Laman

Kamis, 31 Desember 2015

Menyerang untuk Melindungi Diri

A photo posted by Aziz Amerul Faozi (@azizfaozi) on

Mungkin judul ini sesuatu yang tepat untuk diri saya. Aku tidak terlalu paham tentang apa yang paling baik atau apa yang paling benar di sini. Mungkin inilah kenapa surat Al-Fatihah itu jadi surat yang wajib saat kita mencoba melakukan sholat. Bukan, mungkin ketika kita mencoba membangkitkan sholat yang tertidur.

Aku tak begitu tahu maknanya itu apa? Tapi sepertinya itulah yang ingin disampaikan oleh bang Tarjo dalam diskusi waktu itu. Itu aneh mengapa seorang yang mengaku diriya ateis memahami al-Qur'an lebih baik dari pada aku yang mengakui dirinya Islam.

Tentang islam yah, sebenernya agama itu apa, aku tidak begitu peduli. Mungkin aku beragamupun sebenernya hanya ikut ikutan orang tua, atau pun yang lainya. Aku mencoba untuk seperti layaknya orang lain yang mencoba untuk mengimani sesuatu hanya berdasarkan pada keyakinan. Aku pun tidak mengerti tentang pemaknaan ini. Namun aku hanya menjalaninya saja, mungkin saya sedang cari aman. Kalaupun agama itu tidak mengantarkan pada kebahagiaan aku pun tak rugi mengikutinya.

Sepertinya tulisan saya kali ini mulai menyimpang dari apa yang aku judulkan kali ini. Iyah, tulisan ini memang hanya sekedar pengobat atas kegelisahan saya saja. Memang tulisan yang saya tulis lebih berkesan tidak penting ketimbang penting. Tapi aku menulis untuk diri saya sendiri saja.

Oke lanjut ke topik kita kali ini. Keponakanku hari ini marah padaku karena aku menyalahkannya akan sesuatu, tapi dia malah menyerangku seakan dia tidak melakukan kesalahan. Dia mencoba meyakinkanku bahwa dia tidak bersalah. Dan aku mencoba iseng untuk meyakinkan dia bahwa dia bersalah. Dan bisa ditebak bahwa dia sekarang menangis tersedu-sedu dengan keras. Wah alay sekali apa yang aku tulis kali ini yah. 
  
Itu mebuatku merenungi sesuatu, mungkin tak hanya keponakanku yang seperti itu, tapi akupun seperti itu. Terkadang aku menyerang orang lain, hanya sekadar untuk melindungi diri bahwa aku bersalah waktu itu. Itulah, kenapa sebaiknya aku mencoba untuk melatih kerendahan hati, yang mungkin sebenernya aku terlalu sombong untuk bisa mengakui bahwa aku memang seorang yang kotor.




Hanya Egiosmeku Saja

Halo Teman,

Sekian lama aku tak berjumpa dirimu, 2 setengah tahun yang lalu aku mencoba untuk menemuimu. Walau jarak yang aku lewati kian dekat, sejatinya hari itu aku tak berani untuk menjumpai dirimu. Awalku berniat menemuimu waktu itu kandas, bukan karena apa-apa, hanya aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku benar-benar bertemu denganmu waktu itu. Aku ingin sekali minta maaf waktu itu, tapi aku merasa terlalu bersalah untuk bisa menemuimu hari itu.

Iyah, aku pun menyadari kesalahanku di masalalu itu bukan sesuatu yang mudah untuk dimaafkan. Kau pun merasakannya, kegelisahanmu mungkin lebih tinggi dari kegelisahanku, hanya saja kau tidak mampu mengungkapkannya saja. Semoga itu tidak terlalu menyakitimu. Aku memang salah. Sekali lagi aku meminta maaf padamu. Itu semua hanya egoisku saja.

Cinta atau Ambisi

Halo Teman, 

Aku menonton film filosofi kopi tadi malam. El seolah ingin berkata pada Ban, "Pak Seno membuat kopi dengan cinta, sementara kau membuat kopi dengan ambisi." Aku mulai mengerti apa yang di katakan El waktu itu dalam film filosofi kopi itu, itu sebenernya analog dengan sikapku padamu waktu itu. Satu setengah tahun yang lalu Buya berkata padaku, nggak usah mikirin cewek, mungkin dia bukan jodohmu. Tapi sebenernya memang siapa yang ingin memperistri dirimu. Sebuah penyesalan dalam diriku mungkin disalah tafsirkan oleh Buya.

Sejujurnya, aku sudah membuang hasrat untuk bisa bertemu dengan mu sejak lama. Aku tidak tahu, kau akan membaca surat ini atau tidak. Saya telah bepergian cukup jauh untuk menghilangkan trauma di kepala ini. Aku sebenernya tak mampu untuk menempuh jalan ini terlalu lama. Tapi, setidaknya tanggung jawab akan janjiku pada banyak orang memaksaku untuk mempertahankan nyawa ini untuk tetap dalam raga ini.

Iya, sejujurnya aku cukup kelelahan. Ketika semua telah hilang dari diriku, hanya tinggal jiwa ini yang belum kunjung pergi. Jiwa ini mengganjalku, tapi ganjalan itu memang Tuhan sengajai untuk menghukum aku karena dosaku yang aku lakukan padamu di masa lalu. Mungkin sudah bertahun-tahun aku meminta Tuhan memisahkan antara Jiwa dan Ragaku dalam kelelahan ini. Aku berdoa seperti itu, hanya agar semoga neraka maupun siksa kubur mampu menyibukanku dan melupakan traumaku waktu itu.

Aku, memang lemah. Tapi, sayangnya Tuhan masih belum berkehendak untuk memberiku kekuatan yang cukup untuk menyelesaikan ini. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Ilusi dan realitas semakin terlihat sama bagiku. Semoga Tuhan mengampuni kita, Astaghfirullah lil Mu'mini wal Mu'minat

Maaf

Aku minta maaf, atas segala yang membuatmu sedih. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Mungkin perasaanku sudah merasa aku telah melakukan yang terbaik. Tapi, aku menyadari bahwa kita sekarang terpisah cukup jauh. Tidak hanya jarak dalam konteks dimensi ruang dan waktu, tapi dalam konteks kesadaran. Jujur, seandainya waktu bisa terulang kembali, aku tidak akan melakukan kesalahan itu. Aku tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Mengenangmu mungkin hanya akan membuatu semakin menyesali kesalahan yang aku lakukan. Tapi, bagiku kau teman selamanya.

 Aku tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan takdir serumit ini. Aku mencoba untuk mengatasi kesedihanku dengan melakukan banyak kesibukan. Tapi, setiap kesibukanku selalu mengingatkan kesalahanku padamu waktu itu. Menyesal, jelas lah. Mungkin benar kata seorang guru Ibnu Arabi yang berkata, "Ketika kau menemukan madu, jangan lah kau kembali kepada cuka". Ini aku tafsirkan sebagai, carilah kebahagiaan baru dan lupakan kepedihan di masalalu. Tapi, mengapa dalam fikiranku berkata, "bagaimana denganmu?". Sejujurnya jika kau melupakan aku mungkin itu juga bisa mengurangi rasa sakit hatimu. Tapi, benarkah jembatan yang sudah dibakar tidak mampu untuk diperbaiki lagi. 

Aku selalu merenungkan bagaimana cara aku memperbaikkinya, percayalah walau aku nampak selalu berubah-ubah, kau tetap selalu menjadi temanku. Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahanku waktu itu.

Dendam dan Pengampunan


Maaf
Ini merupakan cerita yang terdapat pada jurnal Ibnu Arabi, mungkin tertulis dalam kitab yang bernama Futuhat al Makiyat, tapi saya membaca dari novel terjemahan Turki yang berjudul Musafir, penerbitnya mizan dan dikeluarkan pada tahun 2015.

Cerita ini bermula ketika Ibnu Arabi bertemu dengan seorang lelaki tua, yang konon dia adalah musuh dari guru pertama Ibnu Arabi. Karena Dia memiliki guru yang mempunyai dendam dengan orang tadi maka Ibnu Arabi mencoba untuk bersikap dingin padanya.

