“Terlalu banyak onani akan menyebaban penis
menjadi bengkok.” Itulah
pepatah yang tepat untuk mahasiswa ITB. Langsung saja ke TKP.
Sanjungan, penghargaan, harga diri masih melekat keras di darah anak
ITB. Lalu bagaimana dengan kerendahan hati? Kerendahan hati memang
dilakukan pada kondisi yang terdesak, seperti halnya kebutuhan akan
uang, kebutuhan akan nilai yang bagus, atau kebutuhan untuk masalah
kelamin. Mengemis untuk hal yang semaca itu memang biasa, apalagi
mahasiswa yang terbiasa sebagai aktifis dengan beragam karya yang
biasa disanjung dan dihormati oleh banya orang.
Seperti halnya yang
diungkapkan oleh Jalaludin Rumi, bahwasanya jika kita ingin mengisi
dengan penuh sebuah gelas, maka kita harus mengosongkan gelas itu.
Tanpa adanya kerendahan hati untuk bisa mengosongkan gelas, maka
bagaimana hal yang baru akan masuk dan mengisi. Nietzsche berujar
bahwa salah satu masalah yang dihinggapi oleh orang yang merasa
dirinya intelek adalah pembengkakan pola pikir. Jelas bahwa
sanjungan, posisi, penghargaan menjadi sebuah onani tersendiri bagi
maahasiswa ITB. Bagaimana tidak, pernahkan anda berdiskusi dengan
mahasiswa ITB dengan argumen dari banyak daftar pustaka, baik anak
mesjid, maupun anak non-mesjid pasti akan terkoyak menerima rasio
dari textbook yang anda jadikan sebagai rujukan pustaka.
Jika anda pernah
mendengar bahwa, “Seorang teman akan lebih rela
kehilangan 2 sapi tapi temannya kehilangan 1 sapi, ketimbang temannya
mendapatkan 2 sapi sedangkan diri kita hanya mendapatkan 1 sapi.”,
anda bisa menikmati pepatah itu di kampus cap gajah duduk ini. Iyah
onani ini memang sekarang menjadi pembengkakan bola pikir hingga
penis menjadi bengkok di
kampus cap gajah.
Sekalipun
matrikulasi banyak diadakan oleh staff di kampus cap gajah, tentang
makna think win win. Hal yang lebih terbaca adalah tidak ada
kemenangan tanpa ada yang kalah. Apakah mahasiswa ITB tidak pernah
belajar dari karya Sun Tzu : Art of War, bahwasannya seorang jendral
yang bijak akan memenangkan pertandingan tanpa ada yang kalah.
Alih-alih putra-putri terbaik bangsa sekarang tidak lagi terkesan
baik bagi mahasiswa bodoh seperti saya. Baik dalam artian disini,
mungkin lebih baik digantikan, putra-putri gila prestisme bangsa.
Bukannya menyindir, tapi jujur akan menjadi lebih baik untuk
penilaian yang lebih objektif, toh dalam insan akademik, perbaikan
terhadap kesalahan akan lebih mudah dilakukan jika mau bersikap
jujur, dari pada penis terlanjur bengkok. Dan
di kampus cap gajah ini anda akan menemukan bahwa benar apa yang
dikatakn Sorean Kierkegaard bahwa “Teman adalah sebuah
ketiadaan.”. Sebuah kata
sebagai zuhandene
untuk mencapai hasrat kedirian, yaitu Tuhan bernama Prestisme.