir Asror adalah perwujudan terdalam, didalam hati kita. Dia adalah sebuah rahasia dibalik rahasia. Layaknya Nietzsche yang selalu memuja Aku, dan selalu ingin menjadi Aku (Ubermanch).
Imam Ghozali
-
Dalam karya Ihya’ulumudin mengkritik para ahli fikih yang hanya menjalankan keislaman hanya sebagai adat, dan tanpa keshalehan. Ini seperti pendapat Nietzsche yang mengkritik para religius dan ilmuan yang hanya menjalankan kegiatannya tanpa Geist atau kesalehan.
-
Imam Ghozali menyatakan bahwa Tuhan merupakan substansi dari segala sesuatu, dan bentuk lain hanyalah aksiden, namun kebanyakan lebih menyembah tuhan yang lebih bersifat aksiden, dan hanya menyembah nama Allah saja, bukan dari yang bernama. Layaknya Nietzsche yang mengagungkan substansi ke-Akuannya.
Jalaludin Rumi
-
Dalam kitab Rumi matsnawi, bahwa agama pada dasarnya adalah bentuk tajali dari cinta terhadap Tuhan, maka sebenarnya agama itu hanyalah sebatas kulit, dan dia juga mengkritik orang yang telalu mengaggunkan kulit hingga lupa kacangnya wkwkwk, maka terlihat bahwa keislaman hanya sebatas adat. Kolam yang abisal, dan manusia permukaan itu yang dikemukakan Nietzsche sejalan dengan pemikiran Nietzsche tersebut.
-
Kitab Rumi Fihi Ma Fihi, tentang bencana juga merupakan sebuah rahmat dari Tuhan, dan neraka juga sebuah bentuk kasih sayang dari Tuhan agar kita tumbuh dan belajar hingga kita bisa kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci. Ini pun sejalan dengan pemikiran Beyond Good and Evil dari Nietzsche.Dan masih banyak lagi, tapi aku males menuliskannya.