Pada malam harinya dia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan berkatalah dia pada Ibnu Araby. Mengapa kau bersikap dingin pada orang yang sama sama mencintai Rosul-Nya.

Setelah bangun Ibnu Arabi pergi ke orang tadi dan menceritakan semua mimpinya dan dia pun meminta maaf pada orang tadi. Orang tadi pun berkata pada Ibnu Arabi, "Mungkin ini juga pertanda buatku."

Pertaubatan sang Pembunuh Tuhan

Nietzche
Ini dia karangan konyol awal tahun ini. Aku tidak tahu kenapa menulis ini. Iyah saya melakukan ini asal nulis saja. Tapi banyak sih tulisan saya yang asal-asalan di blog ini. 

Nietzche, sang Pembunuh Tuhan. Karya nya mungkin merupakan karya yang cukup penting pada kemajuan eropa. Dengan dalih membunuh Tuhan Nietzche mencoba untuk memberikan kebebasan tertinggi dalam diri manusia. Tapi cerita ini berlanjut dari keterangan Choirul Muttaqin yang mengatakan bahwa Nietzche menjadi gila sebelum kematiannya. 

Banyak analisis yang beredar mengenai kegilaan Nietzche, mulai ditolak sama cewe yang disukainya, sampai dia yang mengalami kehidupan yang terlalu tragis sehingga tak sanggup lagi menjalaninya. Tapi menurut orang yang membaca Nietzche sang Pembunuh Tuhan (Choirul Muttaqin) sendiri, Nietzche sendiri menjadi gila karena dia menyadari bahwa kehidupan ini merupakan keberulangan abadi.

Wah, mungkin penyesalan Niezche untuk meningkatkan produktifitas dengan kebebasan, dengan cara membunuh Tuhan, telah disadarinya sebuah kesalahan. Sepertinya. Tapi, yang menarik disini adalah analisis saya, mungkin waktu sebelum kegilaan Nietzche, wahyu surat Al-Hadid ayat 22 mungkin turun kepadanya, keterangan bahwa "Hidup ini adalah sebuah gurauan." membuat sia-sia pembunuhan Tuhan yang dia Lakukan. 

Tuhan mungkin berkata pada si Nietzche, "Ngapain kamu bunuh saya, orang hidup ini cuma gurauan, ha ha ha." Dan Nietzche pun bersalah atas rencana pembunuhan Tuhan itu.

Senin, 28 Desember 2015

Entahlah Laila

Suatu hari Majnun bosan di rumah. Dia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke luar. Namun tidak sengaja hasratnya membawa dirinya untuk pergi ke taman dekat rumah Laila. Dalam imajinasinya Majnun bercakap-cakap dengan Laila.

“Laila, aku mencintaimu, tapi aku masih belum yakin aku benar benar mencintaimu atau tidak. Aku tahu kau pernah berkata bahwa sedari dulu kau tidak pernah mencintaiku”

“Kau masih belum mengerti Qais.” , Jawab Laila dalam imajinasi Majnun. Qais adalah nama sebenernya dari Majnun.

“Mengerti tentang apa Qais?”, heran Majnun

“Apakah kau belum mengerti bahwa wanita tidak mampu sejujur laki-laki, Qais?”, jawab Laila

“Maksudmu?”

“Aku pun mencintaimu, tapi harusnya kau telah memahami.”

“Tentang apa?”

“Aku mencintaimu. Tapi sikapmu yang terlalu berkorban untukku membuatku takut.”

“Takut akan apa?”

“Aku takut jika cintamu padaku adalah sebuah pedang terhunus, yang sewaktu-waktu dia akan membunuhmu.”

“Maksudmu”

“Aku tahu kau berkorban banyak padaku. Dan aku yakin kau tidak pernah merasa berkorban padaku. Tapi . . .”

“Kenapa?”

“Tapi . . . Andai kau mencintaiku, kau pun akan memahami bahwa kau tidak ingin juga aku berkorban padamu kan? Seperti itulah Qais, mengapa dahulu aku menolakmu. Aku takut kau akan terlalu berlebihan dalam cintamu padaku, walaupun aku sada bahwa tidak ada sesuatu yang berlebihan dalam cinta. Aku takut tuhan cemburu pada cintamu, dan dia memasukkanmu dalam kesakitan yang dahsyat. Walaupun aku tahu kau takkan merasakan sakit saat kau mencinta. ”

“Bukankah Tuhan juga yang membuatku mencintai dirimu Laila?”'

“Iyah, tapi kau mungkin harus belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu tentang dirimu maupun diriku.”

“Lalu apa?”

“Itu akan melenyapkanmu dalam kemabukan sehingga kau akan sirna dalam cinta itu. Kau mencintaiku, dan aku mencintaimu. Lalu jika kita saling mensirnakan diri kita lalu siapa yang akan menjadi pecinta dan mencintai?”

“Entahlah Laila”


 

Negeri Sinisme

Handsome Fox
Hari ini saya mencoba untuk mencari inspitari ke rumah Canggih Chandriana untuk mencari inspirasi untuk berkontemplasi sambil mendownload buku Fisika Dasar, Halliday Resnik. Saya tidak begitu mendapatkan inspirasi hingga saya melihat sesuatu yang baru di line saya. Saya membaca artikel tentang anti tesis dari sebuah permasalahan.

Namun saya menyadari bahwa antitesis merupakan sebuah penentu dari sebuah kejadian seperti yang pernah diungkapakan dalam filsafat Hegel. Setiap tindakan yang diperbuat merupakan sebuah peleburan dari tesis dan antitesis dari sebuah pemikiran.

Inilah yang membuat saya terinspirasi dengan tindakan orang yang membuat anti tesis tersebut. Sebuah Islam akan dilawan dengan kekafiran hingga orang mencapai titik tengah antara keduanya. Namun dengan ini Islam tidak mampu mencapai kesejatiannya akibat anti tesis, seperti bentuk kekafiran yang menghambat tesis tentang keislaman tersebut.

Sinisme, dalam yunani hal itu merupakan salah satu hasil dari pemikiran helenisme. Namun sinisme yang saya bahas kali ini merupakan sebuah anti tesis yang dipakai untuk membantah akibat sesuatu yang kita pandang tidak sesuai. 

Terserahlah, sebenernya saya ingin membahas ini lebih lanjut tapi lain kali saja, saya mau pulang saja.

Minggu, 27 Desember 2015

Fisika Lagi

Physics is like sex

Sekian lama aku mencarimu,
Ketika jiwa ini kian merapuh,
Ketika raga ini ingin berlabuh,
Ahh kayak syair naff ini

Tapi jujur sejujurnya
Hati ini kian gelisah
Semenjak engkau pergi
dari kontemplasiku

Fisika,
aku kembali kepadamu
kedalam kemabukan kita dulu,
Kita, aku dan kamu kan satu yah
he he he
jadi aku memanggilmu aku saja yah

Fisika, mari Aku bangun bersama
negeri ini dalam kemabukan Aku,
Maksudku kita,

Tahu gak kalau aku mencarimu
kian lama, hingga 6 tahunan
kian jauh, hingga sampai Bandung dan Wonosobo
Kian dalam, hingga sampai Filsafat dan Tassawuf
Ayo mabuk bersama lagi.

Pelajaran 3000 tahun

Dunia Sophie

Saat anda berfikir kemajuan di belahan dunia barat, khususnya eropa dipengaruhi oleh kesempurnaan bangsa barat. Buku ini sebenernya ingin menjelaskan beragam konflik pemikiran hingga barat menjadi sekarang ini. Mulai dari pengeksekusian Socrates karena tidak tahu apa-apa, pengucilan Spinoza yang mengeluarkan Wahdatun Wujudnya, Marx yang mencoba untuk meruntuhkan kapitalisme yang berkembang di eropa, hingga Sartre yang ingin menjelaskan bahwa kehidupan adalah skenario kosong. 

Mulai dari negara yang dipenuhi kegelapan dan mencoba untuk kembali ke dalam pencerahan. Bahkan hingga pembunuhan Tuhan dengan pelakunya Sartre maupun Fredrich Nietzche. Buku ini patut dipelajari untuk mereka yang tidak mau repot-repot membangun peradaban hingga 3000 tahun lamanya.

Project Argasoka#1 : Negara Instanisme

Kelinci
Tak disangka akhirnya setelah berkontemplasi lama, Project Argasoka dilanjutkan. Kali ini ada yang menarik, bibit cabai yang saya bawa dari Wonosobo niatnya akan saya bagikan kepada masyarakat di desa saya. Harapannya sederhana, semoga saja ini membantu mengurangi beban mereka untuk bisa membeli cabai. Tapi sebenarnya yang saya lawan dari ini adalah sikap apatisme terhadap teman sekitar desa.

Iyah, saya kembali ke desa saya dan dalam keadaan lumayan lelah. Ilmu yang saya bawa dari Wonosobo, coba saya terapkan di sini. Teringat tentang kisah Ustadz Yasin yang mencoba untuk melayani seluruh warga santri seorang diri. Namun hal itu memberikan pelajaran kepada saya tentang makna keikhlasan. Lagi pula dalam tulisan yang dibuat oleh Muhaji Fikriono, dia menyatakan bahwa keikhlasan adalah kebebasan tertinggi. Lah, karena saya pecinta kebebasan saya mencoba mengkombinasikan pemikiran Muhaji Fikriono dan Ustadz Yasin, sehingga munculah Project Argasoka ini.

Namun hal aneh memang sering terjadi, kali ini orang yang saya kasih bibit dan polybaag tidak mau menanam bibit cabainya. Padahal tinggal masukkin tanah sama pupuk. Namun hal yang menarik saya temukan sebelum itu, saya punya tetangga yang rajin bekerja namun hidupnya pas-pasan, dan ada yang malas bekerja namun hidupnya berkecukupan. Keterlemparan ini membuat saya tertarik untuk mengkontemplasikannya pada tulisan kali ini.

Banyak orang yang bekerja, asal dia bekerja, asal menggugurkan kewajibannya. Ada yang bekerja asal ada uang yang dia dapatkan. Namun ada bekerja yang penuh dengan antusias dan keistiqomahan. Pemikiran diatas, dalam dugaan saya adalah sebuah pemikiran yang muncul dari sifat instanisme terhadap hasrat yang muncul. Yang ditampilkan dalam benak mereka munkin bagaimana cara untuk mendapatkan kekayaan secepat-cepatnya sehingga dia menilai hasil akhir itu terlalu berlebihan, dan melupakan proses yang dilalui. Seperti tetangga tadi, seandainya saja dia melihat bahwa jika dia memanfaatkan bibit yang saya kasih dan menanamnya dengan istikomah mungkin itu bisa berbuah dengan manis. Lumayan jika harga 1 kg cabai minimal 15 ribu, yang jika itu dipanen tiap hari bisa menutup pengeluarannya untuk makan keluarga.

Tapi dari kejadian itu saya menemukan permasalahan sosial yang melanda masyarakat Indonesia, yaitu sikap instanisme. Sifat itu membuat orang melakukan apapun untuk hasil yang baik, dan melupakan prosesnya. Maka dari itu masyarakat Indonesia kurang terlatih untuk bisa menghadapi situasi secara berseni.

Jumat, 25 Desember 2015

Kekosongan Tertinggi

Kekosongan 

Sebelumnya saya mungkin pernah menuliskan tentang aforisme cinta. Namun ini adalah kontemplasi lanjutan. Inspirasi ini muncul dari Muhaji Fikriono, seorang kontemplator ulung yang mencetak beragam buku tentang tassawuf dan sebagiannya. Muhaji Fikriono pernah berargumen bahwa Keikhlasan adalah sebuah kebebasan tertinggi yang dimiliki manusia. Hasrat akan sesuatu membuatn manusia terpenjara. 

Dalam artikel saya sebelumnya saya pernah menulis bahwa cinta adalah sebuah jenjang spiritual, seperti yang dikatakan oleh achmad Chodim. Untuk sampai pada jenjang ini seseorang harus mendalami dahulu ikhlas dan zuhud. Bukan hal gampang memang. Namun sebenernya perasaan seperti apa itu cinta?

Cinta merupakan sebuah fase kekosongan tertinggi dari umat manusia. Jika ikhlas adalah kebebasan tertinggi. Maka cinta adalah kosong yang paling kosong di dalam manusia, bahkan ungkapan "Aku cinta kamu." ini merupakan sebuah pertentangan dalam konsep cinta. Hal ini didasari oleh kita melihat kamu sebagai entitas lain dari aku. Dengan ini kita akan melihat dua existensi, dan ini menentang konsep ini.

Hasrat akan existensi diri biasanya sering mengaburkan makna cinta yang sebenernya. Menurut Jalaludin Rumi dalam Kitab Fihi ma Fihi, cinta adalah bentuk kefanaan. Ini sesuai dengan makna mengosongkan diri. Jadi kalau menurut Jalaludin Rumi, cinta tidaklah melahirkan kerinduan. Kerinduan muncul pada jiwa seorang pencari, bukan jiwa seorang pecinta. Dalam cinta, segalanya terasa kosong, namun hal ini bermakna segalanya memang isi. Isi dan kosong kan melebur menjadi makna satu, tunggal. Itulah yang membuat cinta itu agung, karena akan mampu menggabungkan sesuatu yang bertentangan. Atau sebuah kondisi yang akan memanunggalkan. Kalau dalam bahasa ustadznya itu mentauhidkan, atau dalam bahasa Indonesia adalah pengesaan.

Project Argasoka

Taman Ayun


Rencana ini saya mulai melatar belakangi kapitalisme dan apatisme yang mulai muncul di desa ini. Saya tidak tahu apakah di tempat lain ini terjadi atau tidak. Hal yang pertama adalah saya menanam pohon cabai dan memelihara kelinci. Hal ini saya maksudkan agar orang bisa memetik gratis cabai yang saya tanam. Atau saya memelihara kelinci untuk dibagikan kepada masyarakat Desa Tegal Pingen ini sebagai modal mereka berusaha. Pasalnya kelinci merupakan hewan yang cukup cepat berkembang biak dan bisa dikonsumsi. Saya harap proyek argasoka ini bisa berjalan sesuai rencana, syukur lebih. Namun sebenarnya ada hal yang lain yang saya ingin kan. Yaitu kedatangan anda kesini untuk belajar bersama. Bisa tentang engineering, fisika, matematika maupun filsafat dan tassawuf. Yang lain juga boleh sih, tapi saya tidak terlalu jago karena saya jarang buku selain temanya itu.

Taman Argasoka ini saya terinspirasi dari Rahwana yang ingin membangun taman yang indah untuk Shinta, Argasoka konon keindahannya menyamai taman Firdaus di surga. Namun Taman Argasoka ini sekarang saya tujukan untuk anda yang ingin memperoleh kesejatian. Yaitu dengan berbagi, maupun dengan menelaah kehidupan dengan lebih mendalam. Ngitung-ngitung nunggu mati lah. Itulah kata Buya, yang memberikan nasehat ke saya bahwa kehidupan ini sejatinya hanya menunggu kematian saja.

Kalau mau datang silahkan saja ke Desa Tegal Pingen RT 05/ RW 01 no 53, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.


Tentang Pluralisme

Bhineka Tunggal Ika

Cerita ini bermula dari Sartre yang mengeluarkan statement bahwa “Manusia adalah neraka bagi manusia lainnya”, kalimat ini muncul karena Sartre berargument bahwa manusia yang lain menjadi pembatas kebebasan bagi manusia lainnya. Andaikan tidak ada orang lain seseorang bisa berekspresi bebas. Itulah makna yang sepertinya ingin disampaikan oleh Sartre.

Namun apakah benar kebebasan yang dipahami Sartre tersebut, hal yang menarik sebenarnya muncul dari seorang pemikir dari Indonesia, Muhaji Fikriono namanya. Dia menjabarkan bahwa keikhlasan adalah kebebasan yang tertinggi. Dia menjelaskan lagi bahwa dalam kehidupan ini keinginan merupakan penjerat atau penjara bagi manusia itu sendiri.

Iwan Fals pernah menyairkan lagu dalam judul “Seperti Matahari”, dia pernah menuliskan bait syair seperti ini. Keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya didalam fikiran. Dari sini kita bisa mempelajari makna yang ingin di ajukan oleh Iwan Fals. Dan dilanjutkan lagi, ingin bahagia, derita didapat, karena ingin sumber derita.

Kebebasan merupakan sesuatu yang bisa dikatakan diagungkan oleh bangsa Liberal, khususnya negara-negara barat. Namun sebenarnya mengapa nilai kebebasan itu di hargai lebih oleh bangsa barat tersebut. Iyah, Pluralisme atau kebebasan berfikir. Pemikiran yang terbatas menciptakan pencapaian yang terbatas pula. Walau kisah di barat tidak se tenang di timur. Di barat pernah bermunculan zaman kegelapan, zaman renaisanche, zaman modern, zaman industri, namun mereka menyadari bahwa sikap menolak kebebasan berfikir merupakan salah satu penghambat perkembangan zaman. Kebebasan berfikir (Pluralisme) memang diperlukan, guna mencapai kebijaksanaan yang lebih matang.

Kalau kata Bapak Profesor di Masjid Salman, Kebebasan akan mendatangkan tanggung jawab. Dan tanggung jawab adalah salah satu modal untuk menjadi pemimpin. Untuk itu seorang pemimpin di negeri ini pun harus memiliki jiwa yang merdeka dan dengan jiwa yang merdeka itu akan menjadi insan yang bertanggung jawab. Itulah yang saya sebut sebagai sofokrasi, sebuah negara yang kebikjasaanya diambil dari sebuah hikmah.

Negeri Apatisme : Mana yang Perlu?

Apatisme

Hari ini saya melihat seorang ibu tua yang membawa dua orang anak. Saya tidak tahu itu cucunya atau apa. Namun dia melihat saya dengan senyuman, saya yang sedang sedih memikirkan masa depan saya. Namun senyuman wanita tua itu sontak memukul saya, dia yang masih mempunyai beban untuk menghidupi dua orang anak masih tersenyum padaku. Padahal aku yang hanya memikirkan diri sendiri tidak mampu bahagia.

Wanita selanjutnya datang membawa makanan untuk kambing dan membawa seorang anak. Saya melihat kelelahan di wajah ibu itu. Nenekku bertanya pada orang itu

“Lah kok nggawa anake ?”

“Iya kiye melu baen.”

Tidak hanya itu aku berjumpa dengan seorang tukang yang dulu dekat dengan saya. Di jalan aku bertemu dengannya dan saat aku berjumpa dengannya saya langsung bersalaman. Dia membawa sekarung rongsokan, dan dalam benakku dia adalah seorang tukang rongsok. Hal ini yang membawa saya pada kontemplasi “Negeri Apatis”.

Cerita di atas bertentangan dengan seorang pegawai negeri di daerahku. Dia tidak terlalu keras bekerja, kalau ada jadwal saja. Namun dengan penghasilannya dia bahkan bisa membelikan laptop yang mahal. Saya tidak mengerti andaikan saja uang yang dia pakai, dia gunakan untuk membeli laptop yang lebih murah saja. Paling tidak operating sistemnya diganti menjadi linux yang gratis, mungkin uang itu bisa membiayai wanita tadi, atau seorang tukang rongsok tadi.

Tapi ada yang lebih menarik lagi adalah kasus tadi pagi. Ibuku bercerita tentang seorang tetangga yang berhutang untuk membeli makanan. Dan berhutang lagi untuk menutup hutang sebelumnya dan untuk membeli makanan berikutnya. Hal ini sangat mengenaskan mengingat bahwa hampir semua orang mencela orang ini. Kata ibuku hampir se RT merasa nek dengan orang ini.

Berseberangan dengan yang lainnya, ada seorang tetanggaku yang suka naik haji. Kemarin puasa dia umroh. Dia merupakan orang terhormat di desa ini. Banyak pegawainya adalah orang sini. Banyak pula yang mendoakannya yang baik-baik.

Namun dari penilaian anda manakah yang lebih membutuhkan doa dan bantuan ? Apakah seorang haji membutuhkan sanjungan? Ataukah seorang penghutang membutuhkan celaan? Negara ini terlalu apatis dan kapitalis untuk bisa menilai sesuatu dengan lebih mendalam.

Kontemplasi Jurnal Sistem Informasi dan Telekomunikasi

Sistem Informasi

Setelah saya membaca buku Pembangunan Sistem Informasi dan Telekomunikasi, ada hal menarik yang saya akan tuliskan di sini. Buku tersebut merupakan sebuah jurnal dari pertemuan yang di hadiri oleh beberapa orang legendaris seperti Iskandar Alisyahbana, maupun Onno W. Purbo. Yang menarik dari hal tersebut adalah seseorang yang saya lupa namanya memberikan sambutan dan ada kalimat yang beliau utarakan bahwa “Kunci Pembangunan bukanlah pada uang yang dipegang oleh sebagian orang namun pada informasi yang tersebar secara menyeluruh.”

Project peluncuran satelit palapa merupakan hal mengesankan dan menjadi prestasi negeri ini karena Indonesia menjadi salah satu negara peluncur satelit yang pertama. Padahal hasil kerjasama dengan Belanda ini pernah ditentang oleh pemerintah Indonesia sendiri yang dahulu di kuasai oleh Soeharto.

Namun uniknya kini, ketika informasi menyebar, seolah Indonesia mengalami deskonstruksi pembangunan. Mulai dari kelaparan pengangguran atau sebagainya. Bagaimana ini bisa terjadi?
Padalah menurut konferensi tersebut tersebarnya informasi merupakan kunci dari pembangunan itu sendiri?

Iyah, informasi yang disebarkan itulah sekarang yang menjadi masalah. Kebanyakan media menyampaikan sesuatu yang membuat bangsa ini semakin konsumtif. Tujuannya sederhana, yaitu memperoleh uang. Sekarang ini informasi di Indonesia dikapitalisasi uang. Maksudnya orang yang mecari uang lalu memanfaatkan informasi sebagai alatnya. Lagi-lagi masalah mental, kalau jaman dahulu orang mendewakan kebebasan untuk bisa merdeka dari rezim Soeharto. Namun, kalau sekarang orang mendewakan uang supaya hidup lebih nyaman di masa depan. Setidaknya cukup sampai mati, atau anak cucu kelak. Sikap inilah yang membuat negeri ini semakin descontruktif akibat apatisme masyarakat yang akan terus melakukan kapitalisasi untuk memperoleh kenyamanan. Negara ini mungkin sudah merdeka dari penjajahan Belanda, Jepang, maupun Soeharto. Tapi masalahnya apakah bangsa ini sudah bebas dari kenyamanan (Uang atau Kekuasaan) ?


Rabu, 23 Desember 2015

Surat Ibnu Araby

Surat dan Tinta


Ini merupakan surat Ibnu Araby yang tercantum dalam kibat Futuhat al Makkiyat jilid yang ke empat.

Inilah surat wejangan dan permohonan yang kami tulis untuk Sultan Galib Keykavus, penguasa Rumelia dan Grecia. Untuk menjawab suratnya pada tahun 609 Hijriah.

Semoga Allah melanggegnkan keadilan Sultan Galib Biemtullah Izzedin. Pemerintahan tanpa keadilan akan menimbulkan ketidakbahagiaan di antara rakyat. Mereka yang berkuasa tidak boleh menindas bawahan mereka; sebaliknya, mereka harus menganggap diri sebagai pelayan yang berupaya memenuhi perintah rakyat. Sultan bersikeras mengundang kami ke istananya, tetapi rumah kami adalah pondokan darwis dan khanakah, bukan istana. Sultan menjabarkan kedaulatan harta benda dengan kata "Beka", tetapi kami berkata, "Pernahkah kau mengalami hari yang tidak berubah menjadi malam?" Kami mendoakan keadilan Sultan. Sejauh waktu dipertimbangkan olehnya Sultan tidak boleh lupa bahwa ia hanyalah bayang-bayang Allah yang dijatuhkan diatas khalayak. Perkembangan kekuasan dan kekayaan tidak boleh menuntunnya pada kesombongan dan keangkuhan. 

Orang yang paling menderita adalah mereka yang menilai diri mereka terlalu tinggi. Tugas Sultan adalah melindungi mereka yang terzalimi dari tiran. Beliau tidak pernah boleh lupa bahwa, seandainya pun manuisa menyembunyikan sesuatu dari dalam dirinya, Allah akan mengungkapkannya kepada semua orang, cepat atau lambat. Dunia hanyalah mimpi dan harta benda ragawi milik dunia adalah mimpi dalam mimpi, yang dikenal sebagai kekhawatiran yang tidak berdasar. Kuharap Sultan berjuang menghormati mereka yang percaya dan takluk pada kemahakuasaan Allah. Aku akan menyampaikan gagasan-gagasanku mengenai pemerintahan dalam risalah terpisah.

Surat Ibnu Arabi itu menarik untuk diambil hikmahnya.

Sumber :
Yalsizucanlar, Sadik. 2015 . Sang Musafir . Bandung : Mizan

Kamis, 17 Desember 2015

Ke-tidaksia-sia-an Dosa

Makanan India yang disebut sebagai Dosa
Saat kita melakukan dosa kita sering menanamkan pemikiran buruk tentang diri kita. Ini adalah tulisan yang akan membawa anda untuk tidak terlalu berputus asa ketika anda pernah melakukan dosa.

Dosa adalah sesuatu yang dilakukan atas pelanggaran kita terhadap Tuhan. Seperti halnya mencuri, menonton video porno atau sebagainya. Dosa terkadang membuat kita menjadi seseorang yang Self Destructif, karena kita merasakan betapa kotornya kita dan membuat kita menjadi sangat berputus asa. 

Ibnu Athailah pernah berpesan dalam kitab Al Hikam, "Sesungguhnya seorang pendosa adalah orang yang paling bisa menjadi ulama yang besar." Kalimat Ibnu Athailah itu terkesan rancu, namun penjelasan ini semoga akan bisa membantu anda. Saat seseorang melakukan perbuatan dosa orang akan mampu memahami dosa tersebut. Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh seorang Budha dalam Seishin Tekki Kyoyp, penderitaan hanya akan bisa dipahami oleh orang yang mengalami penderitaan. 

Dengan dosa yang pernah kita perbuat kita bisa melipat jarak antara kita dengan surga. Namun penafsiran ini jangan di tafsirkan secara mentah-mentah. Dengan kesalahan yang pernah kita perbuat kita memahami bahwa kesalahan tersebut tidak perlu untuk kita lakukan. Dan pemahaman akan kesalahan itu akan meningkat sehingga kita akan semakin memahami cara untuk tidak melakukan dosa. Namun ada hal yang lebih penting, yaitu kita akan lebih memahami bagaimana cara Tuhan bekerja untuk mengajari kita tentang sesuatu.

Ada sebuah cerita yang mengisahkan Abu Nawas, seorang ulama yang tinggal dalam zaman Harun Ar Rasyid. Seorang muridnya berkata pada Abu Nawas,

"Menurut guru, mana yang lebih baik, tidak melakukan dosa, melakukan dosa kecil atau melakukan dosa besar."

"Jelas, tidak melakukan dosa adalah baik, karena dengan itu kita taat padanya."

Murid kedua bertanya, "Menurut guru, mana yang lebih baik, tidak melakukan dosa, melakukan dosa kecil atau melakukan dosa besar."

"Melakukan dosa yang kecil itu baik, karena dengan dosa yang kecil taubat kita akan lebih sedikit"

Murid ketiga bertanya,  "Menurut guru, mana yang lebih baik, tidak melakukan dosa, melakukan dosa kecil atau melakukan dosa besar."

"Melakukan dosa besar itu baik, dengan itu kita bisa memahami besarnya pengampunan Allah."

Dari pertanyaan tiga orang murid Abu Nawas, saya harap anda bisa memahami apa yang saya tuliskan. Karena dosa bisa tidaklah sia-sia, karena dosa itu sendiripun rahmat Allah. Namun bagaimana kita akan menyikapinya. Intinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah.

Spiritualitas dalam Kemabukan

Dalam Wine ada Kebenaran
Kita sering mendengar bahwa ada orang yang memiliki kedalaman dalam pengetahuannya. Namun sebenarnya apa yang menyebabkan itu terjadi. Ini lah tulisan yang cukup menarik bagi saya. Bagaimana sebenarnya kalimat ini padahal kemabukan itu adalah sumber dari beragam petaka, katanya.

Cerita ini dimulai dari Jalaludin Rumi, dia sering menjelaskan dalam kitab Matsnawi. Dia menegaskan bahwa kondisi spiritualitas tertinggi adalah saat kita menyatu dengan hal yang kita dalami. Yang mengherankan lagi Jalaludin Rumi menjelaskan bahwa kondisi spritiual itu dicapai saat kita mengalami extase, atau dalam bahasa nyatanya adalah kemabukan.

Kalau menurut seorang pemikir, ada kalimat In Vino Veritas, kalimat ini kita translasikan dalam bahasa Inggris, in Vine, truth. Kalimat ini sangat aneh dan bertentangan padahal sesuatu yang memabukkan adalah sesuatu yang terlarang dalam Al-Quran ataupun dalam Hadis.

Tapi saat kita mendalami sesuatu kita akan hanyut dalam sesuatu itu. Itulah kondisi yang dimaksudkan oleh Jalaludin Rumi. Seperti halnya saat kita mencintai seseorang, seolah jiwa kita telah lenyap dan hanya yang dicita yang ada dalam benak kita. Itulah yang dimaksudkan cinta oleh Jalaludin Rumi, yaitu "Bentuk kefanaan diri dari pecinta atas wujud sang dicinta.". Kalau kita analisis menggunakan Heiddeger, kita akan bisa menafsirkan bahwa cinta adalah bentuk keterlemparan tertinggi yang dialami oleh seorang pencinta.

Namun cinta tidaklah sekedar seseorang dengan lawan jenis. Cinta kita terhadap Fisika, Matematika, maupun Tuhan akan membuat kita merasa seperti itu. Kita akan lenyap dalam apa yang kita cintai. Dan dalam bentuk kedalaman ini kita akan menemukan banyak hal yang luar biasa. Seperti halnya Einstein yang mencintai Fisika, dia lenyap dalam fisika itu sendiri. Dan sekarang dia menjadi rujukan banyak fisikawan di dunia. Inilah yang mendukung kalimat Ibnu Athailah as Sakandari dalam kitab Al-Hikam, "Idfin wujudaka fil ardil humuli fama nabata mima la yudfan la yatimu nata ijuhu", Maknanya, hanya yang mendalami sesuatu yang mampu mencapai prestasi yang tinggi.

Rabu, 16 Desember 2015

Kumohon Kehadiran-Mu

Eifel National Park
Tak masalah
Kau kataiku manusia kotor

Tak masalah 
Kau kataiku koruptor

Tak masalah
Kau anggap ibadahku
sebagai dosa

Tak masalah
Kau anggap dosa
orang lain sebagai ibadah

Tak masalah 
Kau tak terima taubatku

Tak masalah kau hancurkan
Dunia dan akhiratku

Satu saja
Kumohon 
Kau hadir dalam setiap Kegelisahanku

Selasa, 15 Desember 2015

Melihat sebagai sebab, Optimisme

Patung Aristoteles
Sering kita mengalami berbagai macam hal dalam kehidupan, seperti halnya sakit, bahagia, sedih, senang, kaya miskin. Kita beranggapan bahwa kita sakit misalnya karena sering merokok. Kita bahagia karena mendapat uang banyak. Kita sedih karena ditolak cewek atau sebagainya.

Pemikiran Aristoteles sedikit menarik, dia berfikiran bahwa segala sesuatu itu ada maksud dari tujuannya. Seperti kita telah belajar tentang daur ulang hujan. Kita akan berfikir jika ada pertanyaan "Mengapa hujan terjadi?". Sebagian dari kita akan berpendapat bahwa hujan terjadi karena air laut menguap. Dan uap terkumpul, hingga pada suatu ketika dia tidak mampu menahan air dari awan, sehingga air tersebut turun dari langit yang disebut sebagai hujan. Namun dalam pemikiran Aristoteles, dia menambahkan bahwa hujan terjadi karena juga harus menghidupi tanaman dan hewan yang ada di bumi. 

Pemikiran ini dapat memberikan kita motivasi ketika kita mengalami krisis yang besar. Dimana saat kita menganggap krisis itu  adalah sebuah akibat dari kesalahan atau yang lain, itu akan cenderung membuat kita menghadapi dunia secara pesimis. Dengan melihat yang terjadi adalah sebuah sebab dari sesuatu yang lain, bisa membuatmu menjadi lebih optimis. Maksudnya adalah kau bisa menghadapi dunia dari sesuatu yang ada. Bisa menyikapi sebuah krisis itu sebagai sebuah keuntungan atau kesempatan, ketimbang sebuah kerugian atau kesempitan.

Ide atau Prestasi

Bangunan 10 MIT

Saya mulai agak aneh melihat universitas besar seperti MIT ataupun Harvard mengikuti sebuah kompetisi. Mereka seakan tidak berminat untuk berkompetisi. Namun setelah saya telusuri lebih lanjut saya akhirnya memahami bahwa mereka tidaklah sedang memburu prestasi. Saya melihat mereka memburu sesuatu yang lebih menarik. Setelah saya pelajari lebih lanjut, yang dipublikasikan oleh mereka bukanlah sesuatu pencapaian dari hasil kompetisi. Mereka menganggap setiap Universitas itu sebagai sesuatu yang sama. Maksudnya kekalah ataupun kemenangan dari Universitas yang lain bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Mereka cenderung mencari sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang banyak, atau mendalami dirinya untuk mencari ide yang lebih cemerlang. 
Lebih berseni, itu yang aku tangkap dari mereka. Saat aku memahami perkuliahan tentang teknologi. Saya menyadari seberapun kita mampu menguasai teknologi. Kita hanyalah seorang pengguna teknologi. Seni memungkinkan kita untuk melakukan penciptaan, atau kalau bahasa seninya itu sebuah pengekspresian. Dari pada apa yang aku pelajari selama ini. Mereka cenderung belajar bukan untuk menguasai sebuah teknologi, tapi sebuah pengekspresian diri. Bentuk pengekspesian diri mereka ada dalam bentuk teknologi tulisan maupun sebuah trobosan.

Ini menarik, saat negara ini cenderung sebagai penguasa teknologi. Ha ha ha, negara seperti Jerman, Amerika, maupun negera maju lainya dalam bidang teknologi, mereka hakikatnya bukanlah menguasai teknologi, namun mereka berhasil mengekspresikan diri mereka dalam bentuk teknologi, tulisan, maupun trobosan.

Tentang seni, kita sering menganggap remeh kata "Seni", padahal sejatinya seni itulah sendiri yang menciptakan teknologi. Jadi sebenernya seorang engineer itu adalah Penguasa teknologi. Namun sejatinya seniman itu adalah pencipta teknologi. Teknologi maupun sains adalah sebuah karya seni, namun orang lebih suka memonopoli bahwa seni itu semata tentang lukisan, tarian, maupun musik. Jika sebuah negara ingin maju di bidang teknologi, sebaiknya negara tersebut merubah paradigma tentang seni yang sesungguhnya. Fisika, Matematika mapun yang lainyapun itu juga seni, dan teknologi itu adalah karya seninya.

Membangun dari Kesejatian


Membangun dari Kesejatian

Kita sering melihat dari negara-negara maju, bahwa mereka memiliki perekonomian yang kuat, teknologi yang tinggi, maupun pendidikan yang tinggi. Namun pernahkah kita mendalami lebih lanjut negara-negara tersebut, seperti halnya Jerman, Inggris, Perancis dan sebagainya. Saat kita kita meninjau negara-negara besar (yang dalam benak orang umum walaupun aku tidak mengakuinya secara total). 

Umumya orang berfikir bahwa negara maju mengembangkan pendidikannya terlebih dahulu, ekonominya terlebih dahulu, maupun teknologinya terlebih dahulu. Padahal yang membuat mereka maju adalah konsistensi mereka menjalani nilai yang mereka anut, atau yang disebut sebagai kesejatian. Anda mungkin tidak percaya, tapi coba kita lihat dari Yunani dahulu, Yunani menjadi negara yang paling maju dizamannya karena banyak pemikir-pemikir yang mendalami ilmunya, itulah yang dinamakan proses mencari kesejatian. Nilai yang sejati membuatnya tetap melangkah dengan konsisten apa yang harus dia lakukan. Hal ini menginspirasi orang untuk mengikuti kebudayaan orang yang telah mencapai kesejatian, maka dari itu negara itu menjadi anutan oleh negara lainnya.

Contoh kasus lagi Jerman, sekarang Jerman menjadi salah satu kiblat dari perkembangan teknologi. Namun berkaca dari Jerman, Jerman merupakan negara yang kalah perang di perang dunia ke dua. Namun apa yang menyebabkan negara ini sekarang menjadi kiblat teknologi? Jerman tetap konsisten menjalani kehidupannya dengan nilai-nilai yang dianutnya sepeninggalan Hitler. Iyah mungkin terkesan arogan, namun ketidak bergantungan mereka terhadap negara lain merupakan salah satu dampak dari kesejatian yang mereka peroleh setelah melakukan kontemplasi-kontemplasi yang mendalam dalam berbangsa dan bernegara.

Contoh yang paling dekat dengan kita adalah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW, mengalami kegelisahan saat bangsanya menjadi semakin terpuruk dalam kegelapan. Dia mencari kesejatian melalui Uzlah(semacam semedi dalam agama Hindu). Beliau menemukan kesejatiannya dalam kehidupan ini. Walau pada awalnya banyak yang menentang dirinya, namun kesejatian membuatnya konsisten menjalankan nilai-nilai yang dia bawa.

Dan para pemikir itu, pemikirannya dituliskan dalam bentuk tulisan. Seperti Nabi Muhammad SAW, yang terkenal dengan Al-Qur'an dan hadis, Nabi Musa dengan tauratnya dan sebagainya. 

Pemikiran dengan Tulisan


Dengan tulisan kita bisa saling membagi pengetahuan kita, sehingga kita akan bisa mampu mencapai kesejatian kita dalam waktu yang lebih singkat. Pemikiran yang dituliskan dalam tulisan, akan menjadi sejarah dan dipelajari dalam generasi berikutnya. Untuk itu mulailah membuat tulisan. Dan mari bangun negeri ini mulai dari kesejatian. Agar negara ini tidak bergantung lagi dengan bangsa-bangsa lainnya. Jika anda berminat, anda bisa bergabung dengan rahvanafaozi.com untuk menyampaikan ide-ide atau gagasan untuk membangun negeri ini. Negeri yang memiliki kesejatiannya. 

Contak : Facebook , Twitter, Gmail

Harapan dan Realitas Hume

Hume
Cerita ini dimulai ketika kita mengamati batu yang melayang-layang diatas udara bersama dengan seorang anak kecil. Siapakah yang akan menjadi tersentak aneh melihat hal itu. Pasti orang dewasa akan lebih tersentak kagum melihat batu yang melayang-layang diatas udara. Hal ini bukanlah hal yang didasari atas pemikiran realitas kita terhadap kehidupan namun atas harapan bahwasannya tidak mungkin sebuah batu melayang-layang di atas udara.

Kebanyakan kita masih menyimpan kekaguman yang berlebihan akan sesuatu hal yang baru. Hal ini dipengaruhi oleh pemikiran kita yang mengharapkan sesuatu, dari kebiasaan yang telah terjadi. Iya, faktor kausalitas memang sebenernya dipengaruhi oleh harapan kita akan sesuatu, bukan realitas yang terjadi sesungguhnya.

Perspektif tentang melihat sesuatu dengan harapan sesungguhnya kita telah merubah objek dengan sesuatu menjadi apa yang pikiran kita inginkan. Saat kita melihat gelas kita kan langsung menilai bahwa itu adalah tempat minum, padahal untuk orang yang tidak pernah minum dengan gelas, semisal dia boker di dalam gelas, mungkin gelas tersebut akan terlihat seperti toilet.

Hume juga menjelaskan bahwa kehidupan ini terjadi secara probabilistik, tidak secara deterministik. Sebagian orang terkadang mengeneralisir sesuatu hal yang sebenernya tidak bisa di generalisir. Pemikiran Hume juga mengkritik tentang pemikiran kita yang sebenernya telah terkontaminasi oleh harapan yang kita tujukan, dan terkadang kita menanggapinya sebagai sebuah realitas.

Senin, 14 Desember 2015

Syair Keputusasaan

Icy

Tak mungkin saya menolak
Menolak takdir-Mu yang suci
Walau jiwa ini berlumpur 
Kemaksiatan dan dosa yang pekat
Takdir-Mu tetaplah suci

Tak mungkin Kau tidak penyayang
Walau sejatinya aku tak pantas disayang
Taatku sekedar formalitas untuk disanjung 
Tapi bukankan kasih sayang-Mu itu nyata?

Andai murka-Mu lebih besar dari rahman-Mu
Apa yang saya bisa perbuat?
Kuasaku sebatas keputusasaan ini
Kuasa-Mu melebihi luasnya antero jagad
Lebih tinggi dari langit ketujuh
Lebih dalam dari palung laut terdalam
Begitu juga kasih sayang-Mu
Begitu juga pengampunan-Mu

Kau tak mungkin salah
Jelas aku yang salah 
Andai kau tak maafkan, 
Saya bisa berbuat apa?

Kau mungkin takdirkan aku nikmat berlimpah
Namun apa daya
Kalau aku tak mampu menyadarinya
Kesedihanku bukan tak beralas
tapi segala alasan muncul dari diri-Mu

Saya bisa apa?
Yang saya minta hanya satu,
Jadikan saya menerima,
Menerima surga
Jika itu yang kau beri
Menerima neraka 
Jika itu yang kau beri

Menerima segala apa yang Kau beri
dan Menerima segala apa yang tidak Kau beri
Untuk itu Kau pasti sanggup.
Kalau  Engkau tak mau,
Aku harus minta sama siapa?

Manunggaling Kawula Gusti versi Spinoza

Spinoza
Manunggaling Kawula Gusti, karya fenomenal dari Syech Siti Jenar. Karya ini katanya dipengaruhi oleh pemikiran dari Jalaludin Rumi maupun Ibnu Arabi. Namun dari ranah eropa, salah satu pemikir paling berpengaruh dari zamannya, seangkatan dengan Rene Descartes, Spinoza namanya. 

Pandangan Spinoza merupakan salah satu pemikiran yang paling berpengaruh dalam Filsafat modern. Argumen Spinoza membuatnya dikucilkan oleh banyak orang. Spinoza berfikir bahwa Tuhan adalah alam itu sendiri. Dan kita merupakan bagian dari Tuhan. Pada pemikiran barat sebelumnya kita akan mendapati bahwa Tuhan dan makhluknya adalah sesuatu yang terpisah. Namun konsep dari Spinoza menjelaskan bahwa Tuhan menyatu dengan mahluknya sebagai substansinya. 

Kita pernah mendengar kalimat, "Tuhan lebih dekat dari urat nadi kita.", Kalimat tersebut mendukung teori yang diajukan oleh Spinoza. Pemikiran ini menjelaskan bahwa Tuhan sebagai substansi merupakan hal yang lebih dekat dari urat leher kita. 

Minggu, 13 Desember 2015

Pencarian dalam Keraguan, Descartes

Rene Descartes
Kesejatian merupakan hal yang masih menarik untuk diperbincangkan, kali ini saya mencoba pemikiran dari seorang bapak filsuf modern, Rene Descartes. Mungkin tulisan ini kurang mengupas tajam tentang pemikiran Descartes, dan mungkin tidak setajam silet.

Sekarang ini banyak bermunculan orang dengan label Islam KTP, tapi mungkin labelnya yang diproduksi banyak, atau mungkin memang orang dengan Islam KTP memang banyak. Kita sering menerima secara dogmatis bahwa Islam itu adalah ajaran yang paling benar. Begitu pula Nasrani, Yahudi dan lainnya. Padahal kita memiliki agama itu sendiri merupakan sebuah labeling juga dari orang tua (biasanya sih kalo saya amati di Indonesia). Maka dari itu Islamnya, gak beneran. Kristennya gak beneran. Maupun lainnya. Kalau dalam bahasa tassawufnya itu kurang sejati. Pemikiran dari Descartes ini bisa dijadikan metode untuk memperoleh kesejatian dalam beragama.

Seperti halnya kita membangun rumah, maupun membangun rumah tangga, kita sering meragukan bahan bangunan, maupun pasangan yang akan kita nikahi. Iyah, jelas pemikiran itu kita tujukan agar kita tidak salah pilih nantinya. Tapi sudahkah kita melakukan metode itu dalam hal lainnya? misalkan dalam beragama, bertanah air, maupun dalam mempercayai apa yang dosen kita katakan, atau bahkan pandangan pandangan umum, seperti kalimat "Rajin pangkal pandai."

Keraguan merupakan metode awal dalam proses mencari kesejatian, itulah kata Descartes. Argumennya sangat sederhana, dengan ragu maka kita befikir, dengan berfikir maka kita akan menjadi manusia pemikir, dan itu menjadikan bahwa "Aku berfikir maka aku ada." atau istilah kerennya "Cogito, ergo sum."

Dengan keraguan yang diusulkan oleh Deskartes ini hendaknya kita mencoba untuk meragukan segala hal agar kita berfikir.

Tentang Tuhan

Dalam pemikiran yang disampaikan oleh Descartes, pemikiran dan keberadaan adalah sesuatu yang terpisahkan dan tidak saling berkaitan. Tapi saya masih belum memahami kadang pendapatnya juga aku bisa tafsirkan sebagai saling berkaitan. 

Menurut Descartes, entitas sempurna muncul dari pemikiran yang sempurna. Dalam benak Descartes, hanya entitas yang sempurna yang mampu memunculkan sesuatu yang sempurna. Kalau kita sering mendengarkan hadis, mungkin kita pernah mendengar kita bisa mengetahui Penciptanya dengan melihat ciptaanya. Sehingga dalam pemikiran Descartes, Tuhan ada hanya dengan pemikiran Tuhan. 

Mistisme di Asia

Ajaran keagamaan di asia memang lebih kental dari pada di eropa. Dalam asia banyak sekali sesuatu yang dogmatis. Namun hal ini bukan serta merta tanpa alasan. Walaupun banyak yang menyakini itu hanya sekedar ikut ikutan (dogmatis tanpa kontemplasi). Di asia keberagaman disatukan dalam kehidupan, berbeda dengan eropa yang memisahkan antara gereja dan pemerintahan. Namun yang dimaksud di asia adalah keagamannya, bukan pada kegerejaannya. Mohon dibedakan antara agama dan gereja yah. Ini seperti spiritualitas dalam kehidupan, dan syariat dalam kehidupan. Agama saya sambungkan dengan spiritualitas dan gereja saya kaitkan dengan syariat.

Dalam mistisme di asia, banyak sekali orang yang berkontemplasi hingga dia mencapai pada pemahaman dia adalah setetes air yang sedang bergerak menuju lautan, dan saat sampai pada lautan dia akan menyadari bahwa kehidupan ini adalah satu. (Ini tidak akan saya bahas lebih lanjut).   

Inilah yang melatar belakangi Imam Ghozali untuk melakukan kritik yang menerangkan bahwa agama adalah tentang syariat. Menurut Imam Ghozali agama merupakan spiritualitas dari syariat itu sendiri. Atau dalam bahasa sederhanaya, penghayatan tentang syariat. Namun sebagian orang sekarang lebih suka mentah-mentah menerima bahwa agama itu adalah berpakaian seperti arab.

Lah, kita kembali lagi dalam pemikiran Descartes. Untuk sampai pada penjiwaan tentang keberagamaan, hendaknya kita memunculkan sikap keraguan dalam kehidupan untuk mencapai pada kebenaran yang sejati. Tak cuma di kehidupan beragama, namun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan itu kita akan terus berfikir dan belajar.

Kezuhudan dalam Perspetif Yunani

Athena

Kezuhudan merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan. Konteks yang akan kita bahas kali ini merupakan perspektif kezuhudan dalam konteks yang di bawa oleh kaum Helenisme. Dalam dasar filsafat eropa. Helenisme dimulai ketika penaklukan dilakukan oleh Alexander Agung. Filsafat Helenisme masih dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang diajukan oleh Aristoteles, Socrates, maupun Plato.

Sinisme 

Pemikiran ini di mulai dari pemikiran Anthisthenes, Antisthenes merupakan seorang yang pernah berguru pada Socrates. Pemikiran ini dimula ketika Socrates pergi ke sebuah toko, kemudian Socrates berkata, "Banyak sekali barang yang tidak aku butuhkan di dunia ini.",

Kaum sinisme menekankan bahwa dalam memperoleh kebahagiaan sejati tidak terdapat pada kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati terletak pada ketergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Dan karena kebahagiaan didapat dari hal semacam ini maka semua orang bisa memperoleh kebahagiaan.
Kisah menarik muncul ketika Anthisthenes, sedang tiduran di dalam tong kosong. Dia hanya memiliki tong untuk hidupnya, kemudian datang Alexander Agung dan menawarkan sesuatu untuk dirinya. Anthithenes menjawab, "Tolong minggir dari sini kau menghalangi cahaya matahari ku.". Itu sesuatu yang menarik mengingat Alexander Agung merupakan raja. Dan dia cukup bahagia dengan tong itu.

Epicurean 

Pemikiran ini dimunculkan oleh Epicurus, Epicurus menjelaskan bahwa "Kebahagiaan tertinggi adalah kenikmatan." Epicurus menjelaskan lagi bahwa kebahagiaan tertinggi terletak pada kemampuan pada menahan kebahagiaan yang sementara. Analoginya seperti ini, kita menginginkan coklat, kemudian semua uang yang kita miliki digunakan untuk membeli coklat, apakah coklat itu akan tetap terasa nikmat. 

Epicurus menjelaskan bahwa dalam kehidupan, kebahagiaan itu terletak pada saat kita mampu menahan kebahagiaan sesaat dan memperoleh kebahagiaan yang lebih tinggi. Namun sering salah ditafsirkan sehingga pemikiran Epicurus ini di definisikan sebagai, "Dapatkanlah kebahagiaan sesaat."  Padahal kebahagiaan itu muncul dari kesabaran untuk menahan kebahagiaan yang sesaat.

Jumat, 11 Desember 2015

Kezuhudan, Ubermensch, dan Voidness

Ubermensch
Sebelumnya saya pernah menulis artikel tentang kezuhudan, Jangan Tinggalkan Syariat. Saya akan membahas tentang konsep kezuhudan yang dikonsepkan  oleh Ibnu Araby dengan menggunakan analisis Fredrich Niecthze, dan Voidness.

Ubermensch

Tulisan ini dimulai dengan artikel Jangan Tinggalkan Syariat tentang kezuhudan. Ibnu Araby menjelaskan bahwa yang dinamakan zuhud bukan berarti miskin namun sikap untuk tidak bergantung pada keduniawian. Selanjutnya konsep yang diajukan oleh Fredrich Niechtze. Niechtze menuliskan dalam bukunya bahwa manusia dibagi menjadi 3 golongan, yang pertama Golongan Unta, yang kedua golongan   singa, yang ketiga adalah golongan bayi.

Golongan unta, pada golongan ini manusia dianggap sebagai manusia yang apabila dia diberi beban maka dia akan menjadi semakin bahagia, seperti halnya seorang yang patuh akan peraturan, semakin peraturan kehidupanitu jelas, maka semakin orang tersebut menikmati kehidupannya.
Golongan Singa, adalah golongan yang selalu menentang apa yang diaturkan, semakin aturan itu jelas, maka dia akan semakin tersiksa, maksudnya akan semakin menentang dengan aturan. Jiwanya akan selalu dibawa untuk menolak sesuatu, berbeda dengan yang pertama yang selalu menerima sesuatu.

Dari kedua golongan tersebut, keputusan yang diambil oleh manusia merupakan pengaruh dari external. Nah, berbeda dengan golongan manusia yang ketiga, yaitu golongan bayi. Pada golongan ini manusia bergerah sesuai dengan keinginannya, dia mengikuti aturan karena dia ingin mengikuti aturan, dan dia menginggalkan aturan ketika dia ingin menginggalkan aturan. Dia tidak pernah terpaksa karena sesuatu, seperti layaknya bayi, jika dia ingin boker, maka dia akan boker, jika dia ingin nangis dia akan nangis. Menurut Nietchze, mental golongan pertama dan kedua merupakan mental cacat, karena itu terkontaminasi oleh pengaruh dari luar. Dan mental golongan ketiga disebut mental Ubermanch (bahasa inggrisnya Superman). 

Dengan analisa yang diusulkan oleh Fredrich Niethcze, kita akan menganalisis makna kezuhudan yang ingin disampaikan Ibnu Arabi. Kezuhudan sering diartikan sebagai hidup miskin, hidup tanpa nikah dan sebagainya. Namun, dengan konsep yang disampaikan oleh Fredrich Nietchze kita akan memahami bahwa kezuhudan merupakan sikap ketidakbergantungan kepada keduniaan, seperti itulah yang ingin disampaikan oleh Ibnu Arabi, walau dia kaya, dia bahkan mengatakan kepada muridnya yang mensodaqohkan semua hartanya sebagai orang yang terlalu ke-ndunnyan(terlalu bergantung kepada dunia), karena muridnya menginginkan kepala ikan.

Voidness

Selanjutnya, tentang kekosongan (Voidness) yang disampaikan oleh Zenisme, budhisme. Dalam Seishin Teki Kyoyo (Teknik Penyucian Jiwa), ada salah satu hal yang mendasar untuk bisa menjadi budhisme yang baik yaitu Voidness(kekosongan).  Jika anda sering menonton film Kera Sakti. Anda pasti sering mendengar kalimat "Isi adalah kosong, kosong adalah isi.". Kalimat Tong San Cong itu merupakan salah satu hal yang menarik, dan akan diperbincangkan kali ini.

Dalam cerita, Budha Sidharta Gautama, adalah seorang anak raja yang selalu hidup mewah. Dia selalu dikelilingi wanita cantik, anggur, emas, makanan enak dan sebagainya. Suatu hari dia melakukan kontemplasi, dan bertanya pada dirinya, "Benarkah kehidupan hanya sebegini saja?". Budha memutuskan keluar, dan akhirnya dia menemui banyak rakyat yang mengemis dan memohon uang. Dia memberikan uang dan semua orang mengerumuninya seolah tidak pernah memiliki uang.

Suatu hari dia mencoba hidup seperti pengemis dan meninggalkan kerajaan beserta kemewahannaya. Dia bertemu dengan orang yang selalu menyiksa dirinya, dan mereka berargument bahwa kehidupan memang seharusnya seperti ini. Budha mengikuti mereka dan merasakan penderitaan, serta menyiksa dirinya dengan tidak makan dan minum. Suatu hari, datang seorang pemusik yang berkata pada kawannya, "Kalau mau menyetel Kecapi, jangan terlalu kencang nanti putus, dan jangan terlalu kendor nanti suaranya tidak bagus. Dengan itu suara yang dihasilkan akan indah". Hal itu terdengar oleh Budha, dan Budha melakukan kontemplasi lagi, hingga kehidupan yang estetis bisa dia dapatkan dengan melalui keseimbangan.

Seperti itu juga yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali, bahwa dalam kehidupan untuk mencapai kenikmatan, dibutuhkan komposisi pas. Dengan mengkomposisikan ruh malaikat, ruh setan, dan ruh ilahiah secara tepat. Namun untuk bisa mengkomposisikan itu seseorang harus melihat nihil segala sesuatu hingga dirinya menampakan dirinya melalui dirinya dari dirinya sendiri. Inilah konsep kekosongan Budha dan persepsi komoposisi untuk mengestetiskan kehidupan.